Cireundeu, BERITA UIN Online – Guna memperingati Hari Bumi (Earth Day) yang jatuh pada 22 April 2018, pramuka UIN Jakarta menggelar aksi bersih-bersih sampah di kawasan wisata Situ Gintung, Cireundeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Selain membersihkan sampah, mereka juga menggalang dukungan peduli lingkungan dari warga untuk menandatangani spanduk yang disediakan.

Aksi bersih lingkungan dimulai pada pukul 07.00. Sebanyak 50 pramuka diterjunkan di kawasan wisata Situ Gintung, terutama di sepanjang jalan jogging track di mana para warga sekitar biasa melalukan olahraga pagi. Di sepanjang jalan itu, para pramuka memunguti sampah yang berserakan, baik sampah organik maupun non organik. Sampah lalu dimasukan ke kantong (crash bag) dan kemudian dibuang ke tempat yang semestinya.

Aksi para pramuka itu sempat mengundang simpati dan perhatian warga yang melintas. Beberapa warga yang peduli terlihat ikut juga membantu dan memunguti sampah.

Di saat bersamaan, sebagian pramuka membentangkan spanduk berukuran 1 x 4 meter di sisi jalan untuk ditandatangani warga. Penandatanganan spanduk dimaksudkan sebagai bentuk persetujuan warga mencintai lingkungan dan akan menjaga kebersihan di sekitar tempat wisata.

Koordinator aksi, Anita Rosmawati , mengatakan, aksi bersih sampah merupakan salah satu bentuk kepedulian pramuka terhadap lingkungan. Apalagi dalam pendidikan kepramukaan selalu diajarkan mengenai pentingnya menjaga dan cinta lingkungan sesuai dasa dharma kedua, yaitu cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.

“Cita-cita pramuka itu sederhana tetapi luhur. Contohnya ya memunguti sampah yang mengotori lingkungan ini,” ujarnya.

Menurut Nita (panggilan akrabnya, Red), Hari Bumi yang setiap tahun diperingati di seluruh Indonesia, dijadikan momentum bagi para pramuka UIN Jakarta dengan menggelar aksi simpatik membersihkan lingkungan. Kepedulian tersebut sekaligus untuk memberikan contoh bagi warga agar tidak membuang sampah sembarangan.

Bagi Nita, sampah bukanlah masalah yang sepele. Sebab, limbah rumah tangga maupun pabrik itu selain dapat mengotori lingkungan, juga sangat tidak sedap dipandang jika dibuang di sembarang tempat. Karena itu, ia mengimbau agar warga atau siapa pun, selalu membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya.

“Membakar sampah juga sebenarnya bukan solusi, karena hal itu justru akan menimbulkan masalah baru, yaitu pencemaran udara,” katanya.

Membuang sampah yang paling efektif, lanjutnya, salah satunya adalah dengan mengubur di dalam tanah. Namun, tidak semua sampah dapat dikubur, kecuali sampah organik yang mudah terurai. Jika sampah non organik, sebaiknya dimanfaatkan kembali, semisal menjadi barang-barang kerajinan yang menarik dan bersifat ekonomis.

“Sekarang ini kan banyak pengelolaan sampah. Ada bank sampah untuk non organik, ada juga sampah untuk kompos yang organik. Jadi, semua bermanfaat,” urainya. (ns)