Peradaban Muslim

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Sejak dua dasawarsa terakhir, ada euforia di kalangan Muslim sejagat tentang ‘kebangkitan peradaban Muslim’; atau bahkan ‘kebangkitan Islam’. Meski ada pencapaian tertentu yang membuat kalangan Muslim bisa optimistis tentang ‘kebangkitan peradaban’ tersebut; tapi dalam segi lain, cukup banyak pula gejala dan kecenderungan yang membuat pandangan tersebut boleh jadi lebih sekadar retorik daripada kenyataan.

Refleksi saya tentang perkembangan peradaban Muslim pada masa kontemporer itu menguat setelah mengikuti diskusi terbatas Institute for the Study of Muslim Civilization (ISMC), Aga Khan University, London, akhir Mei lalu. Memang, belum ada evaluasi dan assessment yang komprehensif tentang peradaban Muslim dewasa ini; tetapi setidaknya sejumlah observasi telah dilakukan, khususnya oleh ahli peradaban Muslim sendiri.

Secara demografis, jumlah kaum Muslim meningkat secara signifikan pada tingkat internasional. Diperkirakan jumlahnya lebih dari 1,3 miliar jiwa; berarti merupakan masyarakat agama kedua terbesar setelah Kristianitas. Dan peningkatan itu, terutama sebagai hasil dari pertumbuhan kelahiran, karena masih banyak kaum Muslimin yang tidak menjalankan keluarga berencana.

Dengan jumlah yang terus meningkat itu, kaum Muslim pada dasarnya memiliki potensi yang kian besar pula; tidak hanya untuk membangun peradaban Muslim, tetapi juga pada peradaban dunia secara keseluruhan. Tetapi, potensi itu belum bisa diwujudkan. Jumlah penduduk Muslim yang begitu besar belum dapat menjadi aset, tetapi sering lebih merupakan liabilities. Hal ini tidak lain, karena kebanyakan penduduk Muslim tinggal di negara kerkembang; atau bahkan di negara terbelakang, yang secara ekonomi menghadapi kemiskinan dan pengangguran yang jumlahnya terus meningkat seiring meningkatnya krisis energi dan pangan dunia.

Lebih dari itu, dengan kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang tidak menentu, maka pendidikan di kalangan kaum Muslim bukan hanya tidak kompetitif vis-a-vis masyarakat lain, tetapi bahkan sering di bawah standar. Banyak anak tidak mendapatkan pendidikan; terpaksa mengalami putus sekolah, yang akhirnya membuat mereka tidak punya masa depan untuk diri sendiri, apalagi peradaban Muslim dan peradaban dunia.

Memang, ada negara-negara Muslim kaya berkat minyak. Tetapi, pada segi lain, windfall dari naiknya harga minyak justru menambah beban negara Muslim kurang memiliki sumber daya alam; sebaliknya mereka harus menyubsidi negara kaya minyak tersebut. Dan, windfall yang diperoleh negara-negara Muslim kaya minyak itu tidak mengalir ke negara-negara Muslim miskin dalam bentuk grant atau investasi; jika ada, jumlahnya tidak signifikan, boleh dikatakan hanya berupa tetesan belaka.

Karena itulah, negara Muslim yang miskin atau tengah berkembang harus mengandalkan sumber lain; termasuk menambah utangnya dari negara atau lembaga keuangan Barat seperti World Bank dan IMF. Dan, ini tidak bisa lain hanya menambah ketergantungan pada pihak Barat, yang pada gilirannya memiliki implikasi ekonomis, politis, dan bahkan psikologis di kalangan umat Muslimin.

Salah satu dampak psikologis itu adalah menguatnya sikap mental konspiratif; para penguasa negara Muslim berkolaborasi dengan pihak Barat, misalnya saja, untuk mengembangkan ekonomi pasar yang liberal di negara Muslim dengan mengorbankan potensi ekonomi dalam masyarakat Muslim sendiri. Dampak lebih lanjut dari psikologi konspiratif ini dengan segera mengalir ke dalam kehidupan politik, dalam bentuk ketidakpercayaan pada rezim yang berkuasa, yang pada gilirannya mendorong berlangsungnya instabilitas politik.

Psikologi konspiratif lebih jauh lagi membuat kalangan Muslim khususnya sebagian ulama, pemikir, dan aktivis Muslim terperangkap ke dalam sikap defensif, apologetik, dan reaksioner; terpenjara ke dalam enclosed mindcaptive mind, mentalitas tertutup yang penuh kecurigaan dan prasangka. Akibatnya, kalangan Muslim seperti ini lebih asyik pula dalam masalah furu’iyyah, baik dalam bidang sosial, budaya, pemikiran, maupun keagamaan. Buahnya adalah keterjerambaban ke dalam tindakan dan aksi-aksi yang kurang produktif dalam upaya memajukan peradaban Muslim. atau

Karena itu, jika kita mau berbicara tentang kemajuan peradaban Muslim, sudah waktunya kaum Muslimin membebaskan diri dari psikologi konspiratif dan enclosed mind. Pada saat yang sama lebih menumbuhkan orientasi ke depan daripada romantisme tentang kejayaan peradaban Muslim di masa silam. Tak kurang pentingnya, kaum Muslimin seyogianya lebih mengonsentrasikan diri pada upaya-upaya kreatif dan produktif daripada terus dikuasai sikap defensif, apologetik, dan reaksioner yang sering eksesif.

