Oleh: Prof. Dr. Dede Rosyada, MA

 

Prof. Dr. Dede Rosyada MA

Prof. Dr. Dede Rosyada MA

Pengantar

Research University, atau Universitas Penelitian, tidak mengubah bingkai penugasan universitas secara regulatif. Universitas tetap memiliki tiga tugas (tri dharma) yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hanya saja, kalau universitas dikembangkan dalam posisi sebagai teaching university, (universitaspembelajaran) pelaksanaan dharma pembelajaran jauh lebih penting dibanding dengan dharma penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Universitas pembelajaran diharapkan mampu mempersiapkan para mahasiswa memasuki lapangan pekerjaan dengan baik, memiliki keterampilan atau keahlian yang sangat spesifik sesuai kebutuhan pasar, atau justru memiliki general transferable skill yang diperlukan oleh hampir semua institusi pemerintahan atau swasta. Berbeda halnya dengan Research University atau universitas penelitian yang keluar dari bingkai universitas pembelajaran, dan memperkuat fokus pengembangan program penelitian untuk menemukan teori dan teknologi baru, serta menyumbangka teori dan teknologiya itu untuk pemajuan sektor industri, jasa, perdagangan dan lain-lain yang berkonstribusi signifikan terhadap pemajuan ekonomi bangsa.

Kendati demikian, research university tidak bisa meninggalkan dharma pendidikan dan pengajaran, karena tugas perguruan tinggi adalah mencetak sarjana, magister dan doktor, yang harus diproses melalui pendidikan dan pengajaran, apalagi untuk sarjana yang harus memiliki skil dan keahlian, yang menuntut proses pembelajaran komprehensif antara penguasaan teori, teknologi dan bahkan etika pengembangan profesi agar bisa menyesuaikan diri dalam lingkungan profesi yang mereka masuki. Pendidikan jenjang sarjana, sesuai Perpres No. 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, bahwa jenjang sarjana dipersiapkan untuk memasuki pasar kerja yang membutuhkan keterampilan atau keahlian. Oleh sebab itu, setiap lulusan sarjana memiliki hak untuk memperoleh Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang menjelaskan bahwa kesarjaannya itu memiliki keahlian bidang apa, dan ketrampilan apa, yang semuanya dibuktikan dengan sertifikat keahlian, dan dideskripsikan dalam SKPI.

Ketika universitas itu didorong pada fungsi penelitian dengan memperbesar dharma riset dibanding dharma pendidikan dan pengabdian pada masyarakat, maka akan muncul pertanyaan, bagaimana mengefisiensikan proses perkuliahan, karena jika penelitian itu tidak berkorelasi sama sekali dengan pembelajaran, maka karya penelitian tersebut tidak bersinergi dengan pembelajaran dan juga tidak berkontribusi positif dalam pengembangan dan update bahan ajar. Oleh sebab itu, dalam kerangka research university, pengalaman berbagai perguruan tinggi di berbagai belahan dunia, mensinergikan keduanya, sehingga kerja dosen menjadi sangat efisien, dosen mengajarkan temuan-temuannya, dan temuan tersebut akan semakin matang dengan dibahas para mahasiswa. Bagaimana mensinergikan penelitian dengan pembelajaran tersebut, inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Pembelajaran Berbasis Penelitian

Pembelajaran adalah sebuah proses membangun konsep, bukan memasukkan bagian-bagian ilmu secara parsial pada otak pembelajar. Untuk itu, posisi pengetahuan yang sudah ada dalam otak pembelajar harus diperhatikan dan menjadi bahan pertimbangan dalam menambah informasi baru. Mengutip kritik B.F. Skinner (1904-1990), seorang Psikolog Amerika, terhadap behaviorisme, Cesar Delgado mengatakan, bahwa behaviorisme memandang pembelajar sebagai kotak kosong untuk diisi oleh pengetahuan tanpa mempertimbangkan sama sekali pengetahuan yang sudah mereka miliki sebelumnya. Model pembelajaran semacam ini, kemudian akan menghasilkan pemahaman yang kecil-kecil, parsial[1] dan tidak saling menyapa satu sama lain. Padahal belajar merupakan proses membangun pemahaman terhadap pengetahuan baru secara utuh, komprehensif dan holistik. Dengan demikian, posisi pengetahuan yang sudah mereka kuasai sebelumnya sangat penting untuk dikoneksikan dengan pengetahuan baru yang mereka pelajari. Para pembelajar, baik siswa maupun mahasiswa adalah  orang yang sudah berpengetahuan, memiliki pengalaman, dan membawa banyak informasi dalam dirinya dari hasil studi mereka sebelum di kelas itu, dan ilmu baru yang akan masuk dalam diri mereka harus berinteraksi dengan informasi-informasi tersebut, sehingga mampu secara sinergis membangun konsep diri mereka, bisa dengan mudah difahami, dianalisis, dan bisa memberikan justifikasi terhadap konsep baru yang mereka hasilkan dari proses pembelajaran, untuk kemudian mampu mempengaruhi perubahan dalam diri mereka, dan ilmu itu menjadi karakter mereka serta mampu membangun prilaku baru berbasis pengetahuannya itu.

