Pengusaha Ajak UIN Jakarta Kelola Kebun Karet

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium NICT, BERITA UIN Online—Pengusaha nasional Arifin Panigoro mengajak kerja sama pengelolaan hutan karet kepada UIN Jakarta di beberapa daerah di Indonesia. “Kalau mau, UIN Jakarta bisa gabung sama kita mengembangkan hutan karet. Kita punya hutan karet di Papua, Lampung, dan lainnya,” ujar Arifin pada seminar bertajuk “The Spirit of Islamic Entrepeneur for Better Indonesia” di Auditorium NICT, Kampus 2 UIN Jakarta, Jl. Kertamukti No. 10, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (31/5).

Menurutnya, Indonesia adalah termasuk negara agraris terbesar di dunia, karena itu potensi pertanian harus dikembangkan. Banyak bidang pertanian di Indonesia yang tidak terolah dengan baik. Banyak lahan yang dibiarkan, sehingga menganggur dan tidak berfungsi.

“potensi hutan kita nomor dua di dunia setelah Brazil. Untuk perkebunan karet kita nomor satu di dunia. Tapi belum banyak dikelola dengan baik. Karena itu ini ada ptensi untuk mengembangkan bersama. Kita juga sudah mengajak beberapa perguruan tinggi,”katanya.

Jika potensi pertanian Indonesia tidak dikelola oleh bangsa Indonesia sendiri, sambung alumni Departemen Teknik Kelistrikan ITB itu, maka jangan salahkan banyak barang kebutuhan pertanian yang harus diimpor. “kedelai kita impor, daging, beras, dan lain-lainnya. Bahkan garam pun kita impor,”tegas Arifin.

Dengan membuka usaha perkebunan karet itu, kata dia, maka anak-anak  muda Indonesia dapat menjadi para pengusaha muda. “Ini harus ditanamkan dari sekarang,”imbuhnya.

Sementara Rektor Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menjelaskan, menjadi pengusaha itu berarti mau bekerja sama dengan orang lain. Di sana ada networking, tim, dan sebagainya.”Jadi pengusaha itu untuk berbagi sesama,”katanya.

Rektor menambahkan, untuk menjadi kaya orang mesti jadi pengusaha bukan politisi. Tapi, sayang sekarang orang berbondong-bondong menjadi politisi untuk menjadi kaya. “Jadi politik dijadikan alat untuk mencari kekayaan. Ini yang repot,”tegasnya.

Selain itu, sambung rektor, untuk menjadi pengusaha seseorang harus berani bermimpi.”Kalau bermimpi menjadi pengusaha saja tidak, tentu sulit. Pak Arifin Panigoro dan Pak Dahlan Iskan yang kemarin menjadi pembicara di sini adalah orang-orang yang berani bermimpi,”imbuhnya. (arif S/Saifudin)