 **Tulisan ini pernah dimuat di Harian Umum Republika, Kamis 12 Juni 2008

Peradaban Muslim

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Sejak dua dasawarsa terakhir, ada euforia di kalangan Muslim sejagat tentang ‘kebangkitan peradaban Muslim’; atau bahkan ‘kebangkitan Islam’. Meski ada pencapaian tertentu yang membuat kalangan Muslim bisa optimistis tentang ‘kebangkitan peradaban’ tersebut; tapi dalam segi lain, cukup banyak pula gejala dan kecenderungan yang membuat pandangan tersebut boleh jadi lebih sekadar retorik daripada kenyataan.

Refleksi saya tentang perkembangan peradaban Muslim pada masa kontemporer itu menguat setelah mengikuti diskusi terbatas Institute for the Study of Muslim Civilization (ISMC), Aga Khan University, London, akhir Mei lalu. Memang, belum ada evaluasi dan assessment yang komprehensif tentang peradaban Muslim dewasa ini; tetapi setidaknya sejumlah observasi telah dilakukan, khususnya oleh ahli peradaban Muslim sendiri.

Secara demografis, jumlah kaum Muslim meningkat secara signifikan pada tingkat internasional. Diperkirakan jumlahnya lebih dari 1,3 miliar jiwa; berarti merupakan masyarakat agama kedua terbesar setelah Kristianitas. Dan peningkatan itu, terutama sebagai hasil dari pertumbuhan kelahiran, karena masih banyak kaum Muslimin yang tidak menjalankan keluarga berencana.

Dengan jumlah yang terus meningkat itu, kaum Muslim pada dasarnya memiliki potensi yang kian besar pula; tidak hanya untuk membangun peradaban Muslim, tetapi juga pada peradaban dunia secara keseluruhan. Tetapi, potensi itu belum bisa diwujudkan. Jumlah penduduk Muslim yang begitu besar belum dapat menjadi aset, tetapi sering lebih merupakan liabilities. Hal ini tidak lain, karena kebanyakan penduduk Muslim tinggal di negara kerkembang; atau bahkan di negara terbelakang, yang secara ekonomi menghadapi kemiskinan dan pengangguran yang jumlahnya terus meningkat seiring meningkatnya krisis energi dan pangan dunia.

Lebih dari itu, dengan kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang tidak menentu, maka pendidikan di kalangan kaum Muslim bukan hanya tidak kompetitif vis-a-vis masyarakat lain, tetapi bahkan sering di bawah standar. Banyak anak tidak mendapatkan pendidikan; terpaksa mengalami putus sekolah, yang akhirnya membuat mereka tidak punya masa depan untuk diri sendiri, apalagi peradaban Muslim dan peradaban dunia.

Memang, ada negara-negara Muslim kaya berkat minyak. Tetapi, pada segi lain, windfall dari naiknya harga minyak justru menambah beban negara Muslim kurang memiliki sumber daya alam; sebaliknya mereka harus menyubsidi negara kaya minyak tersebut. Dan, windfall yang diperoleh negara-negara Muslim kaya minyak itu tidak mengalir ke negara-negara Muslim miskin dalam bentuk grant atau investasi; jika ada, jumlahnya tidak signifikan, boleh dikatakan hanya berupa tetesan belaka.

Karena itulah, negara Muslim yang miskin atau tengah berkembang harus mengandalkan sumber lain; termasuk menambah utangnya dari negara atau lembaga keuangan Barat seperti World Bank dan IMF. Dan, ini tidak bisa lain hanya menambah ketergantungan pada pihak Barat, yang pada gilirannya memiliki implikasi ekonomis, politis, dan bahkan psikologis di kalangan umat Muslimin.

Salah satu dampak psikologis itu adalah menguatnya sikap mental konspiratif; para penguasa negara Muslim berkolaborasi dengan pihak Barat, misalnya saja, untuk mengembangkan ekonomi pasar yang liberal di negara Muslim dengan mengorbankan potensi ekonomi dalam masyarakat Muslim sendiri. Dampak lebih lanjut dari psikologi konspiratif ini dengan segera mengalir ke dalam kehidupan politik, dalam bentuk ketidakpercayaan pada rezim yang berkuasa, yang pada gilirannya mendorong berlangsungnya instabilitas politik.

Psikologi konspiratif lebih jauh lagi membuat kalangan Muslim khususnya sebagian ulama, pemikir, dan aktivis Muslim terperangkap ke dalam sikap defensif, apologetik, dan reaksioner; terpenjara ke dalam enclosed mindcaptive mind, mentalitas tertutup yang penuh kecurigaan dan prasangka. Akibatnya, kalangan Muslim seperti ini lebih asyik pula dalam masalah furu’iyyah, baik dalam bidang sosial, budaya, pemikiran, maupun keagamaan. Buahnya adalah keterjerambaban ke dalam tindakan dan aksi-aksi yang kurang produktif dalam upaya memajukan peradaban Muslim. atau

Karena itu, jika kita mau berbicara tentang kemajuan peradaban Muslim, sudah waktunya kaum Muslimin membebaskan diri dari psikologi konspiratif dan enclosed mind. Pada saat yang sama lebih menumbuhkan orientasi ke depan daripada romantisme tentang kejayaan peradaban Muslim di masa silam. Tak kurang pentingnya, kaum Muslimin seyogianya lebih mengonsentrasikan diri pada upaya-upaya kreatif dan produktif daripada terus dikuasai sikap defensif, apologetik, dan reaksioner yang sering eksesif.

 **Tulisan ini pernah dimuat di Harian Umum Republika, Kamis 12 Juni 2008