Model pembelajaran yang dikembangkan aliran konstruktuvisme ini, kemudian direspon positif di kalangan para pendidik yang progresif dan telah menstimulasi dinamika pembelajaran yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah research based learning atau pembelajarn berbasis penelitian. Setidaknya terdapat tiga model pembelajaran berbasis penelitian. Pertama, para mahasiswa diberi tugas oleh dosen untuk melakukan penelitian dalam mata kuliah yang mereka ambil, mereka mempresentasikan hasil penelitiannya, dan dibahas bersama oleh para mahasiswa dan dosen pengampu mata kuliah. Kedua, para dosen mengembangkan silabus dan bahan ajar berbasis hasil penelitian dia, atau program penelitian yang sedang dilakukannya. Dan, ketiga, para dosen mengembangkan berbagai model pembelajaran yang diinspirasi oleh hasil penelitian, yang sengaja dilakukan untuk mengembangkan model pembelajaran secara holistik, dari mulai kurikulum, metode, evaluasi, alat belajar maupun yang lainnya.

Pembelajaran berbbasis penelitian dalam model pertama dilakukan oleh mahasiswa. Pengalaman model ini pernah dikembangkan oleh Griffith University, Australia, dengan dua pertimbangan sebagai berikut:[2]

Pertama, bahwa penelitian dan karya-karya kreatif yang akan dihasilkannya, validasi dan diseminasi pengetahuan merupakan karya-karya akademik fundamental dalam konteks penguatan research university, untuk mendorong perubahan positif bagi para mahasiswa dengan kekuatan intelektual yang tinggi, dan mampu mengkoneksikan antara penelitian dengan pembelajaran. Berbagai keuntungan pembelajaran berbasis penelitian adalah sebagai berikut:

  1. Mengkoneksikan antara teori, praktik, etik dan juga nilai;
  2. Memberi jaminan bahwa muatan bahan ajar adalah termasuk temuan hasil penelitian;
  3. Menambah pemahaman mahasiswa bahwa pilihan cabang ilmu yang dipelajarinya bisa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat; dan
  4. Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan serta kemampuan para mahasiswa yang meliputi:
    1. Keterampilan generik, seperti berfikir kritis, melakukan analisis, memperoleh kembali informasi dan mengevaluasinya, dan melakukan proses penyelesaian masalah; dan,
    2. Memiliki keterampilan dan kemampuan melakukan penelitian yang sangat baik untuk menjadi seorang profesional.

Kedua, menghasilkan banyak kesempatan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran, seperti pembelajaran dengan pengamatan lapangan (inquiry) dan ujicoba yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan hasil belajar para mahasiswa.

Kemudian, Alison Green lebih lanjut menjelaskan bahwa Research Based Learning memiliki konsep yang sangat kompleks dan multi aspek, yakni:

  1. Bahwa penelitian menghasilkan outcome pencapaian kurikulum pembelajaran;
  2. Bahwa proses penelitian juga merupakan bagian dari metode pembelajaran ;
  3. Bahwa proses penelitian juga merupakan bagian dari proses penggunaan alat-alat penelitian; dan,
  4. Bahwa proses penelitian akan menambah pengetahuan tentang luasnya konteks penelitian.

