Perbaikan Bidang Akademik Menuju World Class University

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Pada Kamis-Jumat (14-15) lalu, UIN mengadakan rapat kerja pimpinan (Rakerpim) di Syahida Inn. Tema yang diusung di rapat tersebut UIN Menuju 500 Universitas Top Dunia. Menurut  Pembantu Rektor Bidang Akademik Dr Jamhari untuk mencapai target tersebut diperlukan langkah dan perubahan dalam sistem akademik UIN Jakarta. Berikut petikan wawancara Nina Rahayu  dari UIN Online bersama peraih doktor antropologi dari Australian National University (ANU) ini di rung kerjanya, Senin (18/1).

Bisa dijelaskan sekilas program Anda di tahun lalu?

Di tahun lalu Bidang Akademik memfokuskan UIN agar bisa masuk dalam 500 universitas kelas dunia dan membenahi sistem akademik seperti Simperti, website, dan sistem pembayaran uang kuliah.

Bagaimana realisasi program Anda?

Ada yang sudah berhasil dan kurang berhasil. Yang sudah berhasil misalnya penataan prodi-prodi sesuai keilmuan dan pada tahun lalu itu sudah berhasil. Saya kira cukup sukses di pelayanan akademik misalnya pembangunan infrastrukturnya baru selesai dan di masa mendatang akan lebih baik dalam pelayanan akademik.

Apa program unggulan Anda di tahun lalu?

Program unggulannya itu tadi membuat UIN masuk ke 500 universitas kelas dunia, salah satunya penataan prodi, peningkatan mutu atau kualitas dan meningkatkan palayanan akademik, serta penataan infrastruktur perpustakaan.

Lalu, program Anda di tahun ini apa saja?

Masih sama dengan tahun lalu, tapi tahun ini kita memfokuskan pada tiga aspek yakni pelayanan akademik, perpustakaan, dan pelayanan internet seperti keluhan mahasiswa tentang KRS. Semua itu kita akan coba perbaiki di tahun ini. Perpustakaan secara maksimal mungkin perlu kita tambah satu lagi dan diperlebar gedungnya, misalnya yang di lantai bawah kita akan jadikan perpustakaan online.

Bagaimana dengan perubahan nomenklatur fakultas atau prodi?

Yang menjadi dasar perubahan ini kita ingin menambah keilmuan prodi dan nomenklatur sesuai dengan standar internasional. Jika kelak mahasiswa lulus dapat melanjutkan studinya baik di dalam maupun luar negeri. Dan jika bekerja sesuai bidangnya.

Kedua, dari sudut efisiensi ada beberapa jurusan yang secara keilmuan mempunyai kesamaan misalnya hubungan internasional dengan politik, sosiologi juga mempunyai karakter yang sama. Selama ini prodinya ada di beberapa fakultas dengan dikelompoknya prodi dalam satu fakultas maka itu juga akan menambah efisiensi.

Sejauh ini apakah ada hambatan dalam perubahan nomenklatur?

Saya kira hambatan yang signifikan tidak ada, relatif mudah walaupun memang perlu diskusi-dskusi dan menjelaskan beberapa dosen tentang perubahan ini.

Apakah ada perubahan kurikulum dan tenaga pengajar?

Kalau tenaga pengajar terus dilanjutkan. Kurikulum saya kira terus akan diperbaiki kita rencanakan FITK akan di-review kurikulumnya oleh universitas luar negeri sehingga mutu lulusannya sesuai standar internasional. Dengan demikian diharapkan mahasiswa lebih memiliki karakter keilmuan yang ditonjolkan sesuai dengan kajian bidangnya.

Kenapa Anda menginginkan UIN masuk 500 universitas top dunia?

Ya kita ingin UIN menjadi wakil dari universitas Islam di Indonesia, kita tahu bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Selama ini kita belum mempunyai universitas Islam bergengsi maka dengan masuknya UIN membuktikan eksistensi dan kemampuan SDM umat Islam. Dan dari UIN sendiri masuk 500 merupakan panutan bahwa mayoritas pengajaran dan pendidikan UIN ini harus sesuai standar internasional.. Jadi saya kira yang kita tuju adalah kualitas UIN sendiri. Insya Allah target tersebut akan tercapai. Siapa pun nanti yang akan menggantikan posisi pemimpin kampus ini kita bisa mempertahankan terus sehingga UIN masuk 500 universitas kelas dunia.

Selain mengubah tiga prodi, apakah ada rencana mengubah nomenkaltur prodi lain?

