Pemilu 2009, Dikotomi Tua Muda Tidak Relevan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Aula Student Center, UINJKT Online - Dikotomi tua dan muda dalam kontestasi kepemimpinan nasional menjelang Pemilu 2009 tidak relevan. Yang terpenting bukan tua atau muda, melainkan kemampuannya dalam menyelesaikan berbagai masalah bangsa. Hal itu dikemukakan Ketua Umum Front Persatuan Nasional (FPN) KH Agus Miftah dalam Dialog Nasional: Indonesia Menatap Pemilu 2009 Pemimpin Tua atau Muda Apa Bedanya? Ikhitar Menggapai Cita-cita Bangsa yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Non reguler Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kegururan (FITK) di Aula Student Center, Selasa (23/9).

 

“Kita tidak punya harapan apa-apa dalam dikotomi kosong tua atau muda dalam Pemilu 2009. Kita butuh pemimpin yang bisa memberikan solusi,” kata Agus.

 

Pemimpin tersebut, lanjut Agus, adalah mereka yang telah teruji dalam menghadapi situasi dan kondisi yang penuh dengan berbagai masalah. Bukan pemimpin yang hanya mengandalkan popularitas melalui iklan. Pemimpin masa depan harus mendapat pengakuan dari rakyat, tanpa perlu memopulerkan diri melalui iklan agar mendapat simpati dari masyarakat. “Mereka juga bukan yang hanya meminta jatah dengan memperkuat dikotomi tua dan muda,” tegasnya.

 

Menurutnya, siapa pun yang merasa mampu memimpin Indonesia, tidak perlu meminta jatah. Berbuatlah yang terbaik bagi rakyat Indonesia, sehingga tanpa harus mengiklankan diri di media massa, mereka akan meraih popularitas dengan sendirinya.

 

Sementara itu, Ketua Bidang Hukum dan HAM DPP Partai Damai Sejahtera (PDS) Aldentua Siringoringo SH mengatakan, pemimpin yang akan datang selain bisa menyeleseaikan masalah juga bisa mempersatukan unsur suku, agama, ras dan antargolongan, karena negeri ini merupakan negeri bhineka tunggal ika. [Nif/Ed]

Pemilu 2009, Dikotomi Tua Muda Tidak Relevan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Aula Student Center, UINJKT Online - Dikotomi tua dan muda dalam kontestasi kepemimpinan nasional menjelang Pemilu 2009 tidak relevan. Yang terpenting bukan tua atau muda, melainkan kemampuannya dalam menyelesaikan berbagai masalah bangsa. Hal itu dikemukakan Ketua Umum Front Persatuan Nasional (FPN) KH Agus Miftah dalam Dialog Nasional: Indonesia Menatap Pemilu 2009 Pemimpin Tua atau Muda Apa Bedanya? Ikhitar Menggapai Cita-cita Bangsa yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Non reguler Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kegururan (FITK) di Aula Student Center, Selasa (23/9).

 

“Kita tidak punya harapan apa-apa dalam dikotomi kosong tua atau muda dalam Pemilu 2009. Kita butuh pemimpin yang bisa memberikan solusi,” kata Agus.

 

Pemimpin tersebut, lanjut Agus, adalah mereka yang telah teruji dalam menghadapi situasi dan kondisi yang penuh dengan berbagai masalah. Bukan pemimpin yang hanya mengandalkan popularitas melalui iklan. Pemimpin masa depan harus mendapat pengakuan dari rakyat, tanpa perlu memopulerkan diri melalui iklan agar mendapat simpati dari masyarakat. “Mereka juga bukan yang hanya meminta jatah dengan memperkuat dikotomi tua dan muda,” tegasnya.

 

Menurutnya, siapa pun yang merasa mampu memimpin Indonesia, tidak perlu meminta jatah. Berbuatlah yang terbaik bagi rakyat Indonesia, sehingga tanpa harus mengiklankan diri di media massa, mereka akan meraih popularitas dengan sendirinya.

 

Sementara itu, Ketua Bidang Hukum dan HAM DPP Partai Damai Sejahtera (PDS) Aldentua Siringoringo SH mengatakan, pemimpin yang akan datang selain bisa menyeleseaikan masalah juga bisa mempersatukan unsur suku, agama, ras dan antargolongan, karena negeri ini merupakan negeri bhineka tunggal ika. [Nif/Ed]