Pemira 2008, Partai Boenga Rebut Kembali Kedaulatan Mahasiswa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Luthfi Destianto  

Parkir FITK, UINJKT Online – Di hari terakhir kampanye penyelenggaraan pemilihan umum raya (Pemira), Kamis, (27/11), Partai Boenga menggelar aksi simpatik dengan membagikan bunga kepada mahasiswa dan menggelar dialog kebudayaan. Aksi ini diyakini dapat mengundang simpati dan perhatian mahasiswa untuk datang dan mendengarkan orasi yang dilancarkan para juru kampanye. 

“Kami membagikan bunga karena bunga berbeda warna tapi tetap satu tangkai, diminati siapa saja, wangi jika dicium, enak bila dipandang. Dengan filosofi tersebut, kami berharap Partai Boenga dapat menjadi milik semua mahasiswa, diminati kehadirannya, dan dipandang sebagai partai yang mengusung aksi nyata,” ujar Koordinator Lapangan Kampanye Arif Rohadi di sela-sela kampanye yang berlangsung di Area Parkir FITK, Kamis, (27/11) 

Pria yang akrab disapa “Cepot” ini menyatakan, dialog kebudayaan yang digelar melibatkan aktivis lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) yang akan memberikan orasi, pementasan dangdut sebagai musik budaya asli Indonesia, dan pementasan music reggae sebagai perwakilan musik yang mengusung kebebasan dan demokrasi. 

Berkenaan dengan visi dan misi yang diusung, “Cepot” menegaskan tekad partainya yang berhasrat untuk meraih kembali kedaulatan mahasiswa yang hilang semenjak lahirnya reformasi yang selama ini terampas oleh sistem birokrasi, menyadarkan mahasiswa agar turut terlibat dan senantiasa mengkritisi isu lokal dan nasional, serta mewujudkan Student Government (SG) yang bersih dari KKN. 

Menanggapi jenuhnya sebagian mahasiswa dalam berpartisipasi dalam Pemira yang menyebabkan sepinya kampanye selama tiga hari, juru kampanya Partai Boenga Mumu Muakhir punya pandangan sendiri. Ia justru menyalahkan mahasiswa yang menjadikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seolah-olah sebagai musuh bersama karena programnya yang dinilai membosankan. “BEM bukan lembaga super, pastinya banyak kekurangan. Karena itu, kami sebagai “generasi boenga akan terus mendampingi, mengawasi, dan memperbaiki program yang diusung BEM dan pelaku SG lainnya,” ujarnya. 

Menanggapi program konkret yang diusung partai Boenga, Mumu menjelaskan sikap partainya yang dengan tegas menolak Senat Mahasiswa (SM) dan mempertahankan SG. “Partai kami berbeda dengan partai lainnya yang mengusung janji dan embel-embel perubahan. Partai kami senantiasa menawarkan program konkret. Tidak perlu muluk-muluk, cukup dengan menolak Senat Mahasiswa (SM) dan mempertahankan Student Government (SG)” tutupnya. [Nif/Ed]

Pemira 2008, Partai Boenga Rebut Kembali Kedaulatan Mahasiswa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Luthfi Destianto  

Parkir FITK, UINJKT Online – Di hari terakhir kampanye penyelenggaraan pemilihan umum raya (Pemira), Kamis, (27/11), Partai Boenga menggelar aksi simpatik dengan membagikan bunga kepada mahasiswa dan menggelar dialog kebudayaan. Aksi ini diyakini dapat mengundang simpati dan perhatian mahasiswa untuk datang dan mendengarkan orasi yang dilancarkan para juru kampanye. 

“Kami membagikan bunga karena bunga berbeda warna tapi tetap satu tangkai, diminati siapa saja, wangi jika dicium, enak bila dipandang. Dengan filosofi tersebut, kami berharap Partai Boenga dapat menjadi milik semua mahasiswa, diminati kehadirannya, dan dipandang sebagai partai yang mengusung aksi nyata,” ujar Koordinator Lapangan Kampanye Arif Rohadi di sela-sela kampanye yang berlangsung di Area Parkir FITK, Kamis, (27/11) 

Pria yang akrab disapa “Cepot” ini menyatakan, dialog kebudayaan yang digelar melibatkan aktivis lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) yang akan memberikan orasi, pementasan dangdut sebagai musik budaya asli Indonesia, dan pementasan music reggae sebagai perwakilan musik yang mengusung kebebasan dan demokrasi. 

Berkenaan dengan visi dan misi yang diusung, “Cepot” menegaskan tekad partainya yang berhasrat untuk meraih kembali kedaulatan mahasiswa yang hilang semenjak lahirnya reformasi yang selama ini terampas oleh sistem birokrasi, menyadarkan mahasiswa agar turut terlibat dan senantiasa mengkritisi isu lokal dan nasional, serta mewujudkan Student Government (SG) yang bersih dari KKN. 

Menanggapi jenuhnya sebagian mahasiswa dalam berpartisipasi dalam Pemira yang menyebabkan sepinya kampanye selama tiga hari, juru kampanya Partai Boenga Mumu Muakhir punya pandangan sendiri. Ia justru menyalahkan mahasiswa yang menjadikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seolah-olah sebagai musuh bersama karena programnya yang dinilai membosankan. “BEM bukan lembaga super, pastinya banyak kekurangan. Karena itu, kami sebagai “generasi boenga akan terus mendampingi, mengawasi, dan memperbaiki program yang diusung BEM dan pelaku SG lainnya,” ujarnya. 

Menanggapi program konkret yang diusung partai Boenga, Mumu menjelaskan sikap partainya yang dengan tegas menolak Senat Mahasiswa (SM) dan mempertahankan SG. “Partai kami berbeda dengan partai lainnya yang mengusung janji dan embel-embel perubahan. Partai kami senantiasa menawarkan program konkret. Tidak perlu muluk-muluk, cukup dengan menolak Senat Mahasiswa (SM) dan mempertahankan Student Government (SG)” tutupnya. [Nif/Ed]