Ya sekarang ada beberapa jurusan yang masih tumpang tindih. Kalau saya sih inginnya ada perubahan nomenklatur prodi lagi misalnya di FITK, FSH, dan FAH ada beberapa prodi yang tidak cocok. Kemudian di FDK ada jurusan jurnalistik tapi secara keilmuan di kampus lain ada dua opsi dia bisa ikut ke FISIP misalnya di UGM dan UI. Atau mendirikan fakultas komunikasi sendiri. Nah, terus ada wacana bahwa FDK menjadi FIDKOM. Maka jurnalistik tetap di FDK.kita harus tahu bahwa perubahan nomenklatur untuk perbaikan mutu. Saya rasa jika sekarang ada perdebatan dan wacana itu merupakan wajar yang harus kita lalui. Yang kita inginkan adalah perbaikan alumni agar alumni mendapatkan ilmu sesuai keahliannya, jika ingin melanjutkan studi dan mau bekerja sesuai ilmunya. Kemudian di FSH ada prodi yang belum selesai yakni Siyasah Syariyah.

Menurut beberapa dosen prodi ini mirip dengan ilmu politik tapi setelah dipelajari itu ternyata lebih ke hukum Islam dan berbeda dengan ilmu politik seperti komunikasi politik, kampanye, propaganda dan sebagainya. Dan jika itu berbeda dengan ilmu politik tolong ditonjolkan. Jadi initinya dengan perubahan nomenklatur ini kita kembali ke akar semula bahwa prodi di desain untuk memintarkan mahasiswa sesuai dengan bidangnya. Dan perlu diketahui kita ini mengalami perubahan terus dari ADIA, IAIN, UIN. Saya kira perubahan itu wajar.

Hal apakah yang membedakan UIN Jakarta dengan uinversitas lain?

Tentunya ini terletak pada sisi keislamannya, kita tidak akan membatasi dan memberikan perbedaan pada ilmu umum,  perlu dicatat bahwa UIN mempunyai identitas dan karakter tersendiri, lulusan dari UIN minimal bisa membaca al-Quran dan bahasa Arab. Tapi secara keilmuan UIN mengikuti standar internasional. Serta perlu diketahui  semua ilmu itu brasal dan Allah dan al-Qur’an.

Apa harapan Anda kedepan?

Ya itu, kita ingin UIN masuk 500 universitas kelas dunia, dan berkelanjutan menjadi yang paling unggul, misalnya masuk 100 besar. Sebab kita punya potensi untuk itu. Kita mempunyai tenaga yang handal selama ini yang menjadi hambatan penataan dan yang paling penting keterlibatan semua pihak tidak hanya rektorat dan dosen, karena mutu kita ada di mahasiswa bagaimana mereka lulus kembali ke masyarakat. Mahasiswa juga diharapkan bisa bekerjasama dengan rektorat untuk mewjudkan cita-cita tersebut. [Nina Rahayu]

 

Perbaikan Bidang Akademik Menuju World Class University

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Pada Kamis-Jumat (14-15) lalu, UIN mengadakan rapat kerja pimpinan (Rakerpim) di Syahida Inn. Tema yang diusung di rapat tersebut UIN Menuju 500 Universitas Top Dunia. Menurut  Pembantu Rektor Bidang Akademik Dr Jamhari untuk mencapai target tersebut diperlukan langkah dan perubahan dalam sistem akademik UIN Jakarta. Berikut petikan wawancara Nina Rahayu  dari UIN Online bersama peraih doktor antropologi dari Australian National University (ANU) ini di rung kerjanya, Senin (18/1).

Bisa dijelaskan sekilas program Anda di tahun lalu?

Di tahun lalu Bidang Akademik memfokuskan UIN agar bisa masuk dalam 500 universitas kelas dunia dan membenahi sistem akademik seperti Simperti, website, dan sistem pembayaran uang kuliah.

Bagaimana realisasi program Anda?

Ada yang sudah berhasil dan kurang berhasil. Yang sudah berhasil misalnya penataan prodi-prodi sesuai keilmuan dan pada tahun lalu itu sudah berhasil. Saya kira cukup sukses di pelayanan akademik misalnya pembangunan infrastrukturnya baru selesai dan di masa mendatang akan lebih baik dalam pelayanan akademik.

Apa program unggulan Anda di tahun lalu?

Program unggulannya itu tadi membuat UIN masuk ke 500 universitas kelas dunia, salah satunya penataan prodi, peningkatan mutu atau kualitas dan meningkatkan palayanan akademik, serta penataan infrastruktur perpustakaan.

Lalu, program Anda di tahun ini apa saja?

Masih sama dengan tahun lalu, tapi tahun ini kita memfokuskan pada tiga aspek yakni pelayanan akademik, perpustakaan, dan pelayanan internet seperti keluhan mahasiswa tentang KRS. Semua itu kita akan coba perbaiki di tahun ini. Perpustakaan secara maksimal mungkin perlu kita tambah satu lagi dan diperlebar gedungnya, misalnya yang di lantai bawah kita akan jadikan perpustakaan online.

Bagaimana dengan perubahan nomenklatur fakultas atau prodi?

Yang menjadi dasar perubahan ini kita ingin menambah keilmuan prodi dan nomenklatur sesuai dengan standar internasional. Jika kelak mahasiswa lulus dapat melanjutkan studinya baik di dalam maupun luar negeri. Dan jika bekerja sesuai bidangnya.

