Penumpang Kapal Kehidupan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

KAPAL kehidupan terus melaju. Kita sebagai penumpang tidak tahu persis kapan kehidupan di atas planet kapal bumi ini mulai berlayar dan kapan berhenti.

Yang kita tahu, tiba-tiba kita sudah berada di atasnya dan suatu saat mesti turun. Setiap menit anak manusia terlahir menambah jumlah penumpang, dan setiap menit pula ada yang turun,meninggalkan kapal dunia. Sebelum berada di sini, kita tidak tahu di mana roh kita berada,dan setelah turun kita juga tidak tahu ke mana selanjutnya mereka pergi. Ada yang berpandangan,kelahiran dan kematian adalah awal dan akhir kehidupan dan keberadaan manusia.

Sebelum dan sesudahnya tak ada kehidupan. Lahir sekali, mati sekali, titik. Tak ada yang namanya alam rohani.Manusia tak ubahnya pepohonan, bermula dari benih yang tumbuh, yang berujung pada kepunahan. Tetapi lebih banyak orang yakin dan percaya,dalam diri manusia ada dimensi kehidupan lain yang bersifat rohaniah, yang tak pernah dan tak kenal kematian.

Eksistensi roh tidak mengenal hukum kehancuran. Roh ini lahir dan bersama yang lain bergabung menjadi penumpang kapal kehidupan, dilengkapi jasad ragawi. Sungguh menarik mengamati dan merenungkan perilaku para penumpang kapal kehidupan ini, termasuk diri kita sendiri. Masingmasing telah memiliki jatah waktu dan umur,kapan mesti turun meninggalkan kapal ini.Kalaupun tidak rela turun dengan suka rela, pasti akan diturunkan dengan paksa dan menyakitkan.

Tetapi anehnya, banyak penumpang yang enggan turun. Mereka berusaha dengan berbagai cara agar selalu berada di atas kapal ini, meski badan sudah tua renta dan sakit-sakitan. Mereka mengingkari ketentuan Sang Pencipta dan Pemilik kapal kehidupan, bahwa setiap orang telah memiliki jatah, pada halte mana mesti turun.

Mau Rekreasi atau Berkelahi?

Mungkin Anda lebih akrab membayangkan kehidupan ini bagaikan pesawat terbang. Betapa singkatnya perjalanan ini, dan tidak semua penerbangan itu nyaman dijalani dan dirasakan.

Sering kali terjadi turbulensi yang membuat jantung berdegup ketakutan. Bayangkan ketika kita berada di airport internasional. Kita melihat dan bertemu beragam penumpang dengan warna kulit, asal-usul etnis, bahasa, kepentingan dan agama yang berbeda.Masingmasing mestinya menyadari adanya beberapa fakta hidup yang mesti diterima, yang bukan hasil usaha dan pilihan sendiri.

Misalnya,di mana dan kapan seseorang terlahir, serta apa warna kulitnya,pasti bukan pilihan kita. Itu takdir kehidupan. Begitu pun bahasa, tradisi dan agama, begitu seseorang terlahir semuanya sudah menyambutnya dan mengasuhnya sehingga bahasa dan agama seseorang pasti terbentuk oleh lingkungan primordial yang bukan pilihan sadarnya. Setelah dewasa bisa saja seseorang berganti nama,bahasa dan agama yang merupakan pemberian dan pembentukan orangtua dan lingkungan.

Tetapi pertanyaannya, seberapa jauh seseorang bisa keluar melepaskan pembentukan tradisinya? Rasanya tidak mudah, dan jumlahnya juga sedikit yang melakukan pemberontakan dan penyangkalan atribut primordialnya. Keragaman atau pluralitas atribut sosialantropologis itu mudah sekali dilihat dan kita rasakan ketika kita berada di airport kota besar dunia.

