Pembaca Berita Harus Andal Merangkai Kata

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Marisha Arianti Agustin

Teater Fidikom, BERITA UIN Online – Seorang pembaca berita harus memiliki kemampuan dalam merangkai kata-kata. Selain itu, konsentrasi penuh dan berbicara meyakinkan di depan kamera juga diperlukan ketika seorang jurnalis melaporkan berita langsung dari tempat kejadian perkara (TKP).

Hal itu diungkapkan Michael Tjandra, pembaca berita RCTI, dalam Pelatihan Jurnalistik Televisi bertema “Menjadi Generasi Jurnalis Hebat dalam Media yang Dekat” yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik bekerja sama dengan RCTI di ruang teater Prof Dr Aqib Suminto lantai dua Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Selasa (27/9). Pelatihan digelar masih dalam rangkaian acara “Jurnalistik Fair 2011”.

Selain itu, Inne Sudjono, pembaca berita senior RCTI, juga menjadi narasumber dalam pelatihan ini dengan tema “Public Speaking”.

Michael mengungkapkan, kemampuan merangkai kata-kata diperlukan agar jurnalis bisa berbicara dan menjelaskan rangkaian peristiwa yang terjadi secara logis dan sistematis. “Untuk itu, gunakanlah kata-kata singkat, padat, dan lugas ketika melaporkan berita secara langsung,” ujarnya.

Menurutnya, penggunaan kata-kata harus bisa dimengerti oleh semua khalayak. Di antaranya penggunaan ejaan yang disempurnakan (EYD) dengan benar dan tidak dilebih-lebihkan. Ia juga mengungkapkan, membacakan berita juga harus menyesuaikan tema berita yang dibacakan. Misalnya, berita duka cita, seorang pembaca berita perlu melembutkan intonasi suara dan terlihat empati di depan kamera. “Intonasi berbeda juga dilakukan saat membaca berita kriminal, politik atau kuliner,” ujarnya.

Pelatihan ini tidak hanya diisi oleh penyajian materi oleh narasumber, tetapi kedua narasumber juga memberikan simulasi atau praktek dengan mengajak para peserta berani mencoba menjadi pembaca berita dengan menghadap kamera langsung. Menurut Michael, hal ini dilakukan agar peserta bisa merasakan langsung berbicara dengan fokus menghadap kamera. Beberapa peserta terlihat gugup karena belum terbiasa berhadapan dengan kamera langsung.

“Mulai saat ini, kenali bakat dan potensi diri sendiri,” ujar Michael. Menurutnya, dengan melatih vokal, intonasi, mimik wajah serta dengan banyak berbicara di depan cermin seperti pembaca berita televisi dapat melatih kepercayaan diri.