Perempuan Cegah Kerusakan Lingkungan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Dwita Yuswandari

FITK, UINJKT Online – Perempuan diyakini memiliki pengaruh besar dalam menyelamatkan lingkungan. Sebab, sampah terbanyak dihasilkan perempuan. Jika perempuan peduli pada lingkungan, mereka akan sangat membantu mencegah kerusakan lingkungan.

Pernyataan itu disampaikan Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta, Zarkasih Tanjung SPsi dalam seminar peringatan Hari Kartini dan Hari Bumi bertema Revitalisasi Peranan Perempuan dalam Pemberdayaan Lingkungan yang diselenggarakan BEM Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) di Ruang Teater FITK, Jumat (1/5).

Namun, lanjut Zarkasih, perempuan juga dapat menjadi penyebab kerusakan lingkungan jika tidak memiliki kesadaran terhadap dampak kerusakan lingkungan. “Wanita bisa jadi penyebab kerusakan lingkungan sekaligus penyelamat lingkungan tergantung kesadarannya terhadap dampak kerusakan lingkungan. Banyak wanita yang menjadi korban akibat lingkungan buruk salah satunya adalah penyakit kanker,” jelas Zarkasih.

Menurut Zarasih, kesadaran wanita terhadap dampak buruk kerusakan lingkungan bagi diri dan keluarga melahirkan gerakan ekofeminisme. Gerakan ini menjelaskan keterkaitan alam dan perempuan, yang menjadi titik fokusnya adalah kerusakan alam yang mempunyai keterkaitan langsung dengan penindasan perempuan dalam hal ini adalah dampak negatifnya. Alam sangat erat kaitannya terhadap kehidupan perempuan sehingga rusaknya alam menyebabkan peluang terhadap perempuan untuk melanjutkan kehidupannya semakin berkurang.

Salah satu dampak kerusakan lingkungan adalah global warming. Tapi ancaman itu dapat dicegah dengan menekan emisi buang dari kendaraan bermotor, mendaur ulang makanan dan minuman kemasan serta mengurangi pemakaian deterjen berlebihan.

Di samping itu, perempuan juga diharapkan dapat mencegah kerusakan lingkungan dalam mengkonsumsi berbagai produk gaya hidup dan kecantikan. “Jangan membeli sesuatu yang berasal dari pembunuhan atau penyiksaan makhlik hidup. Contohnya dengan membeli tas dari kulit bintang atau kosmetik dari unsur hewani,” tutur Zarkasih. [Nif/Ed]

Perempuan Cegah Kerusakan Lingkungan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Dwita Yuswandari

FITK, UINJKT Online – Perempuan diyakini memiliki pengaruh besar dalam menyelamatkan lingkungan. Sebab, sampah terbanyak dihasilkan perempuan. Jika perempuan peduli pada lingkungan, mereka akan sangat membantu mencegah kerusakan lingkungan.

Pernyataan itu disampaikan Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta, Zarkasih Tanjung SPsi dalam seminar peringatan Hari Kartini dan Hari Bumi bertema Revitalisasi Peranan Perempuan dalam Pemberdayaan Lingkungan yang diselenggarakan BEM Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) di Ruang Teater FITK, Jumat (1/5).

Namun, lanjut Zarkasih, perempuan juga dapat menjadi penyebab kerusakan lingkungan jika tidak memiliki kesadaran terhadap dampak kerusakan lingkungan. “Wanita bisa jadi penyebab kerusakan lingkungan sekaligus penyelamat lingkungan tergantung kesadarannya terhadap dampak kerusakan lingkungan. Banyak wanita yang menjadi korban akibat lingkungan buruk salah satunya adalah penyakit kanker,” jelas Zarkasih.

Menurut Zarasih, kesadaran wanita terhadap dampak buruk kerusakan lingkungan bagi diri dan keluarga melahirkan gerakan ekofeminisme. Gerakan ini menjelaskan keterkaitan alam dan perempuan, yang menjadi titik fokusnya adalah kerusakan alam yang mempunyai keterkaitan langsung dengan penindasan perempuan dalam hal ini adalah dampak negatifnya. Alam sangat erat kaitannya terhadap kehidupan perempuan sehingga rusaknya alam menyebabkan peluang terhadap perempuan untuk melanjutkan kehidupannya semakin berkurang.

Salah satu dampak kerusakan lingkungan adalah global warming. Tapi ancaman itu dapat dicegah dengan menekan emisi buang dari kendaraan bermotor, mendaur ulang makanan dan minuman kemasan serta mengurangi pemakaian deterjen berlebihan.

Di samping itu, perempuan juga diharapkan dapat mencegah kerusakan lingkungan dalam mengkonsumsi berbagai produk gaya hidup dan kecantikan. “Jangan membeli sesuatu yang berasal dari pembunuhan atau penyiksaan makhlik hidup. Contohnya dengan membeli tas dari kulit bintang atau kosmetik dari unsur hewani,” tutur Zarkasih. [Nif/Ed]