Bahwa penumpang kapal dan pesawat kehidupan ini benar-benar beragam. Masing-masing memiliki tiket dan agenda yang tidak selalu sama.Yang terjadi, kita bertemu dan berada di tempat yang sama hanya untuk sesaat saja. Dalam keragaman itu, dimensi apa saja yang mempertemukan dan menyatukan sesama anak manusia? Juga, faktor apa saja yang menjadi penyebab dan pemicu permanen timbulnya pertikaian?

Yang pertama, setiap manusia menghargai kehidupan, apa pun agama, bangsa dan bahasanya.Oleh karena itu, siapa pun yang menyia-nyiakan dan merampas hak hidup seseorang divonis bersalah dan dosa. Dosa di hadapan manusia dan dosa di hadapan Tuhan. Berangkat dari naluri untuk bertahan hidup dan memaknai serta menikmati kehidupan inilah,maka muncul kebudayaan dan peradaban.

Karena setiap manusia pada dasarnya ingin hidup nyaman dan damai, maka sesungguhnya setiap orang dan seluruh penghuni kapal kehidupan tidak menginginkan, bahkan mengutuk, pertengkaran, konflik, permusuhan dan terlebih lagi peperangan. Di mana pun terjadi, peperangan merupakan penyimpangan dan pengkhianatan nurani manusia yang fitri dan akan merusak suasana festival kehidupan di atas kapal kehidupan ini.

Karena setiap manusia ingin baik dan menjaga tertib di atas kapal yang kita tumpangi sesaat ini, maka setiap tindakan yang merusak prinsip-prinsip moral universal, apa pun agama, bangsa dan bahasanya,akan melukai kesadaran moral seluruh manusia. Karena fitrah kita juga mencintai keindahan, maka kita tidak senang jika terjadi perusakan tatanan kosmik yang indah dan teratur, pada tatanan alam maupun tatanan sosial. Jadi, secara ontologis, di atas semua perbedaan bahasa, budaya,bangsa dan agama serta kepentingan kelompok, terdapat sebuah kesadaran dan tuntutan laten manusia untuk menikmati pesiar kehidupan ini.

Hidup adalah anugerah yang mesti disyukuri. Hidup adalah festival yang mesti dirayakan. Oleh karena itu, jika terjadi deviasi dan pengkhianatan sekelompok penumpang kapal kehidupan yang merusak perdamaian dan melanggar hak-hak orang lain untuk hidup damai,seluruh penumpang kapal lain mesti melakukan ”amputasi” untuk memotongnya.

Bayangkan, apa jadinya kalau segelintir orang melakukan sabotase dengan merusak mesin kapal, membocori geladak kapal, mengamuk di dalam kapal, merampas jatah makan dan tempat sesama penumpang, sungguh suatu kezaliman yang mesti diberantas. Komunitas penumpang kapal kehidupan itu dalam skala yang besar adalah kita semua warga dunia yang menempel bergelayutan di atas kapal planet bumi yang mengapung di atas lautan angkasa tak bertepi.

Kita hanya sejenak naik lalu turun, tak ubahnya naik pesawat terbang. Kalau hendak diperkecil lagi, kapal itu adalah Indonesia yang kita huni bersama. Kita semua menjadi pemilik sah dan memiliki hak yang sama untuk hidup damai dan berkarya agar hidup yang singkat ini bermakna.

Menyadari betapa singkatnya jarak tempuh hidup ini, maka sungguh aneh, menggelikan dan sekaligus menyebalkan jika ada penumpang yang berperilaku aneh-aneh, baik itu sifatnya individu maupun berkelompok seperti halnya partai politik (parpol) dan calon anggota legislatif (caleg) yang saat ini ribut-ribut dan all out memenangkan pertandingan yang belum tentu hasilnya konstruktif bagi rakyat dan kebaikan Indonesia di masa depan.

Coba saja renungkan sendiri, apakah kita termasuk penumpang yang sopan, baik dan menyumbangkan sesuatu bagi sesama penumpang ataukah malah menjadi bagian dari problem yang mengganggu pesiar kehidupan?*

Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 9 Januari 2009

Penumpang Kapal Kehidupan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

KAPAL kehidupan terus melaju. Kita sebagai penumpang tidak tahu persis kapan kehidupan di atas planet kapal bumi ini mulai berlayar dan kapan berhenti.

