Tingkatkan Kualitas Ibadah Guna Menggapai Rahmah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Dr. Asep Saepudin Jahar, MA

Dr. Asep Saepudin Jahar, MA

Oleh: Dr. Asep Saepudin Jahar, MA

“Dengan cara memperbaiki dan perbanyak ibadah, maka kita akan mendapatkan faedah dan keutamaan bulan yang penuh Maghfirah”

Mari kita bersyukur, pada saat ini kita telah berada pada sepuluh hari kedua (pertengahan) di bulan Ramadan. Hal apa yang terkait dengan keagungan ramadhan? Muncul pertanyaan siapakah manusia yang akan masuk syurga? apakah mereka yang meninggal saat tertidur atau mereka yang mati syahid karena berperang dijalan Allah SWT.

Tentuya, akal sehat kita mengatakan mereka yang berjihad atau berperang dijalan Allah SWT kemudian meninggal, maka orang inilah yang akan masuk syurga. Namun, terkisah pada zaman Rasulullah SAW, terdapat dua sahabat yang turut berjihad di medan perang, salah satu dari kedua sahabat rasul tersebut gugur sebagai syuhada, sedang yang satu lagi meninggal setahun pasca perang berkobar, akan tetapi ialah yang diceritakan masuk syurga lebih dahulu, ketimbang sahabat yang gugur di medan perang.

Diceritakan sahabat Thalhah bin Ubaidillah. Pada suatu saat beliau bermimpi dua orang sahabat yang keduanya ikut berperang. Salah satunya meninggal di medan perang (syahid), sementara yang satu lagi meninggal biasa di tahun berikutnya bukan ketika berperang. Dalam mimpinya, Thalhah heran melihat sahabat yang meninggal biasa itu justru lebih dulu masuk syurga daripada sahabat yang mati syahid di medan perang. Hal ini diceritakan kepada para sahabatnya, dan para sahabat pun merasa karena tidak masuk akal. Kemudian bertanyalah mereka kepada Rasulullah SAW. Rasul menjawab “Bukankah yang meninggal biasa ini punya waktu setahun lebih lama? dan dia bertemu dengan bulan ramadan sehingga dia berpuasa, shalat, dan qiyamullail? perbedaan keduanya saat salah satu sahabat menemui bulan ramadhan, seperti jauhnya langit dan bumi”.

Gambaran ini menunjukan bahwa, bertemu dengan bulan ramadan memiliki peluang investasi ibadah yang luas dan lebih baik. Dengan di dalamnya memiliki lailatul qadr atau malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Hal ini menunjukan bahwa, ramadan ini bisa mengantarkan seseorang lebih dahulu masuk syurga.

Kita lihat bagaimana ulama salaf ketika menemui bulan Ramadan. Imam Syafii misalnya, enam bulan sebelum datangnya bulan ramadan dirinya telah berdoa kepada Allah supaya dapat dipertemukan dengan bulan suci ini. Selama bulan ramadan, imam Syafii telah mengkhatamkan alquran sebanyak 60 kali. Imam Malik meliburkan halaqahnya selama ramadan untuk bisa fokus beribadah di bulan ramadan.

Pertanyaan untuk kita semua adalah, apa yang mengganggu kita untuk tidak fokus selama bulan ramadhan? berapa banyak waktu yang kita sia-siakan hanya untuk sekedar tidur, ngobrol, ngopi, Shopping, dan berleha-leha?.

Kalau seseorang manusia berumur 80 tahun, maka tidak lebih dari 30 tahun yang digunakan untuk beribadah. Marilah kita betul-betul menjadikan bulan ramadhan ini sebagai bulan penuh makna.

Hal lain yang mengganggu kita untuk fokus di bulan ramadan adalah aspek jiwa. Di dalam diri manusia terdapat aspek hayawani, insani, dan nabati. Aspek yang “rajin” mengganggu kita ini adalah aspek nafsu hayawani yang kerap mengalahkan kekuatan akalnya. Ibnu Miskawaih mengatakan, akal ini atau jiwa muthmainnah yang biasa mendominasi nafsu hayawani itu sendiri. Cara berpakaian, makan, dan gaya hidup yang berlebihan ini melebihi hal yang menjadi kebutuhan. Kekuatan akal manusia inilah yang seharusnya bisa mengalahkan hawa nafsu.

Marilah kita manfaatkan 14 hari sisa bulan ramadhan ini dengan terus memperbaiki kualitas ibadah kita dengan memperbanyak tadlarus alQuran, dzikir, dan qiyamullail. Sehingga perjuangan untuk syahid dan menjadi insan kamil itu betul-betul ada.

Mudah-mudahan di bulan ramadhan ini mampu mengantarkan kita semua seperti para sahabat tadi yang lebih dahulu masuk syurga karena kualitas ibadahnya. Aamiin ya rabbal aalamiin.

Disarikan oleh Nur Jamal Shaid dari kultum Ramadhan Dr. Asep Saepudin Jahar, MA di Masjid Al-Jami’ah UIN Jakarta, Senin 20 Juni 2016.