Dalam istilah psikologi, delusi itu suatu penyakit kejiwaan yang menganggap dirinya hebat, luar biasa, melebihi kapasitas rata-rata pemimpin, dan merasa yakin dirinya mampu menciptakan keajaiban sejarah yanh tak bisa dilakukan pemimpin lainnya.

Pemimpin tipe ini seringkali kehilangan sense of reality. Tidak bisa membedakan antara angan-angan dan realitas. Tidak mampu melihat kekuatan dirinya yang sebenarnya.

Dalam sejarah, Hitler adalah contoh tipe pemimpin delusional. Retorika Hitler dikenal hebat, mampu meyakinkan dan menggerakkan rakyat Jerman untuk bangkit membangun kembali kejayaannya setelah kalah dan hancur dalam Perang Dunia I. Hitler meyakinkan dirinya dan rakyatnya bahwa Jerman akan bangkit menjadi imperium yg mampu menguasai seluruh daratan Eropa.

Karena tertipu oleh delusinya, Hitler akhirnya termakan oleh angan-angannya sendiri dan memperoleh tekanan kuat dari lawan-lawan politiknya. Diceritakan, setelah posisinya terjepit dikepung oleh musuh, dia melakukan bunuh diri, menghindari tekuk lutut dibunuh lawannya.

Tentu saja Hitler merupakan sosok yg ekstrim sebagai tipe pemimpin delusional. Dalam kadar tertentu, Saddam Hussein dan Khaddafy mungkin juga dihinggapi gejala kejiwaan serupa. Sosok pemimpin yang merasa dirinya memperoleh mandat dari Tuhan, yakin berada di jalan Tuhan dan pasti dibela Tuhan, kalau tidak hati-hati juga bisa terkena delusi. Dirinya paling benar, yang lain salah, sehingga mesti ikut sebagai pendukungnya atau diposisikan sebagai lawan.

Saya seringkali menerima surat tebal-tebal dari orang yg dihinggapi delusi. Dia merasa mendapat mandat dari rakyat dan dari Tuhan untuk menyelesaikan problem bangsa ini. Pemimpin yang ada tidak becus mengurus rakyat. Para intelektual pada pengecut. Para ustadz jualan ayat. Lalu dia merasa paling tahu dan paling bisa memimpin bangsa ini kalau saja diberi kesempatan.

Saya tidak tahu persis, apakah ada pemimpin kita, produk pilkada atau calon lain yang mengidap delusi. Percayakan Indonesia ke tanganku, semua persoalan akan selesai. Kira-kira begitu jalan pikirannya.

Prof Dr Komaruddin Hidayat, Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Jakarta (mf)