Gedung FITK, BERITA UIN Online– Pemilu Raya (Pemira) mahasiswa UIN Jakarta akan digelar pada 21-22 Desember 2017. Kegiatan ini digelar untuk memilih calon-calon terbaik pimpinan intra kampus, yaitu Ketua dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa Universitas (DEMAU), Dewan Mahasiswa Fakultas (DEMAF), Himpunan Mahasiswa Jurusan/Program Studi (HMJ/HMPS) serta Senat Mahasiswa Universitas (SEMAU) dan Senat Mahasiswa Fakultas (SEMAF).

Di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) yang jumlah pemilihnya terbanyak, untuk menjamin tertibnya pelaksanaan Pemira di sebagaimana tahun lalu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Alumni dan Kerjasama (Wadek III) Dr Ahmad Fauzan menggelar rapat persiapan Pemira dengan panitia dari pejabat, dosen, karyawan, Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu), Koordinator Pemilihan dan Pemungutan (KPPS) dan Panitia Pengawas Pemilu di tingkat Fakultas.

Dalam arahannya, Fauzan menyampaikan kepada panitia untuk bersikap tegas dalam penegakan konstitusional pemilu yang telah ditetapkan.

“Panitia dari unsur dosen dan karyawan sifatnya hanya mengawal, mengawasi dan membina, jangan politik praktis, aturan tidak boleh dikutak katik dan tidak boleh ada intervensi agar mahasiswa independen,” ujar Fauzan pada Selasa (19/12/2017) di ruang rapat lt 1 gedung FITK.

Setiap tahun, sambungnya, FITK paling banyak daftar pemilihnya, sehingga rentan terjadi kericuhan.

“Jika terjadi tindakan anarkis, ada penyusup, maka kode etik mahasiswa pasal 462 harus ditegakkan,” tegasnya.

Senada dengan Fauzan, Wakil Dekan Bidang Akademik Dr M Zuhdi MEd menegaskan selama ini FITK selalu mendapatkan citra positif dalam pelaksanaan Pemira. Hendaknya, harap Zuhdi, citra ini harus terus dijaga.

“FITK posisi gedung paling depan, paling banyak mahasiswanya dan paling mudah diprovokasi, namun sejauh ini aman,” ujar Zuhdi.

“Kedepankan identitas fakultas dan kampus, kesampingkan identitas lain, seperti identitas organisasi maupun program studi,” tegasnya.

Jika pelaksanaannya berantakan, sambungnya, maka akan menjadi citra buruk bagi FITK sebagai fakultas pendidikan. Ia berharap, para mahasiswa FITK dapat menampilkan diri sebagai orang terpelajar.

“Jika tidak menang suara, tampilkan menang etika dengan Pemira damai. Paslon harus tertib untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas. Contoh aksi 212 yang damai, tidak ada sampah berserakan, tidak ada rumput yang rusak dan pohon yang tumbang. Ini kebangkitan citra Islam,” tandasnya.

Dari laporan Wadek III diketahui, Pemira FITK hanya diikuti delapan HMJ dari 12 HMJ. Empat HMJ, yaitu Pendidikan Biologi, Pendidikan Kimia, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini melakukan aklamasi.

Berdasarkan data Bagian Akademik FITK, tercatat jumlah pemilih FITK dari semester satu sampai tujuh sebanyak 1.262 orang. (mf)

Share This