Pembelajaran Bahasa Arab Terjebak pada Belajar Tata Bahasa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Prof Dr Harun Nasution, BERITA UIN Online– Pembelajaran Bahasa Arab di lembaga pendidikan selama ini masih terjebak pada gramatikal (tata bahasa). Akibatnya, orang kesulitan terlebih dahulu bahkan merasa takut. Pembelajaran yang demikian mendorong siswa atau mahasiswa tidak senang belajar Bahasa Arab.

“Jadi jangan belajar Bahasa Arab hanya untuk kepentingan Bahasa Arab. Apalagi hanya berkutat pada i’rab, mabny, mazid, dan lain-lain,” ujar Guru Besar Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta Prof Dr Aziz Fahrurozi MA pada seminar nasional bertajuk “Pengajaran Bahasa Arab Berorientasi Masa Depan,” di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Senin (8/4/2013).

Menurutnya, pembelajaran Bahasa Arab model demikian, itu hanya pada penguasaan aspek kompetensi linguistik. Padahal terdapat aspek lain yang harus diperhatikan, misalnya, aspek sosiolinguistik, kompetensi strategik, dan kompetensi analisa wacana. “Kita butuh wawasan lain yang lebih nilai jual, sehingga Bahasa Arab bisa menjadi lebih produktif dan menjanjikan,” sarannya.

Untuk kepentingan itu, katanya, diperlukan guru atau dosen yang pandai dalam berbagai metode pembelajaran. Alasannya, rata-rata siswa/mahasiswa senang atau tidak dengan pelajaran tertentu itu tergantung cara dan strategi guru/dosen menyampaikan pelajaran itu. Demikian pula halnya Bahasa Arab.

“Kesuksesan pembelajaran Bahasa Arab ada di tangan guru dan dosen yang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran, baik yang terkait dengan kendala linguistik mapun nonlinguistik, dengan menawarkan solusi yang cepat dan tepat,” imbuhnya.

Dijelaskannya, pembelajaran Bahasa Arab ke depan harus dikaitkan untuk kepentingan ekonomi, diplomasi, budaya, dan sebagainya, sehingga pembelajaran Bahasa Arab menjadi menarik. Mengenai hal ini, negara-negara Arab mestinya punya kepedulian terhadap negara-negara yang non-Arab (bukan penutur Arab).

“Daya tawar diplomasi ekonomi bisa dilakukan dengan Arabisasi produk-produk ekspor negara-negaraTimur Tengah. Ini akan mendorong perlunya pembahasaan atau alih bahasa dari bahasa asal ke dalam Bahasa Arab, termasuk dalam bidang tenaga kerja, investasi, dan lain-lainnya,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Dr Agus Trianto, anggota Perumus Kurikulum 2013, menyatakan, pembeljaran Bahasa Arab di Indoensia sangat penting. Hal ini dapat dipahami, karena mayoritas bangsa Indonesia adalah muslim.

“Untuk keberhasilan pembelajaran Bahasa Arab itu tergantung guru atau dosen bagaimana menyampaikan bahasa itu. Guru dan dosen jangan sekedar memberi tahu saja ketika mengajar. Inilah pentingnya Kurikulum 2013 bagaimana guru dan dosen membuat siswa dan mahasiswa belajar,” katanya.

Selain dihadiri mahasiswa, seminar yang dihelat Jurusan Bahasa Arab FITK ini, juga dihadiri sejumlah guru Bahasa Arab Madrasah Aliyah (MA), dosen, dan tamu undangan. (D Antariksa/Saifudin)