Pergi dan Pulang

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

PERNAHKAH Anda sadari bahwa rute seluruh aktivitas kita sehari-hari adalah perjalanan ”pergi dan pulang”? Pagi-pagi ada yang meninggalkan rumah untuk ke sekolah, kantor, pabrik, pasar, dan sekian banyak tempat lain.

Lalu siang atau sore hari, semuanya ramai-ramai pulang ke rumah. Sekalisekali silakan berimajinasi, Anda terbang bagaikan Batman berputar-putar di atas Kota Jakarta dan sekitarnya di pagi hari. Anda akan melihat gerakan massal manusia yang keluar dari rumahnya bagaikan barisan semut yang panjangnya puluhan kilometer keluar dari lubang tanah, lalu bergerak serentak menuju tempat kerja dan sekolah. Begitu beragamnya alamat serta tujuan mereka.

Namun semuanya disatukan oleh sebuah aktivitas, yaitu bergerak ”pergi” dan kemudian bergerak ”pulang”. Prosesi masif pergerakan manusia penduduk Jakarta dan tentu kota besar lain itu telah berlangsung puluhan tahun. Jumlahnya kian tahun kian besar sehingga menambah kemacetan. Sarana untuk kegiatan ”pulang dan pergi” kini juga semakin berkembang. Dulu manusia pergi meninggalkan gua menuju ladang atau pergi berburu hanya berjalan kaki. Lalu muncul gagasan baru, mereka memanfaatkan jasa kuda, unta, kerbau, dan hewan lain untuk dinaiki.

Dengan kemajuan teknologi, manusia modern berhasil menciptakan mobil. Untuk mengenang jasa hewan yang pernah dinaiki oleh nenek moyang kita, mobil-mobil itu diberi nama seperti Kijang, Kuda, Jaguar, atau Panther. Ada lagi jenis alat transportasi lain, yaitu pesawat terbang dan kapal laut.Semuanya memiliki fungsi utama untuk mempermudah kegiatan ”pulang dan pergi” dengan beragam muatan yang dibawa.

Menikmati Perjalanan

Ketika Anda membaca kolom ini pun pasti dalam situasi entah perjalanan pergi atau pulang, atau bersiap hendak pergi, atau baru saja pulang.Ketika sore atau malam hari tiba di rumah, kita pasti memiliki pengalaman, penilaian,dan kesan,apakah perjalanan hari ini indah atau tidak, nikmat atau menyengsarakan, bermakna atau sia-sia, menguntungkan atau merugikan, dan sekian penilaian lain?

Namun mungkin sekali ada yang tidak sempat merenung membuat refleksi atas apa yang terjadi hari ini. Ada yang sudah jenuh dengan kesulitan hidup, lalu berdamai dengan kesulitan itu.Ada lagi yang merasa hidupnya datar-datar saja tanpa problem, lalu semuanya dipandang biasa saja, tidak perlu melakukan refleksi dan introspeksi.

Hidup itu dijalani bagaikan air mengalir, entah airnya butek ataukah jernih, yang penting ikut saja kontur tanah dan parit. Namun, betulkah hidup manusia bagaikan air? Pasti tidak sama karena manusia hidup dengan perasaan, keinginan, imajinasi, cita-cita, rencana, dan manusia mesti bereaksi terhadap situasi macam apa pun yang dijumpai dalam perjalanannya.Reaksi itu akan sangat disadari ketika yang dihadapi adalah problem dan kesulitan yang mengganggu kelancaran aktivitas ”pulang dan pergi”.

Contoh sederhana, ketika jalanan lancar, kita akan biasa saja.Namun begitu jalanan hujan, macet dan banjir,reaksi emosional pasti muncul seketika. Begitu pun ketika terjadi musibah yang menimpa diri, perjalanan menjadi tidak biasa karena muncul kelainan. Pertanyaan, kapan kita merasakan keindahan setiba di rumah? Kapan kita merasa capai, sedih, dan murung sesampai di rumah?

