Pemikiran Islam Indonesia Dipengararuhi Bung Karno

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, BERITA UIN Online–Perkembangan pemikiran Islam di Indonesia tidak bisa dilepasakan dari Soekarno, mantan presiden Republik Indonesia yang pertama.  Alasannya,  Soekarno adalah salah satu tokoh penting yang terlibat langsung dalam perumusan Pancasila sebagai  falsafah berbangsa.

Menurut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Prof. Dr. Bakhtiar Effendy, dalam perumusan Pancasila, Bung Karno- sebutan akrab Soekarno-, secara langsung terlibat dalam polemik peranan Islam dalam mengatur negara.

“Pemikiran Islam di masa awal kemerdekaaan itu dipengaruhi Bung Karno bersama M. Natsir, A. Hasan, Wahid Hasyim, dan Agus Salim, dan lain-lainnya,” ujar Prof. Bakhtiar pada public lecture bertajuk “Sokarno dan Islam” di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, Kamis (7/6).

Dijelaskannya, Bung Karno secara intensif berdialog dan berdebat secara langsung dengan para tokoh-tokoh Islam itu. “Mengenai pokok-pokok pemikiran Islam Bung Karno bisa dilihat dan dibaca pada surat-surat beliau ketika berkorespodensi dengan A. Hasan, pendiri Persatuan Islam (Persis). Dengan pula perdebatan Bung Karno dengan Pak Natsir,”katanya.

Bila membaca buku “Di Bawah Bendera Revolusi” dan “Surat-Surat Dari Endeh”, lanjut peraih doktor Ilmu Politik dari Ohio University itu, maka tampak jelas pemikiran Islam Bung Karno. Bagi Bung Karno,  melaksanakan ajaran Islam itu berdasarkan spiritnya. Jadi Pancasila dan UUD itu berdasarkan spirit Islam.

Sementara sejarawan Prof. Dr. A. Syafii Maarif menyatakan, korespodensi Bung Karno dengan sejumlah tokoh Islam membuktikan kepedulian dan ketertarikannya terhadap Islam. “Ketika rapat dan dialog perumusan Pancasila, Bung Karno bilang,Saudara-saudara bila engkau belah dadaku ini, maka Islamlah di dalamnya,”ujarnya.

Ditambahkannya, Bung Karno juga sangat prihatin dengan kondisi umat Islam yang terpuruk. Padahal, Islam mengajarkan tentang keluhuran peradabannya.”….dunia Islam menjadi mundur oleh karena banyak orang jalankan gadis-hadis dlaif dan palsu,”sambung Prof. Syafii mengutip pendapat Bung Karno dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi.”

Begitu kental perhatian Bung Karno terhadap Islam dan negara, maka Puan Mahari, salah cucu Bung Karno, yang juga Ketua DPP PDIP, mendesak pemerintah untuk meluruskan sejarah nasional. “Perlu usaha meluruskan sejarah Bung Karno. Tidak hanya meluruskan sejarah, tetapi juga meluruskan pemikiran Bung Karno tentang Islam,”harap dia.

Acara seminar ini diselengarakan oleh FISIP UIN Jakarta bekerja sama  dengan Panitia Bulan Bung Karno. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati 111 tahun kelahiran Bung Karno. Proklamator kemerdekaan RI itu lahir pada 6 Juni 1901 di Surabya dan wafat pada 21 Juni 1969 di Jakarta. (D. Antariksa/S)