Strategi yang pernah digunakan oleh Griffith University, Australia, untuk pelaksanaan Research Based Learning (RBL) adalah sebagai berikut:[3]

  1. Pertegas program penelitian dan rencana pembelajaran (lesson plan), dengan menjelaskan bahwa penelitian ini menjadi bagian dalam proses pembelajaran, materi pembelajaran (subject matter) yang sedang dipelajari mahasiswa. Selain itu, ajak mahasiswa program magister atau doktor untuk membahas tema penelitian yang akan ditugaskan pada para mahasiswa.
  2. Berikan penjelasan yang cukup tentang hasil penelitian terkini dalam fokus yang ditugaskan pada para mahasiswa, dengan mengkontektualisasikan penelitian mereka pada teori terakhir hasil penelitian dalam fokus yang sama.
  3. Rancang aktifitas belajar di sekitar fokus penelitian yang menggambarkan perkembangan kontemporer tentang teori-teori yang mereka pelajari. Perintahkan para mahasiswa untuk mempelajari fokus kajian terakhir yang diteliti para peneliti, sehingga penelitian mereka tidak mereplikasi penelitian sebelumnya, tapi justru akan memperkaya teori dalam fokus kajian yang mereka lakukan.
  4. Ajarkan pada para mahasiswa metode penelitian praktis, dan beberapa keterampilan praktis yang akan dibutuhkan dalam pelaksanaan penelitian.
  5. Kembangkan tugas penelitian dalam skala yang sangat kecil sehingga memungkinkan mereka melakukannya dalam semester berjalan. Berikanlah tugas yang memungkinkan mereka mengerjakannya secara kolektif sehingga bisa melakukan proses belajar selama penelitian melalui diskusi-diskusi tentang teori dan metode, analisis data, dan perumusan kesimpulan sebagai temuan hasil penelitian.
  6. Libatkan para mahasiswa dalam proyek penelitian di program studi, sehingga benar-benar merasa menjadi bagian dari sebuah proyek besar, dan jadikan mereka sebagai asisten peneliti dari para dosen di program studi.
  7. Dorong para mahasiswa agar merasa sebagai bagian dari budaya penelitian dari program studi, mereka harus diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitiannya dalam sebuah seminar kecil di program studi, atau justru melakukan hosting terhadap presentasi peneliti lain.
  8. Tanamkan nilai-nilai dasar penelitian dalam perkuliahan, seperti objektifitas, penghargaan kepada fakta dan data, penghargaan atas pandangan dan pendapat orang lain, toleransi atas kerancuan atau kekakuan dalam proses penelitian, proses pengumpulan data, analisis data, dan proses pengambilan kesimpulan.

Inilah salah satu bentuk belajar berbasis penelitian, dimana program penelitian merupakan bagian dari lesson plan yang disampaikan dosen pada para mahasiswa. Brigid Barron dan Linda Darling-Hammond dari Standford University menyebutnya sebagai Project Based Learning (PBL), sebuah proses pembelajaran berbasis penelitian yang melibatkan tugas yang sangat kompleks. Menurut kedunya, terdapat lima komponen kunci keberhasilan PBL, yakni 1) fokus pada kurikulum, diorganisir dalam seputar pertanyaan yang akan membawa mahasiswa pada pemahaman konsep, 2) fokus pada proses constructive investigation yang melibatkan proses pencarian data, 3) menganalisis data dan membangun sebuah kesimpulan sebagai pengetahuan baru yang diperolehnya, 4) mahasiswa bertanggung jawab untuk merancang pekerjaan dan melaksanakannya dalam sebuah aktifitas yang sangat independen, dan 5) authentic, yakni fokus pada data yang benar-benar ada dalam kenyataan.[4] Pembelajaran dengan penelitian seperti ini, tidak akan memerlukan tatap muka penuh dalam satu semester, tapi beberapa tatap muka menjadi bagian dari proses penelitian, karena berbagai teori yang seharusnya mereka pelajari dalam tatap muka di kelas, justru akan mereka pelajari di perpustakaan dalam proses penyampaian rancangan penelitian mereka, atau justru dalam proses analisis data untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang makna data yang mereka dapatkan di lapangan. Belajar dengan model RBL atau PBL ini akan mengefisiensikan waktu belajar, karena terintegrasi dalam proses penelitian, dan akan semakin efektif karena mereka temukan sendiri teori yang mereka pelajari.

