Pemira FITK Paling Tertib

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung FITK, BERITA UIN Online– Ada yang berbeda dalam pelaksanaan Pemilu Raya Mahasiswa (Pemira) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) pada Rabu (27/3/13).

Dari pantauan BERITA UIN Online, tujuh fakultas yang menggelar pesta demokrasi ala mahasiswa ini, pelaksanaan Pemira FITK terlihat paling baik.

Penyelenggaraan Pemira di FITK layaknya pemilu. Seluruh anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU)nya kompak menggunakan seragam batik dan para pemilih berbaris dengan rapih, tidak berdesak-desakan dan tidak terjadi antrian panjang.

Pada fakultas ini terdapat Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 4000-an suara. Sedangkan di fakultas lain maksimal jumlah DPT sekira 2200 suara sampai 300-an suara saja.

“Ada sekira 4000 orang yang mempunyai hak pilih pada pemilihan calon ketua HMJ ini,” ujar Erik Mardiansyah, salah seorang anggota KPU.

Penyelenggaraan Pemira di FITK terlaksana dengan aman dan tertib tentu tak lepas dari usaha Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FITK, Dr Muhbib Abdul Wahab MA. Doktor bidang Bahasa Arab ini selama persiapan dan pelaksanaan Pemira terus memantau dan mendampingi para mahasiswa.

“Kita start tadi on time jam sembilan dan nanti ditutup jam lima sore dan tidak ada penambahan waktu,” ujarnya.

Menurutnya, terdapat sembilan pasangan kandidat ketua HMJ di FITK. Namun, tiga pasangan, yaitu dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), dan Pendidikan Matematika (PMTK) sudah terpilih secara aklamasi. “Rivalnya sudah tersisih secara otomatis karena ada persyaratan yang tidak terpenuhi,” imbuhnya.

Muhbib menjelaskan ada tiga persyaratan untuk dapat maju ke Pemira, yaitu harus mendapat dukungan dari calon pemilih minimal 20% untuk BEMF, 10% untuk HMJ, kemudian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) kandidat minimal tiga, dan harus menyusun makalah untuk acara debat visi misi.

Hal ini dinilai lebih kondusif, efektif, dan efisien dibanding dengan pemilu sebelumnya yang mengusung kandidat di bawah bendera partai. “Kalau dulu ada kampanye partai yang berkeliling kampus dengan pengeras suara, sehingga mengganggu kegiatan belajar mengajar, bahkan ada yang menggelar konser musik untuk menarik massa,” tandasnya.

Sementara itu di fakultas lain, terlihat antrian panjang para pemilih dan saling berdesak-desakan pada satu TPS. Ada pula fakultas yang baru memulai acara pemilihannya pada jam sebelas. (Muhammad Furqon)