Pasti jawabannya akan beragam.Namun secara garis besar, jika kendaraannya bagus, perjalanan lancar,target yang dikehendaki tercapai, berjumpa teman seperjalanan yang cocok untuk berbincang, lalu pulang membawa oleh-oleh untuk keluarga di rumah, pasti kita merasa senang melewati hari-hari itu. Terlebih lagi sampai di rumah sudah ditunggu keluarga dan teman-teman tercinta, lalu kita pun membawa oleh-oleh, maka suasana akan tambah membahagiakan.

Pertanyaan lebih lanjut, bukankah hidup kita ini juga sebuah paket ”pergi dan pulang”? Semua kita dalam situasi transisi, bergerak maju dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari, tahun ke tahun, yang berujung pada titik akhir yang merupakan batas absolut untuk mengakhiri jalan dan rute dunia, lalu kembali ke alam lain. Kembali ke kampung akhirat. Semua penghuni bumi ini tengah berjalan di atas lorong waktu yang tidak kenal mundur. Setiap saat waktu mendorong kita bergerak ke depan, langkah demi langkah, sampai take off dijemput pesawat malaikat maut.

Setiap menit ada jutaan anak manusia keluar dari gua rahim sang ibu, menambah panjang dan meriah konvoi yang berjalan menuju rumah Ilahi yang jauh dan mesti melewati gua alam kubur untuk meneruskan lagi perjalanan ”pergi dan pulang”. Secara nalar, kita tidak tahu, berangkat dari mana dan mau pulang kembali ke mana? Orang yang tidak jelas dan yakin asal-usul rumahnya pasti akan bingung dalam rute perjalanannya.

Secara lahiriah, hidup ini bukan pergi dan pulang, melainkan berawal dari peristiwa kelahiran, lalu diakhiri dengan peristiwa kematian. Kalau toh ada fase kehidupan sebelum kelahiran,nalar hanya mampu menelusuri ke belakang dan mentok sampai pada alam rahim ibu. Begitu pun kalau dikatakan di depan masih ada perjalanan lagi, nalar hanya sampai pada pengamatan dan pembuktian bahwa jasad manusia akhirnya hilang ditelan tanah.

Adalah ajaran dan keyakinan agama yang mengatakan, kita semua berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Tuhan adalah sangkan lan paraning dumadi. Tuhan bagaikan Sang Ibu yang Maha Kasih, Maha Rahim, yang selalu rindu dan menunggu kepulangan ”anak-anak-Nya”, yang kasih-Nya jauh melebihi kasih ibu kita. Ibarat pulang ke rumah, kita akan bergairah kalau yakin bahwa kita memiliki kerinduan dan hubungan cinta kasih dengan Tuhan. Kita tidak takut berjumpa Tuhan karena kita justru ingin membawa pulang ”oleh-oleh” kebajikan dan cinta kepada-Nya.

Perjalanan pulang ini juga akan terasa indah jika kita menemukan teman seperjalanan yang baik, saling menolong untuk memperbanyak bekal, serta teman berbincang sepanjang jalan kehidupan. Kita pasti punya pengalaman otentik, kapan sebuah perjalanan menimbulkan kenangan yang indah dan kapan sangat sakit kalau dikenang. Bayangkan, saat ini kita tengah berjalan kembali ke rumah Ilahi di akhirat.

Maka mari ciptakan kenangan yang indah ketika nanti kita kenang dan baca kembali serangkaian episode hidup kita. Jangankan sampai di akhirat nanti, saat ini pun ketika kita menengok ke belakang, terbuka lembaranlembaran hidup yang indah dibaca, ada pula yang bikin malu untuk dikenang kembali. Maka muncul istilah tobat, yang artinya kembali pada orbit yang lurus dan benar.

Jadi, ketika kita bekerja membanting tulang untuk membeli rumah mewah dan kendaraan,misalnya,sesungguhnya rumah tak lebih sebagai tempat transit sementara. Pada pagi hari kita pergi, sore hari pulang, dan itu berlangsung puluhan tahun. Yang abadi dan akan kita bawa pulang untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yang Tercinta, yang selalu kita sebut asma-Nya setiap waktu, adalah bingkisan amal saleh yang terekam dalam disket spiritual.

