Pendidikan di Sekolah Kurang Memperhatikan “Softskill”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Dedi Dwitagama (berdiri) saat menyampaikan paparannya pada Seminar Nasional “Keterampilan Guru pada Pendidikan Dasar Abad 21” yang digelar Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Kamis (27/10). Seminar tersebut juga menghadirkan sedikitnya 30 pemakalah dari para dosen PGMI/PGSD di seluruh Indonesia.

Dedi Dwitagama (berdiri) saat menyampaikan paparannya pada Seminar Nasional “Keterampilan Guru pada Pendidikan Dasar Abad 21” yang digelar Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Kamis (27/10). Seminar tersebut juga menghadirkan sedikitnya 30 pemakalah dari para dosen PGMI/PGSD di seluruh Indonesia dalam diskusi panel.

Auditorium, BERITA UIN Online – Sejumlah pakar pendidikan menilai pendidikan yang dikembangkan di sekolah-sekolah di Indonesia hingga saat ini masih berorientasi pada kompetensi hardskills dan kurang memperhatikan softskills. Padahal, untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas, seseorang tidak hanya dituntut  memiliki kemampuan hardskills saja melainkan juga softskills.

Praktisi pendidikan Dr Dedi Dwitagama mengatakan, dalam sebuah hasil penelitian bidang pendidikan di Harvard Universitry, Amerika Serikat, disimpulkan bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-semata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hardskills) saja, tetapi juga kemampuan dalam mengelola diri dan orang lain (softskills).

“Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa kesuksesan ditentukan oleh sekitar 20 persen oleh hardskills dan sisanya 80 persen oleh softskills,” kata Dedi saat menjadi pembicara utama pada seminar nasional tentang pendidikan dasar di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Kamis (27/10). Pembicara utama lain adalah Rektor UIN Palembang Prof Dr Sirozi dan penggagas pendidikan karakter Dr Budi Munawar.

Seminar bertajuk “Keterampilan Guru pada Pendidikan Dasar Abad 21” itu digelar Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta. Selain menghadirkan pembicara utama, seminar juga mempresentasikan sedikitnya 30 pemakalah dari berbagai dosen pendidikan PGMI dan PGSD di Indonesia.

Dedi mengungkapkan, dalam penelitian lain disebutkan bahwa orang sukses di dunia ditentukan oleh peranan ilmu (18 persen). Sedangkan sisanya (80 persen) ditentukan oleh kemampuan emosional, softskills, dan sejenisnya. Karena itu, kata dia, dalam mengembangkan pendidikan, guru seyogyanya dituntut untuk mampu menerapkan atribut-atribut softskills apa yang hendak dikembangkan dalam dunia pembelajaran.

Mengutip pendapat Stephen R Covey, Dedi mengemukakan setidaknya ada tujuh langkah pembiasaan untuk menjadi manusia unggul, yaitu proaktif, menentuka tujuan akhir, memulai dari yang utama, berpikir menang-menang, berusaha untuk memahami terlebih dahulu ketimbang minta dipahami, melakukan sinergis, dan mengasah diri secara terus menerus.

“Mengasah diri secara terus menerus itu misalnya dimensi spiritual, mental, fisik, dan sosial-emosional,” jelasnya.

Pada proses pelaksanaan pembelajaran di sekolah, kemampuan softskills peserta didik dapat ditumbuhkan melalui beberapa kegiatan alternatif, di antaranya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan kepedulian sosial. Berbagai softskill tersebut, menurut Dedi, dapat ditumbuhkembangkan dengan berbagai kegiatan intra dan ekstra kurikuler, seperti pramuka, pecinta alam, kesenian, dan olahraga.

“Tetapi dengan syarat bahwa pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut tak hanya bersifat seremonial, keseragaman atau sekadarnya, tetapi juga harus menerapkan filosofi, konsep dasar, dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap kegiatannya,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, peserta didik diberi tugas, mengkaji masalah-masalah yang terjadi di lingkungan sekitar yang dihubungkan dengan mata pelajaran. Kemudian mengurai penyebab terjadinya masalah tersebut dan mengajukan berbagai alternatif penyelesaian. (ns)