Perbedaan Budaya Pengaruhi Cara Berkomunikasi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Lindah

Gedung Pascasarjana, UIN Online - Perbedaan budaya berpengaruh secara signifikan terhadap proses komunikasi. Apabila aktivitas dan ritual yang sudah terbiasa dilakukan harus diperbaiki, maka mesti ada upaya yang dilakukan. Sebab akan berpengaruh terhadap budaya dan cara berkomunikasi.

“Hal ini merupakan elaborasi lebih lanjut dari teori Larry A. Samovar dalam Communication between Culture yang menyatakan bahwa komunikasi antara anggota subkultur dan kultur dominan tidak mudah dilakukan karena mereka memiliki latar belakang pengalaman dan budaya yang berbeda,” ujar Faizah dalam sidang promosi doktor dengan judul disertasi Dakwah Salafiyyah di Lombok: Suatu Kajian Komunikasi Antarbudaya di Sekolah Pascasarjana (SPs), Senin (12/7).

Faizah melanjutkan, komunikasi antarbudaya terjadi karena ada perbedaan budaya antara kultur dominan masyarakat Sasak dengan subkultur kelompok Salafi. Perbedaan ini memperkuat adanya perbedaan pemahaman keagamaan yang berimplikasi pada perbedaan pengalaman dan ritual keagamaan.

“Pemahaman masyarakat Sasak sangat dipengaruhi oleh budaya lokal yang telah ditransmisikan oleh para tuan guru dan tokoh masyarakat dalam waktu yang cukup lama. Sementara masyarakat Salafi, sangat dipengaruhi oleh faham-faham keagamaan yang berkembang di Timur Tengah, terutama faham Salafi-Wahabi,” ujar dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Mataram, Nusa Tenggara Barat ini.

Berdasarkan hasil penelitian Faizah, dakwah kelompok Salafi di Lombok menekankan usaha purifikasi atau pemurnian ajaran agama masyarakat Sasak. Dalam pandangan masyarakat Salafi, masyarakat Sasak telah banyak melakukan dan mengamalkan ajaran-ajaran agama yang telah menyimpang dari pemahaman salaf al-salih atau dalam terminologi Salafi disebut dengan bid’ah.

Sementara itu, masyarakat Sasak justru memunculkan persepsi dalam bentuk prasangka (prejudice). Masyarakat Sasak menganggap bahwa dakwah Salafi merupakan aliran sesat. Prasangka ini muncul dalam bentuk penarikan diri kelompok Salafi dari masyarakat Sasak serta intimidasi dan penyerangan masyarakat terhadap kelompok Salafi.

“Kita sebagai masyarakat yang beragama sudah tentu prihatin dengan adanya perbedaan pemahaman keagamaan ini,” kata Faizah yang memperoleh nilai yudisium 3,66 atau kumlaude ini.

Oleh karena itu, Faizah mengimbau kepada pemerintah, baik pusat maupun daerah agar diberikan perhatian serius. Sementara kepada kelompok Salafi dan masyarakat Sasak ia meminta agar memperbaiki komunikasi dalam berdakwah di beda budaya.

“Baik pemerintah pusat maupun daerah, khususnya Kabupaten Lombok Barat agar memberikan perhatian lebih terhadap pembinaan kolompok Salafi dan masyarakat yang rawan konflik. Dan bagi kelompok Salafi, hendaknya memperhatikan aspek budaya dan tradisi dalam berdakwah dan tidak bersifat eksklusif, karena hal ini akan berdampak pada ketersinggungan dan instabilitas sosial. Begitu pun pada masyarakat Sasak, hendaknya menahan diri dan mengutamakan cara-cara dialog dan persuasif, sehingga komunikasi antarbudaya menjadi elegan dan memiliki nilai dakwah,” tandas Faizah.

 

 

Perbedaan Budaya Pengaruhi Cara Berkomunikasi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Lindah

Gedung Pascasarjana, UIN Online - Perbedaan budaya berpengaruh secara signifikan terhadap proses komunikasi. Apabila aktivitas dan ritual yang sudah terbiasa dilakukan harus diperbaiki, maka mesti ada upaya yang dilakukan. Sebab akan berpengaruh terhadap budaya dan cara berkomunikasi.

“Hal ini merupakan elaborasi lebih lanjut dari teori Larry A. Samovar dalam Communication between Culture yang menyatakan bahwa komunikasi antara anggota subkultur dan kultur dominan tidak mudah dilakukan karena mereka memiliki latar belakang pengalaman dan budaya yang berbeda,” ujar Faizah dalam sidang promosi doktor dengan judul disertasi Dakwah Salafiyyah di Lombok: Suatu Kajian Komunikasi Antarbudaya di Sekolah Pascasarjana (SPs), Senin (12/7).

Faizah melanjutkan, komunikasi antarbudaya terjadi karena ada perbedaan budaya antara kultur dominan masyarakat Sasak dengan subkultur kelompok Salafi. Perbedaan ini memperkuat adanya perbedaan pemahaman keagamaan yang berimplikasi pada perbedaan pengalaman dan ritual keagamaan.

“Pemahaman masyarakat Sasak sangat dipengaruhi oleh budaya lokal yang telah ditransmisikan oleh para tuan guru dan tokoh masyarakat dalam waktu yang cukup lama. Sementara masyarakat Salafi, sangat dipengaruhi oleh faham-faham keagamaan yang berkembang di Timur Tengah, terutama faham Salafi-Wahabi,” ujar dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Mataram, Nusa Tenggara Barat ini.

Berdasarkan hasil penelitian Faizah, dakwah kelompok Salafi di Lombok menekankan usaha purifikasi atau pemurnian ajaran agama masyarakat Sasak. Dalam pandangan masyarakat Salafi, masyarakat Sasak telah banyak melakukan dan mengamalkan ajaran-ajaran agama yang telah menyimpang dari pemahaman salaf al-salih atau dalam terminologi Salafi disebut dengan bid’ah.

Sementara itu, masyarakat Sasak justru memunculkan persepsi dalam bentuk prasangka (prejudice). Masyarakat Sasak menganggap bahwa dakwah Salafi merupakan aliran sesat. Prasangka ini muncul dalam bentuk penarikan diri kelompok Salafi dari masyarakat Sasak serta intimidasi dan penyerangan masyarakat terhadap kelompok Salafi.

“Kita sebagai masyarakat yang beragama sudah tentu prihatin dengan adanya perbedaan pemahaman keagamaan ini,” kata Faizah yang memperoleh nilai yudisium 3,66 atau kumlaude ini.

Oleh karena itu, Faizah mengimbau kepada pemerintah, baik pusat maupun daerah agar diberikan perhatian serius. Sementara kepada kelompok Salafi dan masyarakat Sasak ia meminta agar memperbaiki komunikasi dalam berdakwah di beda budaya.

“Baik pemerintah pusat maupun daerah, khususnya Kabupaten Lombok Barat agar memberikan perhatian lebih terhadap pembinaan kolompok Salafi dan masyarakat yang rawan konflik. Dan bagi kelompok Salafi, hendaknya memperhatikan aspek budaya dan tradisi dalam berdakwah dan tidak bersifat eksklusif, karena hal ini akan berdampak pada ketersinggungan dan instabilitas sosial. Begitu pun pada masyarakat Sasak, hendaknya menahan diri dan mengutamakan cara-cara dialog dan persuasif, sehingga komunikasi antarbudaya menjadi elegan dan memiliki nilai dakwah,” tandas Faizah.