Iman dan amal itulah yang menjadi milik kita, yang senantiasa melekat, yang nanti akan di-print-out, sedangkan yang lain akan terlepas dan dilepas. (*)

Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 6 Februari 2009

Pergi dan Pulang

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

PERNAHKAH Anda sadari bahwa rute seluruh aktivitas kita sehari-hari adalah perjalanan ”pergi dan pulang”? Pagi-pagi ada yang meninggalkan rumah untuk ke sekolah, kantor, pabrik, pasar, dan sekian banyak tempat lain.

Lalu siang atau sore hari, semuanya ramai-ramai pulang ke rumah. Sekalisekali silakan berimajinasi, Anda terbang bagaikan Batman berputar-putar di atas Kota Jakarta dan sekitarnya di pagi hari. Anda akan melihat gerakan massal manusia yang keluar dari rumahnya bagaikan barisan semut yang panjangnya puluhan kilometer keluar dari lubang tanah, lalu bergerak serentak menuju tempat kerja dan sekolah. Begitu beragamnya alamat serta tujuan mereka.

Namun semuanya disatukan oleh sebuah aktivitas, yaitu bergerak ”pergi” dan kemudian bergerak ”pulang”. Prosesi masif pergerakan manusia penduduk Jakarta dan tentu kota besar lain itu telah berlangsung puluhan tahun. Jumlahnya kian tahun kian besar sehingga menambah kemacetan. Sarana untuk kegiatan ”pulang dan pergi” kini juga semakin berkembang. Dulu manusia pergi meninggalkan gua menuju ladang atau pergi berburu hanya berjalan kaki. Lalu muncul gagasan baru, mereka memanfaatkan jasa kuda, unta, kerbau, dan hewan lain untuk dinaiki.

Dengan kemajuan teknologi, manusia modern berhasil menciptakan mobil. Untuk mengenang jasa hewan yang pernah dinaiki oleh nenek moyang kita, mobil-mobil itu diberi nama seperti Kijang, Kuda, Jaguar, atau Panther. Ada lagi jenis alat transportasi lain, yaitu pesawat terbang dan kapal laut.Semuanya memiliki fungsi utama untuk mempermudah kegiatan ”pulang dan pergi” dengan beragam muatan yang dibawa.

Menikmati Perjalanan

Ketika Anda membaca kolom ini pun pasti dalam situasi entah perjalanan pergi atau pulang, atau bersiap hendak pergi, atau baru saja pulang.Ketika sore atau malam hari tiba di rumah, kita pasti memiliki pengalaman, penilaian,dan kesan,apakah perjalanan hari ini indah atau tidak, nikmat atau menyengsarakan, bermakna atau sia-sia, menguntungkan atau merugikan, dan sekian penilaian lain?

Namun mungkin sekali ada yang tidak sempat merenung membuat refleksi atas apa yang terjadi hari ini. Ada yang sudah jenuh dengan kesulitan hidup, lalu berdamai dengan kesulitan itu.Ada lagi yang merasa hidupnya datar-datar saja tanpa problem, lalu semuanya dipandang biasa saja, tidak perlu melakukan refleksi dan introspeksi.

Hidup itu dijalani bagaikan air mengalir, entah airnya butek ataukah jernih, yang penting ikut saja kontur tanah dan parit. Namun, betulkah hidup manusia bagaikan air? Pasti tidak sama karena manusia hidup dengan perasaan, keinginan, imajinasi, cita-cita, rencana, dan manusia mesti bereaksi terhadap situasi macam apa pun yang dijumpai dalam perjalanannya.Reaksi itu akan sangat disadari ketika yang dihadapi adalah problem dan kesulitan yang mengganggu kelancaran aktivitas ”pulang dan pergi”.

Contoh sederhana, ketika jalanan lancar, kita akan biasa saja.Namun begitu jalanan hujan, macet dan banjir,reaksi emosional pasti muncul seketika. Begitu pun ketika terjadi musibah yang menimpa diri, perjalanan menjadi tidak biasa karena muncul kelainan. Pertanyaan, kapan kita merasakan keindahan setiba di rumah? Kapan kita merasa capai, sedih, dan murung sesampai di rumah?

