Peran Pesantren Perlu Ditingkatkan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Syahida Inn, UIN Online – Keberadaan pesantren sebagai wadah memperdalam kajian ilmu keislaman hendaknya tetap dilestarikan. Peran strategis pesantren dalam menghasilkan kader bangsa yang berwawasan dan menunjukkan semangat terus belajar juga harus ditingkatkan.

“Karena itu selain jiwa sehat, pikiran pun harus juga sehat. Meskipun semua itu harus kita pelajari secara bertahap,” kata Duta Besar Indonesia untuk Libanon periode 2003-2006 Abdullah Syarwani SHI dalam seminar nasional bertema Pembangunan dan Pemberdayaan Pesantren yang diadakan Community of Santri Scholars of Ministry of Religion Affairs (CSS MoRA) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) di Syahida Inn, Sabtu (5/6).

Turut hadir dalam kesempatan itu Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof Dr Ahmad Thib Raya, Ditjen Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Dr Choirul Fuad Yusuf, Staf Khusus Kemendiknas Dr Son Kuswandi, dan perwakilan sejumlah mahasiswa se-Indonesia.

Menurut Syarwani, meningkatnya dunia pendidikan Islam di Indonesia merupakan bukti bahwa Islam memperhatikan perkembangan bidang-bidang ilmu. Baginya, pencerahan terhadap orang yang belum paham secepatnya perlu dibantu.

“Waspadai kejahatan yang dilakukan oknum tertentu, yang mengatakan Islam agama teroris. Makanya perlu pencerahan dan pencegahan yang harus kita lakukan,” ujarnya.

Syarwani berharap, para santri berperan dalam menyebarkan kasih sayang, mengubah paradigma penerima menjadi pemberi, berjiwa mendidik, selalu berfikir dan berdzikir, dan membiasakan diri untuk berbagi serta peduli.

Sementara itu, Litbang Kemenag RI Prof Abdurrahman Mas’ud mengatakan, keberadaan komunitas pesantren tidak diragukan lagi. Keberadaannya merupakan bagian dari masyarakat Sunni atau ahlu  assunnah wal jamaah.    “Faham Sunni dalam konteks ini, ditandai dengan kecenderungan orang menggunakan al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW sebagai sumber utama kehidupan,” jelasnya.

Peran Pesantren Perlu Ditingkatkan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Syahida Inn, UIN Online – Keberadaan pesantren sebagai wadah memperdalam kajian ilmu keislaman hendaknya tetap dilestarikan. Peran strategis pesantren dalam menghasilkan kader bangsa yang berwawasan dan menunjukkan semangat terus belajar juga harus ditingkatkan.

“Karena itu selain jiwa sehat, pikiran pun harus juga sehat. Meskipun semua itu harus kita pelajari secara bertahap,” kata Duta Besar Indonesia untuk Libanon periode 2003-2006 Abdullah Syarwani SHI dalam seminar nasional bertema Pembangunan dan Pemberdayaan Pesantren yang diadakan Community of Santri Scholars of Ministry of Religion Affairs (CSS MoRA) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) di Syahida Inn, Sabtu (5/6).

Turut hadir dalam kesempatan itu Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof Dr Ahmad Thib Raya, Ditjen Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Dr Choirul Fuad Yusuf, Staf Khusus Kemendiknas Dr Son Kuswandi, dan perwakilan sejumlah mahasiswa se-Indonesia.

Menurut Syarwani, meningkatnya dunia pendidikan Islam di Indonesia merupakan bukti bahwa Islam memperhatikan perkembangan bidang-bidang ilmu. Baginya, pencerahan terhadap orang yang belum paham secepatnya perlu dibantu.

“Waspadai kejahatan yang dilakukan oknum tertentu, yang mengatakan Islam agama teroris. Makanya perlu pencerahan dan pencegahan yang harus kita lakukan,” ujarnya.

Syarwani berharap, para santri berperan dalam menyebarkan kasih sayang, mengubah paradigma penerima menjadi pemberi, berjiwa mendidik, selalu berfikir dan berdzikir, dan membiasakan diri untuk berbagi serta peduli.

Sementara itu, Litbang Kemenag RI Prof Abdurrahman Mas’ud mengatakan, keberadaan komunitas pesantren tidak diragukan lagi. Keberadaannya merupakan bagian dari masyarakat Sunni atau ahlu  assunnah wal jamaah.    “Faham Sunni dalam konteks ini, ditandai dengan kecenderungan orang menggunakan al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW sebagai sumber utama kehidupan,” jelasnya.