Gesa Sonja Elsa van den Broek, peneliti OECD, bahkan menyebutnya sebagai Fostering Communities of  Learning (FCL), karena RBL atau PBL sebagai sebuah model kemajuan teknologi pendidikan berbasis teori constructivism, menawarkan suasana belajar yang demokratis, berbasis siswa, dilaksanakan dengan proses pengamatan lapangan (inquiry), diorientasikan untuk memperoleh pemahaman sempurna tentang teori dan teknologi, tugas-tugas yang otentik, penelitian ilmiah yang dilaksanakan secara kolaboratif (antara mahasiswa dengan mahasiswa, dan mahasiswa dengan dosen), dan terjadi pembelajaran resiprokal.[5] FCL yang didorongkan oleh Gesa ini, pada hakikatnya adalah Research Based Learning yang merupakan bagian dari tugas pembelajaran para mahasiswa di kelas mereka dalam semester berjalan. Hanya saja, dengan FCL ini, para mahasiswa mempelajari teori secara bersama di perpustakaan, mengkaji data dengan teori, dan melahirkan sebuah kesimpulan terhadap fenomena atau variabel yang diamatinya.

Implementasi model ini kemudian berkembang di dunia akademik, khususnya di perguruan tinggi yang mengintegrasikan program penelitian dan layanan pendidikan dan pengajaran, tidak hanya untuk satu mata kuliah, tapi justru penelitian mikro yang terbatas itu kemudian bisa dikembangkan menjadi karya akhir, bahkan untuk tesis dan disertasi. Tradisi akademik ini berkembang di berbagai perguruan tinggi di dunia, sebagaimana dijelaskan oleh Georgeta Ion, Romiță Iucu, dan Jorge Palacio-Vieira, dari Center for Development and Innovation in Higher Education, Bucharest Rumania, bahwa untuk memperkuat pemahaman dan penguasaan teori, para mahasiswa dibimbing oleh para dosen untuk melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan teori dalam pekerjaan profesi. Dengan kata lain, para mahasiswa mengamati bagaimana teori tersebut bekerja dalam pekerjaan profesional. Tradisi akademik ini akan memperkuat pamahaman mereka terhadap berbagai teori yang dipelajari, melalui proses pengumpulan data yang relevan, melakukan analisis terhadap data yang mereka dapatkan, dan merumuskan kesimpulan. Proses-proses tersebut akan melahirkan interaksi resiprokal antara pengetahuan dengan proses pengamatan, analisis dan penyimpulan dalam menumbuhkan pemahaman terhadap pengetahuan baru.[6]

Tradisi akademik serupa juga dikembangkan dalam proses pendidikan di program magister dan program doktor dalam sistem pendidikan di Indonesia, hanya saja konsistensi para mahasiswa dan supervisor untuk merumuskan fokus penelitian dan pengembangan proses interaksi resiprokal antara teori dan praktik, sering kurang terjaga dengan baik, sehingga posisi penelitian untuk memperkuat penguasaan teori terkadang menjadi bias. Ditambah pula, bahwa kini tesis dan disertasi sudah didorong menjadi program independen untuk menghasilkan sebuah karya akademik yang dapat memperkuat teori yang telah ada, mengkritik teori yang ada dan meng-update-nya sesuai data yang berkembang di lapangan profesi, bahkan mungkin menghasilkan teori baru yang benar-benar baru, berbeda dengan teori sebelumnya, atau bahkan belum ada sama sekali. Untuk kepentingan RBL, fokus kajian tesis dan disertasi bisa diarahkan pada penguatan pemahaman teori melalui proses integrasi teori, data, dan proses analisis data, dengan kurikulum mata kuliah yang mereka dalami. Penelitian dengan supervisi para dosen tersebut akan mendapatkan dua hasil sekaligus, yakni kematangan penguasaan teori dan rumusan teori baru. Khusus hasil terakhir, mengandung tiga kemungkinan pola perumusan, yaitu penguatan terhadap teori yang ada, penyempurnaan teori yang sudah ada, atau benar-benar melahirkan teori baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Model lain dari RBL adalah para dosen mendisain program pembelajaran dengan menginsersi beberapa pokok bahasan dalam kelas dari hasil penelitian terkini, yang dilakukannya sendiri. Para mahasiswa tidak diberi tugas proyek untuk melakukan penelitian, tapi justru dibebani kepercayaan mulia untuk melakukan validasi terhadap teori baru yang ditemukan dosennya dalam penelitian profesional yang dia lakukan. kajian kritis mahasiswa akan semakin memperkuat validitas teori yang ditemukannya untuk kemudian dikembangkan menjadi penelitian lanjutan, atau untuk publikasi internasional. Dengan skema penugasan-penugasan akademik seperti ini, perguruan tinggi benar-benar hadir sebagai lembaga akademik yang menghasilkan teori dan teknologi, dan para dosen dan mahasiswa terlibat penuh dalam inisiasi, perancangan, pengkajian, penyimpulan, validasi, dan bahkan publikasi.