Pasti jawabannya akan beragam.Namun secara garis besar, jika kendaraannya bagus, perjalanan lancar,target yang dikehendaki tercapai, berjumpa teman seperjalanan yang cocok untuk berbincang, lalu pulang membawa oleh-oleh untuk keluarga di rumah, pasti kita merasa senang melewati hari-hari itu. Terlebih lagi sampai di rumah sudah ditunggu keluarga dan teman-teman tercinta, lalu kita pun membawa oleh-oleh, maka suasana akan tambah membahagiakan.

Pertanyaan lebih lanjut, bukankah hidup kita ini juga sebuah paket ”pergi dan pulang”? Semua kita dalam situasi transisi, bergerak maju dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari, tahun ke tahun, yang berujung pada titik akhir yang merupakan batas absolut untuk mengakhiri jalan dan rute dunia, lalu kembali ke alam lain. Kembali ke kampung akhirat. Semua penghuni bumi ini tengah berjalan di atas lorong waktu yang tidak kenal mundur. Setiap saat waktu mendorong kita bergerak ke depan, langkah demi langkah, sampai take off dijemput pesawat malaikat maut.

Setiap menit ada jutaan anak manusia keluar dari gua rahim sang ibu, menambah panjang dan meriah konvoi yang berjalan menuju rumah Ilahi yang jauh dan mesti melewati gua alam kubur untuk meneruskan lagi perjalanan ”pergi dan pulang”. Secara nalar, kita tidak tahu, berangkat dari mana dan mau pulang kembali ke mana? Orang yang tidak jelas dan yakin asal-usul rumahnya pasti akan bingung dalam rute perjalanannya.

Secara lahiriah, hidup ini bukan pergi dan pulang, melainkan berawal dari peristiwa kelahiran, lalu diakhiri dengan peristiwa kematian. Kalau toh ada fase kehidupan sebelum kelahiran,nalar hanya mampu menelusuri ke belakang dan mentok sampai pada alam rahim ibu. Begitu pun kalau dikatakan di depan masih ada perjalanan lagi, nalar hanya sampai pada pengamatan dan pembuktian bahwa jasad manusia akhirnya hilang ditelan tanah.

Adalah ajaran dan keyakinan agama yang mengatakan, kita semua berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Tuhan adalah sangkan lan paraning dumadi. Tuhan bagaikan Sang Ibu yang Maha Kasih, Maha Rahim, yang selalu rindu dan menunggu kepulangan ”anak-anak-Nya”, yang kasih-Nya jauh melebihi kasih ibu kita. Ibarat pulang ke rumah, kita akan bergairah kalau yakin bahwa kita memiliki kerinduan dan hubungan cinta kasih dengan Tuhan. Kita tidak takut berjumpa Tuhan karena kita justru ingin membawa pulang ”oleh-oleh” kebajikan dan cinta kepada-Nya.

Perjalanan pulang ini juga akan terasa indah jika kita menemukan teman seperjalanan yang baik, saling menolong untuk memperbanyak bekal, serta teman berbincang sepanjang jalan kehidupan. Kita pasti punya pengalaman otentik, kapan sebuah perjalanan menimbulkan kenangan yang indah dan kapan sangat sakit kalau dikenang. Bayangkan, saat ini kita tengah berjalan kembali ke rumah Ilahi di akhirat.

Maka mari ciptakan kenangan yang indah ketika nanti kita kenang dan baca kembali serangkaian episode hidup kita. Jangankan sampai di akhirat nanti, saat ini pun ketika kita menengok ke belakang, terbuka lembaranlembaran hidup yang indah dibaca, ada pula yang bikin malu untuk dikenang kembali. Maka muncul istilah tobat, yang artinya kembali pada orbit yang lurus dan benar.

Jadi, ketika kita bekerja membanting tulang untuk membeli rumah mewah dan kendaraan,misalnya,sesungguhnya rumah tak lebih sebagai tempat transit sementara. Pada pagi hari kita pergi, sore hari pulang, dan itu berlangsung puluhan tahun. Yang abadi dan akan kita bawa pulang untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yang Tercinta, yang selalu kita sebut asma-Nya setiap waktu, adalah bingkisan amal saleh yang terekam dalam disket spiritual.

Iman dan amal itulah yang menjadi milik kita, yang senantiasa melekat, yang nanti akan di-print-out, sedangkan yang lain akan terlepas dan dilepas. (*)

Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 6 Februari 2009