Pembelajaran Tematik Optimalkan Potensi Anak

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Putri Kartika Utami

FITK, UIN Online-  Intelegensia anak akan tumbuh optimal pada usia 0-18 tahun. Karena itu usia dini menjadi sangat penting untuk memaksimalkan intelegensia anak. Salah satu hal yang dapat mengoptimalkan intelegensia anak adalah pembelajaran tematik. Peran guru, khususnya pada tingkat sekolah dasar menjadi sangat penting untuk mengembangkan potensi anak dengan konsep pembelajaran tematik.

Hal ini dikatakan guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof Dr Martini Jamaris dalam seminar pendidikan bertema Peningkatan Kualitas Pembelajaran Tematik MI/SD Berbasis Pakem yang diselenggarakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di Ruang Teater lantai 3 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Sabtu (7/8).

Namun, Martini mengingatkan, guru tidak bisa asal membuat konsep pembelajaran tematik. “Membuat konsep pembelajaran tematik tidak bisa semau guru, tetapi harus ada dasar ilmunya. Maka, dibutuhkan guru yang berwawasan luas dan mau belajar,” kata Martini.

Senada dengan Martini, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Prof Udin Syaifudin Sa’ud mensyaratkan, guru yang dapat membuat konsep pembelajaran tematik adalah guru yang kreatif dan berwawasan luas. Menurutnya, penggunaan konsep pembelajaran tematik sangat dianjurkan pada tingkat SD.

“Karena pembelajaran tematik merupakan strategi pembelajaran yang memadukan bahan ajar, kebutuhan dan potensi, serta pengalaman anak, maka ini tentu memudahkan dan memotivasi anak untuk memahami pelajaran sebab terkait dengan kehidupan sehari-hari,” kata Udin.

Seminar yang dihadiri Pembantu Dekan Bidang Kemahasiwaan Dr Muhbib Abdul Wahab dan Ketua Program Studi PGMI Dra Eri Rosatria itu, diikuti sebanyak 155 peserta yang terdiri dari dosen, guru MI/SD dan mahasiswa FITK. Setelah seminar, mereka mempraktekannya pada Workshop bersama trainer dan praktisi pendidikan Agus Sampurno. []



Pembelajaran Tematik Optimalkan Potensi Anak

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Putri Kartika Utami

FITK, UIN Online-  Intelegensia anak akan tumbuh optimal pada usia 0-18 tahun. Karena itu usia dini menjadi sangat penting untuk memaksimalkan intelegensia anak. Salah satu hal yang dapat mengoptimalkan intelegensia anak adalah pembelajaran tematik. Peran guru, khususnya pada tingkat sekolah dasar menjadi sangat penting untuk mengembangkan potensi anak dengan konsep pembelajaran tematik.

Hal ini dikatakan guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof Dr Martini Jamaris dalam seminar pendidikan bertema Peningkatan Kualitas Pembelajaran Tematik MI/SD Berbasis Pakem yang diselenggarakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di Ruang Teater lantai 3 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Sabtu (7/8).

Namun, Martini mengingatkan, guru tidak bisa asal membuat konsep pembelajaran tematik. “Membuat konsep pembelajaran tematik tidak bisa semau guru, tetapi harus ada dasar ilmunya. Maka, dibutuhkan guru yang berwawasan luas dan mau belajar,” kata Martini.

Senada dengan Martini, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Prof Udin Syaifudin Sa’ud mensyaratkan, guru yang dapat membuat konsep pembelajaran tematik adalah guru yang kreatif dan berwawasan luas. Menurutnya, penggunaan konsep pembelajaran tematik sangat dianjurkan pada tingkat SD.

“Karena pembelajaran tematik merupakan strategi pembelajaran yang memadukan bahan ajar, kebutuhan dan potensi, serta pengalaman anak, maka ini tentu memudahkan dan memotivasi anak untuk memahami pelajaran sebab terkait dengan kehidupan sehari-hari,” kata Udin.

Seminar yang dihadiri Pembantu Dekan Bidang Kemahasiwaan Dr Muhbib Abdul Wahab dan Ketua Program Studi PGMI Dra Eri Rosatria itu, diikuti sebanyak 155 peserta yang terdiri dari dosen, guru MI/SD dan mahasiswa FITK. Setelah seminar, mereka mempraktekannya pada Workshop bersama trainer dan praktisi pendidikan Agus Sampurno. []