Terakhir, inilah tradisi akademik di kalangan profesi pendidik, ketika seorang guru melakukan inovasi pembelajaran dalam kelas, tidak hanya menyangkut proses pembelajaran siswa itu sendiri, melainkan juga kurikulum, manajemen kelas, dan evaluasi. Inovasi yang mereka kembangkan dalam setiap semester itu dicatat, divealuasi, dibahas, dan disimpulkan, sehingga ditemukan model baru, teori baru atau setidaknya praktik baru yang secara akademik membawa perbaikan proses dan hasil belajar siswa. Tradisi akademik ini biasa disebut dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang merupakan terjemahan dari Classroom Action Research (CAR). Dosen atau mahasiswa bisa bermitra dengan para guru di sekolah atau madrasah, dan mereka menjadi observer, lalu mereka membahas bersama, memvalidasi temuan penelitian bersama-sama, dan membuat laporan serta mempublikasikan hasil penelitiannya secara bersama. Dengan tradisi akademik seperti ini, dinamika ilmu, teori, teknologi dan instrumen yang diperlukan dalam peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan, akan sangat berkontribusi terhadap pemajuan sektor pendidikan. Wallahu A’lam bi al-Shawab

 

Daftar Bacaan

 

Barron, Brigid, dan Linda Darling Hammond,Teaching for Meaningful Learning: A Review of Research on Inquiry-Based and Cooperative Learning, Edutopia (The George Lucas Educational foundation), Stanford University, USA, 2008.

 

Degaldo, Cesar, Development of a Research-Based Learning Progression for Middle School Through Undergraduate Students’ Conceptual Understanding of Size and Scale, The University of Michigan, USA, 2009.

Green, Alison, Good Practice Guide on Research Based Learning, Griffith Institute For Higher Education (GIHE), visit www.giffith.au.edu/gihe.

Ion, Georgeta, Romiță Iucu1, dan Jorge Palacio-Vieira, Research-Based Teaching and Learning in Higher Education: The Perspective of Postgraduate Students, Proceeding paper at the Center for Development and Innovation in Higher Education, Romania, 2011.

Sonja, Gesa, Elsa van den Broek, Innovative Research-Based Approaches to Learning and Teaching, OECD Education Working Papers, No. 79, OECD, 2012.

[1] Cesar Degaldo, Development of a Research-Based Learning Progression for Middle School Through Undergraduate Students’ Conceptual Understanding of Size and Scale, The University of Michigan, USA, 2009, p. 15.

[2] Alison Green, Good Practice Guide on Research Based Learning, Grifith Institute For Higher Education (GIHE), visit www.giffith.au.edu/gihe.

[3] Alison Green, Good Practice Guide on Research Based Learning.

[4]Brigid Barron dan Linda Darling Hammond, Teaching for Meaningful Learning: A Review of Research on Inquiry-Based and Cooperative Learning, Edutopia The George Lucas Educational foundation, Stanford University, USA, 2008, p. 3.

[5]Gesa Sonja Elsa van den Broek,Innovative Research-Based Approaches to Learning and Teaching, OECD Education Working Papers, No. 79, OECD, 2012, p. 5

[6]Georgeta Ion, Romiță Iucu1, dan Jorge Palacio-Vieira, Research-Based Teaching and Learning in Higher Education: The Perspective of Postgraduate Students, Proceeding paper at the Center for Development and Innovation in Higher Education, Romania, 2011.

Share This