Yang kita tahu, tiba-tiba kita sudah berada di atasnya dan suatu saat mesti turun. Setiap menit anak manusia terlahir menambah jumlah penumpang, dan setiap menit pula ada yang turun,meninggalkan kapal dunia. Sebelum berada di sini, kita tidak tahu di mana roh kita berada,dan setelah turun kita juga tidak tahu ke mana selanjutnya mereka pergi. Ada yang berpandangan,kelahiran dan kematian adalah awal dan akhir kehidupan dan keberadaan manusia.

Sebelum dan sesudahnya tak ada kehidupan. Lahir sekali, mati sekali, titik. Tak ada yang namanya alam rohani.Manusia tak ubahnya pepohonan, bermula dari benih yang tumbuh, yang berujung pada kepunahan. Tetapi lebih banyak orang yakin dan percaya,dalam diri manusia ada dimensi kehidupan lain yang bersifat rohaniah, yang tak pernah dan tak kenal kematian.

Eksistensi roh tidak mengenal hukum kehancuran. Roh ini lahir dan bersama yang lain bergabung menjadi penumpang kapal kehidupan, dilengkapi jasad ragawi. Sungguh menarik mengamati dan merenungkan perilaku para penumpang kapal kehidupan ini, termasuk diri kita sendiri. Masingmasing telah memiliki jatah waktu dan umur,kapan mesti turun meninggalkan kapal ini.Kalaupun tidak rela turun dengan suka rela, pasti akan diturunkan dengan paksa dan menyakitkan.

Tetapi anehnya, banyak penumpang yang enggan turun. Mereka berusaha dengan berbagai cara agar selalu berada di atas kapal ini, meski badan sudah tua renta dan sakit-sakitan. Mereka mengingkari ketentuan Sang Pencipta dan Pemilik kapal kehidupan, bahwa setiap orang telah memiliki jatah, pada halte mana mesti turun.

Mau Rekreasi atau Berkelahi?

Mungkin Anda lebih akrab membayangkan kehidupan ini bagaikan pesawat terbang. Betapa singkatnya perjalanan ini, dan tidak semua penerbangan itu nyaman dijalani dan dirasakan.

Sering kali terjadi turbulensi yang membuat jantung berdegup ketakutan. Bayangkan ketika kita berada di airport internasional. Kita melihat dan bertemu beragam penumpang dengan warna kulit, asal-usul etnis, bahasa, kepentingan dan agama yang berbeda.Masingmasing mestinya menyadari adanya beberapa fakta hidup yang mesti diterima, yang bukan hasil usaha dan pilihan sendiri.

Misalnya,di mana dan kapan seseorang terlahir, serta apa warna kulitnya,pasti bukan pilihan kita. Itu takdir kehidupan. Begitu pun bahasa, tradisi dan agama, begitu seseorang terlahir semuanya sudah menyambutnya dan mengasuhnya sehingga bahasa dan agama seseorang pasti terbentuk oleh lingkungan primordial yang bukan pilihan sadarnya. Setelah dewasa bisa saja seseorang berganti nama,bahasa dan agama yang merupakan pemberian dan pembentukan orangtua dan lingkungan.

Tetapi pertanyaannya, seberapa jauh seseorang bisa keluar melepaskan pembentukan tradisinya? Rasanya tidak mudah, dan jumlahnya juga sedikit yang melakukan pemberontakan dan penyangkalan atribut primordialnya. Keragaman atau pluralitas atribut sosialantropologis itu mudah sekali dilihat dan kita rasakan ketika kita berada di airport kota besar dunia.

