Perbankan Syari’ah Hadang Krisis Ekonomi Dunia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Prof Harun Nasution, BERITA UIN online, Pertumbuhan Ekonomi Syari’ah di Indonesia punya peluang positif di masa mendatang. Alasannya, Indonesia sangat potensial untuk pertumbuhan perekonoimian Syari’ah.  Selain berpenduduk mayoritas Islam, Indonesia dikenal sebagai pasar perdagangan dunia yang paling menarik.

“Indonesia punya potensi yang tinggi untuk pertumbuhan perbankan Syari’ah. Terlebih lagi setelah 2015 dengan adanya free trade negara-negara Asean,” ujar pengamat ekonomi Dr Hendri Saparini pada acara “Outlook  Perbankan Syari’ah 2012: Dua Dekade Menatap Sistem Perbankan Indonesia yang Lebih Baik “ di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Selasa (22/11).

Menurut  Hendri, terjangan dan dampak krisis ekonomi yang mendera Eropa dan Amerika Serikat (AS) diyakini tidak akan berimbas pada perekonimian Indonesia. Hal ini terjadi karena keberadaan perbankan Syari’ah-perbankan Syari’ah yang selama ini tahan krisis.

“Bagi negara ekonomi terbuka, krisis itu mesti berpengaruh. Bisa melalui sector keuangan, perdagangan, dan ekonomi. Tapi seperti pada tahun-tahun sebelumnya ekonomi perbankan Syari’ah cukup tahan efek  krisis ekonomi itu,” paparnya.

Direktur Economic Industry and Trade (Econit) itu menjelaskan, perbankan Syari’ah mampu menahan badai krisis ekonomi, karena selama ini perbankan Syari’ah punya komitmen yang kuat dengan Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM). Sektor inilah yang secara riil menopang perekonomian masyarakat. “Perbankan Syari’ah tahan dengan krisis global. Alasannya, selain sistemnya masih tradisional, juga tumbuh lebih baik,” kata peraih doktor di Universitas Tsukuba, Jepang.

Ditegaskannya, di sejumlah negara, seperti Malaysia, Iran, dan Pakistan. Perbankan Syari’ah tumbuh pesat dan mampu memberikan kontribusi bagai kesejahteraan masyarakatnya. Hal itu terjadi karena terdapat dukungan pemerintah dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.

Sementara Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum Prof Dr Amin Suma SH MA MM, menjelaskan, perbankan Syari’ah di Tanah Air memang punya peluang yang baik, Namun, sayangnya hal tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai untuk pengembangaan perbankan Syari’ah.

Menurutnya, dari hasil penelitian yang dilakukannya di enam perguruan tinggi di Jakarta, minat masyarakat terhadap perbankan Syari’ah masih rendah. “Mereka yang paham dengan perbankan Syari’ah juga belum banyak, “ katanya.

Padahal, lanjut dia, Indonesia berpenduduk mayoritas Muslim. Karena itu pula tidak heran jika perekonomian Syari’ah Indonesia tertinggal jauh dengan negara-negara lain. “ Dengan SDM yang handal maka diharapkan ada pemerataan kesejahteraan masyarakat,” harapnya.(Saifudin/Humas)