Pemira 2008, PIM Rangkul Mahasiswa Apatis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Irma Wahyuni

Kampus I, UINJKT Online – Masa kampanye menjadi ajang bagi partai politik untuk merangkul konstituen sebanyak-banyaknya. Demikian juga bagi Partai Intelektual Muslim (PIM). Partai yang berbasis massa aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ini berusaha merangkul floating mass atau mahasiswa yang tidak terlibat dengan partai politik secara ideologis.

Pada kampanye kali ini PIM mencoba merangkul mahasiswa yang apatis, kami memberikan pemahaman tentang eksistensi student government sehingga mereka mau menyalurkan aspirasinya melalui lembaga-lembaga politik yang ada,” kata Adi Rohadi, calon presiden dari PIM, saat ditemui UINJKT Online, Kamis (27/11), di Kampus I.

Di samping menggarap mahasiswa yang apatis, PIM juga tetap konsen pada para kader dan simpatisan yang terlibat dalam kampanye. Ketiga pihak tersebut penting untuk digarap secara serius agar PIM dapat memenangkan Pemira 2008.

Adi juga menegaskan, kampanye yang dilakukannya tidak sekadar longmarch di kampus dan hura-hura, PIM juga menggelar dialog terbuka dengan mahasiswa non-reguler. “Mereka merasa kurang terlibat dalam student government dan sistem perpolitikan di kampus. Maka dari itu, PIM mencoba untuk menyentuh semua elemen dan menampung semua aspirasi mahasiswa dari golongan mana pun, tegasnya.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) semester sembilan ini, maju menjadi capres BEM UIN 2008-2009 dengan mengusung visi Menjadikan UIN Jakarta Lebih HEBAT, yang merupakan akronim dari Harmonis, Edukatif, Berwibawa, Akrab, dan Totalitas.

Melihat kondisi student government saat ini, ia mengaku sangat prihatin. Pasalnya, setiap organ dan elemen dari pemerintahan mahasiswa yakni BEMU, DPMU, dan KMU, tidak berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing. BEMU tidak memiliki kinerja yang konkrit di mata mahasiswa, sehingga banyak mahasiswa yang apatis dengan kondisi politik di kampus,” tukas mantan Ketua DPMU 2006-2007 ini. [Nif/Ed]

Pemira 2008, PIM Rangkul Mahasiswa Apatis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Irma Wahyuni

Kampus I, UINJKT Online – Masa kampanye menjadi ajang bagi partai politik untuk merangkul konstituen sebanyak-banyaknya. Demikian juga bagi Partai Intelektual Muslim (PIM). Partai yang berbasis massa aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ini berusaha merangkul floating mass atau mahasiswa yang tidak terlibat dengan partai politik secara ideologis.

Pada kampanye kali ini PIM mencoba merangkul mahasiswa yang apatis, kami memberikan pemahaman tentang eksistensi student government sehingga mereka mau menyalurkan aspirasinya melalui lembaga-lembaga politik yang ada,” kata Adi Rohadi, calon presiden dari PIM, saat ditemui UINJKT Online, Kamis (27/11), di Kampus I.

Di samping menggarap mahasiswa yang apatis, PIM juga tetap konsen pada para kader dan simpatisan yang terlibat dalam kampanye. Ketiga pihak tersebut penting untuk digarap secara serius agar PIM dapat memenangkan Pemira 2008.

Adi juga menegaskan, kampanye yang dilakukannya tidak sekadar longmarch di kampus dan hura-hura, PIM juga menggelar dialog terbuka dengan mahasiswa non-reguler. “Mereka merasa kurang terlibat dalam student government dan sistem perpolitikan di kampus. Maka dari itu, PIM mencoba untuk menyentuh semua elemen dan menampung semua aspirasi mahasiswa dari golongan mana pun, tegasnya.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) semester sembilan ini, maju menjadi capres BEM UIN 2008-2009 dengan mengusung visi Menjadikan UIN Jakarta Lebih HEBAT, yang merupakan akronim dari Harmonis, Edukatif, Berwibawa, Akrab, dan Totalitas.

Melihat kondisi student government saat ini, ia mengaku sangat prihatin. Pasalnya, setiap organ dan elemen dari pemerintahan mahasiswa yakni BEMU, DPMU, dan KMU, tidak berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing. BEMU tidak memiliki kinerja yang konkrit di mata mahasiswa, sehingga banyak mahasiswa yang apatis dengan kondisi politik di kampus,” tukas mantan Ketua DPMU 2006-2007 ini. [Nif/Ed]