Kedua, dari sudut efisiensi ada beberapa jurusan yang secara keilmuan mempunyai kesamaan misalnya hubungan internasional dengan politik, sosiologi juga mempunyai karakter yang sama. Selama ini prodinya ada di beberapa fakultas dengan dikelompoknya prodi dalam satu fakultas maka itu juga akan menambah efisiensi.

Sejauh ini apakah ada hambatan dalam perubahan nomenklatur?

Saya kira hambatan yang signifikan tidak ada, relatif mudah walaupun memang perlu diskusi-dskusi dan menjelaskan beberapa dosen tentang perubahan ini.

Apakah ada perubahan kurikulum dan tenaga pengajar?

Kalau tenaga pengajar terus dilanjutkan. Kurikulum saya kira terus akan diperbaiki kita rencanakan FITK akan di-review kurikulumnya oleh universitas luar negeri sehingga mutu lulusannya sesuai standar internasional. Dengan demikian diharapkan mahasiswa lebih memiliki karakter keilmuan yang ditonjolkan sesuai dengan kajian bidangnya.

Kenapa Anda menginginkan UIN masuk 500 universitas top dunia?

Ya kita ingin UIN menjadi wakil dari universitas Islam di Indonesia, kita tahu bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Selama ini kita belum mempunyai universitas Islam bergengsi maka dengan masuknya UIN membuktikan eksistensi dan kemampuan SDM umat Islam. Dan dari UIN sendiri masuk 500 merupakan panutan bahwa mayoritas pengajaran dan pendidikan UIN ini harus sesuai standar internasional.. Jadi saya kira yang kita tuju adalah kualitas UIN sendiri. Insya Allah target tersebut akan tercapai. Siapa pun nanti yang akan menggantikan posisi pemimpin kampus ini kita bisa mempertahankan terus sehingga UIN masuk 500 universitas kelas dunia.

Selain mengubah tiga prodi, apakah ada rencana mengubah nomenkaltur prodi lain?

Ya sekarang ada beberapa jurusan yang masih tumpang tindih. Kalau saya sih inginnya ada perubahan nomenklatur prodi lagi misalnya di FITK, FSH, dan FAH ada beberapa prodi yang tidak cocok. Kemudian di FDK ada jurusan jurnalistik tapi secara keilmuan di kampus lain ada dua opsi dia bisa ikut ke FISIP misalnya di UGM dan UI. Atau mendirikan fakultas komunikasi sendiri. Nah, terus ada wacana bahwa FDK menjadi FIDKOM. Maka jurnalistik tetap di FDK.kita harus tahu bahwa perubahan nomenklatur untuk perbaikan mutu. Saya rasa jika sekarang ada perdebatan dan wacana itu merupakan wajar yang harus kita lalui. Yang kita inginkan adalah perbaikan alumni agar alumni mendapatkan ilmu sesuai keahliannya, jika ingin melanjutkan studi dan mau bekerja sesuai ilmunya. Kemudian di FSH ada prodi yang belum selesai yakni Siyasah Syariyah.

Menurut beberapa dosen prodi ini mirip dengan ilmu politik tapi setelah dipelajari itu ternyata lebih ke hukum Islam dan berbeda dengan ilmu politik seperti komunikasi politik, kampanye, propaganda dan sebagainya. Dan jika itu berbeda dengan ilmu politik tolong ditonjolkan. Jadi initinya dengan perubahan nomenklatur ini kita kembali ke akar semula bahwa prodi di desain untuk memintarkan mahasiswa sesuai dengan bidangnya. Dan perlu diketahui kita ini mengalami perubahan terus dari ADIA, IAIN, UIN. Saya kira perubahan itu wajar.

Hal apakah yang membedakan UIN Jakarta dengan uinversitas lain?

Tentunya ini terletak pada sisi keislamannya, kita tidak akan membatasi dan memberikan perbedaan pada ilmu umum,  perlu dicatat bahwa UIN mempunyai identitas dan karakter tersendiri, lulusan dari UIN minimal bisa membaca al-Quran dan bahasa Arab. Tapi secara keilmuan UIN mengikuti standar internasional. Serta perlu diketahui  semua ilmu itu brasal dan Allah dan al-Qur’an.

Apa harapan Anda kedepan?

Ya itu, kita ingin UIN masuk 500 universitas kelas dunia, dan berkelanjutan menjadi yang paling unggul, misalnya masuk 100 besar. Sebab kita punya potensi untuk itu. Kita mempunyai tenaga yang handal selama ini yang menjadi hambatan penataan dan yang paling penting keterlibatan semua pihak tidak hanya rektorat dan dosen, karena mutu kita ada di mahasiswa bagaimana mereka lulus kembali ke masyarakat. Mahasiswa juga diharapkan bisa bekerjasama dengan rektorat untuk mewjudkan cita-cita tersebut. [Nina Rahayu]