Penafsiran Sufistik Sa’id Hawwa Tergolong Tafsir Sufi Ishari

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Lindah

Gedung SPs, BERITA UIN Online – Penafsiran sufistik terhadap al-Qur’an yang dilakukan oleh musafir adalah menggunakan makna ishari dengan tetap mengacu pada makna zahir. Hal ini terbukti dari kasus penafsiran sufistik Sa’id Hawwa yang di dalamnya menggunakan makna ishari. Dengan ini makna tersebut tetap berpegang pada makna zahir dalam menafsirkan ayat-ayat terkait dengan maqam-maqam tasawuf dan dimensi ajarannya.

“Penafsiran sufistik Sa’id Hawwa tergolong sebagai tafsir sufi ishari bukan tafsir sufi nazari. Penelitian ini sekaligus membuktikan bahwa tafsir Sa’id Hawwa merupakan bagian dari tafsir yang berorientasi sufistik yang selama ini belum pernah dikategorikan demikian,” kata Septiawadi saat mempertahankan disertasi doktoralnya berjudul Penafsiran Sufistik Sa’id Hawwa dalam al-Asas Fi at-Tafsir di sekolah Pascasarjana (SPs), Senin (10/1).

Septiawadi melanjutkan, untuk itu tafsir Sa’id Hawwa dapat disejajarkan dengan kitab-kitab tafsir yang memiliki orientasi sufistik seperti tafsir al-Alusi. Namun, dibutuhkan suatu ketelitian dari berbagai pendapat baik yang sepakat maupun yang menolak.

“Hal ini seperti kesimpulan penelitian ini bertentangan dengan pendapat yang menolak tafsir sufistik. Kelompok ini berpendapat bahwa penafsiran sufistik dianggap tidak berlandaskan pada makna zahir bahkan dapat disebut sebagai aliran tafsir batiniyyah. Mereka yang berpandangan demikian antara lain yaitu Ibnu Salah dan Abu Hasan al-Wahidi,” ujar dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan Lampung itu.

Berdasarkan hasil penelitian, dasar metodologi penafsiran Sa’id Hawwa dalam menafsirkan ayat-ayat yang bercorak tasawuf adalah dengan mengungkapkan makna isharinya tetap berpegang pada makna zahir ayat. Ini sesuai dengan syarat tafsir sufi ishari yang disepakati ahli tafsir, seperti adh-dhahabi. Kecendrungan Sa’id Hawwa dalam penafsiran sufistiknya sangat dipengaruhi oleh musafir sebelumnya terutama an-Nasafi, al-Alusi, dan Ibnu Kathir, tambahnya.

Septiawadi melanjutkan, Berkenaan dengan penggunaan makna ishari dan makna zahir, penafsiran sufistik Sa’id Hawwa memiliki kemiripan dengan tafsir at-Tustari yang juga memiliki orientasi penafsiran sufistik dengan berpegang pada makna zahir. Bahkan pendekatan makna zahirnya lebih tampak dari pada penafsiran Tustari.

Dengan demikian, metodologi penafsiran Sa’id Hawwa secara umum yaitu menjelaskan makna ishari setelah mengemukakan makna zahir ayat. Di samping itu, dijelaskan pula makna ishari yang tetap sejalan dengan zahir ayat. Kemudian, ia memperhatikan juga kandungan ayat nyata yang di dalamnya memiliki unsur-unsur pemahaman sesuai dengan ajaran tasawuf. “Makna sufistik dikemukakan tidak keluar dari makna dasar yang dikandung suatu ayat,” kata Septiawadi yang memperoleh nilai yudisium 3,43 atau Amat Baik ini.

Pemikiran sufistik Sa’id Hawwa tergolong pada tasawuf alami. Hal itu terlihat ketika ia menafsirkan ayat terkait dengan maqam dan dimensi ajaran tasawuf. Secara historis penafsiran sufi ishari bersumber dari praktik tasawuf yang disebut dengan tasawuf ‘amali. “Pemikiran sufistik Sa’id Hawwa yang tergolong tasawuf alami ternyata mendukung pandangan yang menyatakan bahwa penafsiran sufistik diwujudkan dengan menakwilkan ayat diluar makna zahir berdasarkan isyarat tersembunyi dan juga dapat menggunakan makna zahir di samping makna ishariz,” jelasnya.

Desertasi ini turut memberikan pemahaman pada umat bahwa penafsiran sufistik pada dasarnya tetap memelihara makna zahir dalam menggunakan makna ishari. Melalui pemahaman seperti ini, penulis berharap masyarakat khususnya di Indonesia tidak khawatir untuk memasuki dan memahami tasawuf. “Pada prinsipnya, ibadah dalam ajaran Islam bertujuan membentuk jiwa sufistik yang diharapkan dapat merasakan hubungan yang dekat dengan Tuhan, bila berusaha menangkap hikmah dari ibadah yang kita lakukan,” tandas Septiawadi.