Perhatikan Pelaksanaan Ibadah Haji

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Gedung FDK, UIN Online – Direktur Eksekutif Lembaga Pendidikan Manasik Haji Indonesia (LPK MHI) Drs Ade Marfuddin MM menyebutkan, ciri haji mabrur yaitu gemar memberi makan, baik dalam berbicara, dan menebar kedamaian. Namun masalah mabrur atau tidak mabrur, tetap menjadi hal yang abstrak.

 

“Ia seperti puasa, diterima atau tidak puasa hanya mereka melakukannya yang tahu dan dengan Allah SWT,” kata Ade dalam Pelatihan Manajemen Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang diadakan Laboratorium Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) bekerja sama Jurusan Manajemen Dakwah (MD) di Ruang Teater, Senin (12/10).

 

Turut Hadir dalam kesempatan itu, Dekan FDK Dr Arief Subhan, ketua dan sekretaris Jurusan MD Drs Hasanudin Ibnu Hibban MA dan Drs Cecep Castrawijaya.

 

Ade menjelaskan, di samping calon jamaah haji mendapatkan seperti pelayanan dan perlindungan, tapi masalah pembinaan manasik haji kadang terlewatkan. Ia menyesalkan, KBIH yang kurang memperhatikan pemahaman dalam pelaksanaan ibadah haji.

 

“Ada jamaah Indonesia, melaksanaan sa’i dari marwa ke shofa, ini kan salah aturan. Harusnya dari shofa ke marwa. Bagaimana disebut mabrur jika pelaksanaannya kita kurang memahami,” jelas Ade yang juga dosen Strategi Pemasaran Haji dan Umrah FDK.

 

Terkait mampu atau tidaknya seseorang dalam melaksanakan ibadah haji, yang juga perlu diperhatikan adalah kuota. Meski mampu dalam keuangan, seseorang tidak langsung berangkat.  “Jika kuota tidak memenuhi, ya kita harus menunggu lima tahun kemudian. Ini bagian dari kemajuan manajemen penyelenggaraan ibadah haji,” ujar Ade. ()

Perhatikan Pelaksanaan Ibadah Haji

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Gedung FDK, UIN Online – Direktur Eksekutif Lembaga Pendidikan Manasik Haji Indonesia (LPK MHI) Drs Ade Marfuddin MM menyebutkan, ciri haji mabrur yaitu gemar memberi makan, baik dalam berbicara, dan menebar kedamaian. Namun masalah mabrur atau tidak mabrur, tetap menjadi hal yang abstrak.

 

“Ia seperti puasa, diterima atau tidak puasa hanya mereka melakukannya yang tahu dan dengan Allah SWT,” kata Ade dalam Pelatihan Manajemen Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang diadakan Laboratorium Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) bekerja sama Jurusan Manajemen Dakwah (MD) di Ruang Teater, Senin (12/10).

 

Turut Hadir dalam kesempatan itu, Dekan FDK Dr Arief Subhan, ketua dan sekretaris Jurusan MD Drs Hasanudin Ibnu Hibban MA dan Drs Cecep Castrawijaya.

 

Ade menjelaskan, di samping calon jamaah haji mendapatkan seperti pelayanan dan perlindungan, tapi masalah pembinaan manasik haji kadang terlewatkan. Ia menyesalkan, KBIH yang kurang memperhatikan pemahaman dalam pelaksanaan ibadah haji.

 

“Ada jamaah Indonesia, melaksanaan sa’i dari marwa ke shofa, ini kan salah aturan. Harusnya dari shofa ke marwa. Bagaimana disebut mabrur jika pelaksanaannya kita kurang memahami,” jelas Ade yang juga dosen Strategi Pemasaran Haji dan Umrah FDK.

 

Terkait mampu atau tidaknya seseorang dalam melaksanakan ibadah haji, yang juga perlu diperhatikan adalah kuota. Meski mampu dalam keuangan, seseorang tidak langsung berangkat.  “Jika kuota tidak memenuhi, ya kita harus menunggu lima tahun kemudian. Ini bagian dari kemajuan manajemen penyelenggaraan ibadah haji,” ujar Ade. ()