Pengurbanan Ismail Patut Dipelajari

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Jaenuddin Ishaq

Lapangan Student Center, BERITA UIN Online - Pelaksanaan pemotongan hewan kurban sudah sepatutnya dapat diambil hikmah dan pelajaran. Hal itu tercermin dari peran Nabi Ibrahim saat mengajarkan pendidikan kepada putra tercintanya, yakni Ismail. Pengurbanan Ismail yang penuh keimanan itulah yang setidaknya patut dipelajari umat Islam.

“Indikator keberhasilan suatu pendidikan, apabila anak didik mampu menjalankan perintah Allah dalam kehidupannya karena dilakukan atas dasar keimanan dan ketaqwaan,” kata Dr Zubair MA dalam khutbah Idul Adha bertema “Meneladani Pola Pendidikan Ibrahim” yang digelar di lapangan Student Center Kampus UIN Jakarta, Minggu (6/11).

Zubair menjelaskan, setinggi apa pun pendidikan yang ditempuh seseorang tanpa diimbangi dengan pendidikan Islam tak dapat dikatakan berhasil. Diakui Zubair, terkadang orang tua bangga sang anak memenangi sebuah olimpiade namun tidak pada ketika anak dapat menghafal al-Qur’an.

“Tidak ada kata terlambat. Sekarang kita harus lebih bangkit menyelamatkan anak-anak. Hal paling prioritas dari nilai-nilai pendidikan Ibrahim adalah bi’ah atau menciptakan lingkungan yang mendidik,” ujar dosen Fakultas Adab Humaniora itu.

Zubair juga menyebutkan ada lima pola pendidikan Ibrahim kepada keluarganya. Pertama, visi pendidikan Ibrahim mencetak generasi sholeh yang menyembah hanya kepada Allah. Kedua, mendidik Ismail dan putra-putra lainnya mengikuti Islam secara totalitas. Ketiga, muatan pendidikan Ismail mencakup semua aspek kebutuhan manusia. Baik secara intelektual maupun emosional. Keempat, lingkungan Ibrahim mencetak aqidah dan akhlak, dan kelima, kesiapan mampu berkorban dalam semua pihak dalam proses pendidikan.

“Bagaimana dengan hasil pendidikan kita? Semoga kita ada upaya untuk terus menciptakan pendidikan yang berkarakter,” jelas Zubair.