Bahwa penumpang kapal dan pesawat kehidupan ini benar-benar beragam. Masing-masing memiliki tiket dan agenda yang tidak selalu sama.Yang terjadi, kita bertemu dan berada di tempat yang sama hanya untuk sesaat saja. Dalam keragaman itu, dimensi apa saja yang mempertemukan dan menyatukan sesama anak manusia? Juga, faktor apa saja yang menjadi penyebab dan pemicu permanen timbulnya pertikaian?

Yang pertama, setiap manusia menghargai kehidupan, apa pun agama, bangsa dan bahasanya.Oleh karena itu, siapa pun yang menyia-nyiakan dan merampas hak hidup seseorang divonis bersalah dan dosa. Dosa di hadapan manusia dan dosa di hadapan Tuhan. Berangkat dari naluri untuk bertahan hidup dan memaknai serta menikmati kehidupan inilah,maka muncul kebudayaan dan peradaban.

Karena setiap manusia pada dasarnya ingin hidup nyaman dan damai, maka sesungguhnya setiap orang dan seluruh penghuni kapal kehidupan tidak menginginkan, bahkan mengutuk, pertengkaran, konflik, permusuhan dan terlebih lagi peperangan. Di mana pun terjadi, peperangan merupakan penyimpangan dan pengkhianatan nurani manusia yang fitri dan akan merusak suasana festival kehidupan di atas kapal kehidupan ini.

Karena setiap manusia ingin baik dan menjaga tertib di atas kapal yang kita tumpangi sesaat ini, maka setiap tindakan yang merusak prinsip-prinsip moral universal, apa pun agama, bangsa dan bahasanya,akan melukai kesadaran moral seluruh manusia. Karena fitrah kita juga mencintai keindahan, maka kita tidak senang jika terjadi perusakan tatanan kosmik yang indah dan teratur, pada tatanan alam maupun tatanan sosial. Jadi, secara ontologis, di atas semua perbedaan bahasa, budaya,bangsa dan agama serta kepentingan kelompok, terdapat sebuah kesadaran dan tuntutan laten manusia untuk menikmati pesiar kehidupan ini.

Hidup adalah anugerah yang mesti disyukuri. Hidup adalah festival yang mesti dirayakan. Oleh karena itu, jika terjadi deviasi dan pengkhianatan sekelompok penumpang kapal kehidupan yang merusak perdamaian dan melanggar hak-hak orang lain untuk hidup damai,seluruh penumpang kapal lain mesti melakukan ”amputasi” untuk memotongnya.

Bayangkan, apa jadinya kalau segelintir orang melakukan sabotase dengan merusak mesin kapal, membocori geladak kapal, mengamuk di dalam kapal, merampas jatah makan dan tempat sesama penumpang, sungguh suatu kezaliman yang mesti diberantas. Komunitas penumpang kapal kehidupan itu dalam skala yang besar adalah kita semua warga dunia yang menempel bergelayutan di atas kapal planet bumi yang mengapung di atas lautan angkasa tak bertepi.

Kita hanya sejenak naik lalu turun, tak ubahnya naik pesawat terbang. Kalau hendak diperkecil lagi, kapal itu adalah Indonesia yang kita huni bersama. Kita semua menjadi pemilik sah dan memiliki hak yang sama untuk hidup damai dan berkarya agar hidup yang singkat ini bermakna.

Menyadari betapa singkatnya jarak tempuh hidup ini, maka sungguh aneh, menggelikan dan sekaligus menyebalkan jika ada penumpang yang berperilaku aneh-aneh, baik itu sifatnya individu maupun berkelompok seperti halnya partai politik (parpol) dan calon anggota legislatif (caleg) yang saat ini ribut-ribut dan all out memenangkan pertandingan yang belum tentu hasilnya konstruktif bagi rakyat dan kebaikan Indonesia di masa depan.

Coba saja renungkan sendiri, apakah kita termasuk penumpang yang sopan, baik dan menyumbangkan sesuatu bagi sesama penumpang ataukah malah menjadi bagian dari problem yang mengganggu pesiar kehidupan?*

Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 9 Januari 2009