Perhatikan Pendidikan Kecerdasan Spiritual Pada Usia Dini

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Auditorium Utama, UINJKT Online – Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Dr Sujarwo mengatakan, cakupan kecerdasan dalam tingkat majemuk terdiri dari delapan sifat seperti kecerdasan spiritual, kecakapan berbahasa, kecerdasan visual, dan kecerdasan seni.


“Namun itu semua bergantung dari lingkungan si-anak tinggal. Ada yang lingkungan baik, tapi dari segi yang diberikan orang tua sangat kurang,” kata Sujarwo dalam seminar nasional Pendidikan Anak Usia Dini dengan tema Mengembangkan dan Mengarahkan Anak dengan ‘Multiple Intelegence’ yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi (FPSi) di Auditorium Utama, Sabtu (30/5).

Bagi Sujarwo, dari segi cakupan keceradasan yang ada, kecerdasan spiritual salah satu yang paling penting. Di samping kecerdasan yang berkaitan dengan kejiwaan, agama, dan filosofi hidup. “Ketika kecerdasan spiritualnya rendah, itu akan memengaruhi keceradasan lainnya. Karena keceradasan spiritual merupakan pondasi yang terpenting,” jelas Sujarwo.     

Hal senada dikatakan pakar psikologi perkembangan UIN Jakarta Dra Zahrotun Nihayah Msi. Menurutnya, ada enam sifat agama pada anak, yaitu unreflective, egosentris, anthromorphis, verbalis-ritualis, iminatif dan rasa heran serta kagum.

“Dengan tentunya antara yang di ajarkan kepada anak, orang tua juga dapat mempratekannya. Sehingga menjadi contoh bagi anak,” ujar Zahrotun yang juga Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FPSi itu.   

Lebih lanjut Zahrotun menjelaskan, ada dua pengembangan kecerdasan spiritual. Pertama, fokus, yang di dalamnya terdapat rukun Iman dan Islam. Dan kedua, metode yang digunakan yaitu dengan kasih sayang dan stimulasi dini, menggunakan alat atau bahan sekitar, memberi contoh dan memberi kebebasan berfikir serta berbuat.  

Sementara itu dosen pendidikan anak usia dini Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Yuliani Nurani Sujiono MPd mengatakan, ciri anak sehat, cerdas ceria dan berakhlak mulia ditandai dengan penampilan fisik yang sehat, gerak-gerik yang energik dan kegiatan yang bertujuan.

Menurutnya, setiap anak memiliki pola irama perkembangan yang sangat individualis. “Karena itu beri kesempatan dan waktu yang berbeda, bergantung pada kemampuan yang anak miliki,” tuturnya.

Di samping itu, lanjut Yulilani, orang tua harus memberikan suasana kreatif, aktif, menyenangkan serta menciptakan suasana yang baik sehingga anak menjadi aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.     

Perhatikan Pendidikan Kecerdasan Spiritual Pada Usia Dini

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Auditorium Utama, UINJKT Online – Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Dr Sujarwo mengatakan, cakupan kecerdasan dalam tingkat majemuk terdiri dari delapan sifat seperti kecerdasan spiritual, kecakapan berbahasa, kecerdasan visual, dan kecerdasan seni.


“Namun itu semua bergantung dari lingkungan si-anak tinggal. Ada yang lingkungan baik, tapi dari segi yang diberikan orang tua sangat kurang,” kata Sujarwo dalam seminar nasional Pendidikan Anak Usia Dini dengan tema Mengembangkan dan Mengarahkan Anak dengan ‘Multiple Intelegence’ yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi (FPSi) di Auditorium Utama, Sabtu (30/5).

Bagi Sujarwo, dari segi cakupan keceradasan yang ada, kecerdasan spiritual salah satu yang paling penting. Di samping kecerdasan yang berkaitan dengan kejiwaan, agama, dan filosofi hidup. “Ketika kecerdasan spiritualnya rendah, itu akan memengaruhi keceradasan lainnya. Karena keceradasan spiritual merupakan pondasi yang terpenting,” jelas Sujarwo.     

Hal senada dikatakan pakar psikologi perkembangan UIN Jakarta Dra Zahrotun Nihayah Msi. Menurutnya, ada enam sifat agama pada anak, yaitu unreflective, egosentris, anthromorphis, verbalis-ritualis, iminatif dan rasa heran serta kagum.

“Dengan tentunya antara yang di ajarkan kepada anak, orang tua juga dapat mempratekannya. Sehingga menjadi contoh bagi anak,” ujar Zahrotun yang juga Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FPSi itu.   

Lebih lanjut Zahrotun menjelaskan, ada dua pengembangan kecerdasan spiritual. Pertama, fokus, yang di dalamnya terdapat rukun Iman dan Islam. Dan kedua, metode yang digunakan yaitu dengan kasih sayang dan stimulasi dini, menggunakan alat atau bahan sekitar, memberi contoh dan memberi kebebasan berfikir serta berbuat.  

Sementara itu dosen pendidikan anak usia dini Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Yuliani Nurani Sujiono MPd mengatakan, ciri anak sehat, cerdas ceria dan berakhlak mulia ditandai dengan penampilan fisik yang sehat, gerak-gerik yang energik dan kegiatan yang bertujuan.

Menurutnya, setiap anak memiliki pola irama perkembangan yang sangat individualis. “Karena itu beri kesempatan dan waktu yang berbeda, bergantung pada kemampuan yang anak miliki,” tuturnya.

Di samping itu, lanjut Yulilani, orang tua harus memberikan suasana kreatif, aktif, menyenangkan serta menciptakan suasana yang baik sehingga anak menjadi aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.