Pemanasan Global Mengancam Habitat Manusia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Penulis : Luthfi Destianto

 

Aula SC, UINJKT Online - Penduduk di berbagai belahan dunia kini sedang dilanda kekhawatiran. Betapa tidak, global warming atau pemanasan global telah menjadi ancaman serius habitat manusia. Berbagai peristiwa alam yang terjadi di berbagai negara, menjadi bukti empiris akan terjadinya pemanasan global.

Dosen sekaligus Peneliti Fakultas Sains dan Teknologi Dr Agus Salim mengatakan, di Asia, pencairan gletser di Himalaya telah meningkatkan kejadian banjir dan tanah longsor di negara Daerah Aliran Sungai (DAS) Gangga dan Brahmaputra seperti India, Pakistan, dan Banglades yang mengancam daerah berpenduduk lebih dari satu milyar itu.

“Sedang di Lautan Arktik, luasan rata-rata laut es berkurang 27 persen per dekade dengan temperatur rata-rata meningkat dua kali lebih cepat dibanding belahan dunia lain,” ujarnya dalam Seminar Nasional Global Warming bertema : “Percepatan Difusi Sains dan Teknologi dalam Menghadapi Masalah Pemanasan Global di Indonesia” yang digelar Program Studi (Prodi) Biologi di Aula Student Centre, Sabtu, (20/12).

Pemanasan global, lanjut Agus, disebabkan adanya peningkatan gas rumah kaca yang diakibatkan illegal loging dan kebakaran hutan di bidang kehutanan, bahan bakar fosil untuk minyak dan gas sebagai penyumbang utama di bidang energi,  emisi metana dari ternak dan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan di bidang pertanian, serta alat pendingin ruangan dan lemari pendingin (kulkas) di bidang energi.

 

Agus menambahkan, berbagai dampak yang timbul akibat pemanasan global ialah ketika kenaikan temperature telah mempercepat siklus hidrologi yang menyebabkan atmosfer lebih hangat sehingga hujan turun lebih lebat dan lama, panas yang lebih besar juga mempercepat proses evaporasi sehingga menurunkan kualitas dan kuantitas air bersih.

 

Selain itu, dampak kenaikan muka laut yang besar hingga satu meter pada 2100 akan terjadi jika lapisan es terus mencair seiring dengan kenaikan temperatur “Banjir dan krisis air bersih akan terus mengancam habitat manusia,” ujarnya.

 

Dalam presentasinya, Agus merekomendasikan enam pilar tahapan mitigasi untuk mengatasi pemanasan global. Pemanasan global dapat diatasi dengan pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan, menangani kesenjangan sumber daya melalui instrumen inovatif yang ada untuk pembiayaan konsensional, dan memfasilitasi pembangunan mekanisme pasar yang efektif.

 

“Solusi lainnya, dengan menciptakan lingkungan yang memampukan dan memanfaatkan pembiayaan sektor swasta, mengakselerasi penyebaran teknologi ramah lingkungan baru, dan meningkatkan penelitian, kebijakan, dan pembangunan kapasitas” imbuhnya. (Nif/Ed)

 

Pemanasan Global Mengancam Habitat Manusia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Penulis : Luthfi Destianto

 

Aula SC, UINJKT Online - Penduduk di berbagai belahan dunia kini sedang dilanda kekhawatiran. Betapa tidak, global warming atau pemanasan global telah menjadi ancaman serius habitat manusia. Berbagai peristiwa alam yang terjadi di berbagai negara, menjadi bukti empiris akan terjadinya pemanasan global.

Dosen sekaligus Peneliti Fakultas Sains dan Teknologi Dr Agus Salim mengatakan, di Asia, pencairan gletser di Himalaya telah meningkatkan kejadian banjir dan tanah longsor di negara Daerah Aliran Sungai (DAS) Gangga dan Brahmaputra seperti India, Pakistan, dan Banglades yang mengancam daerah berpenduduk lebih dari satu milyar itu.

“Sedang di Lautan Arktik, luasan rata-rata laut es berkurang 27 persen per dekade dengan temperatur rata-rata meningkat dua kali lebih cepat dibanding belahan dunia lain,” ujarnya dalam Seminar Nasional Global Warming bertema : “Percepatan Difusi Sains dan Teknologi dalam Menghadapi Masalah Pemanasan Global di Indonesia” yang digelar Program Studi (Prodi) Biologi di Aula Student Centre, Sabtu, (20/12).

Pemanasan global, lanjut Agus, disebabkan adanya peningkatan gas rumah kaca yang diakibatkan illegal loging dan kebakaran hutan di bidang kehutanan, bahan bakar fosil untuk minyak dan gas sebagai penyumbang utama di bidang energi,  emisi metana dari ternak dan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan di bidang pertanian, serta alat pendingin ruangan dan lemari pendingin (kulkas) di bidang energi.

 

Agus menambahkan, berbagai dampak yang timbul akibat pemanasan global ialah ketika kenaikan temperature telah mempercepat siklus hidrologi yang menyebabkan atmosfer lebih hangat sehingga hujan turun lebih lebat dan lama, panas yang lebih besar juga mempercepat proses evaporasi sehingga menurunkan kualitas dan kuantitas air bersih.

 

Selain itu, dampak kenaikan muka laut yang besar hingga satu meter pada 2100 akan terjadi jika lapisan es terus mencair seiring dengan kenaikan temperatur “Banjir dan krisis air bersih akan terus mengancam habitat manusia,” ujarnya.

 

Dalam presentasinya, Agus merekomendasikan enam pilar tahapan mitigasi untuk mengatasi pemanasan global. Pemanasan global dapat diatasi dengan pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan, menangani kesenjangan sumber daya melalui instrumen inovatif yang ada untuk pembiayaan konsensional, dan memfasilitasi pembangunan mekanisme pasar yang efektif.

 

“Solusi lainnya, dengan menciptakan lingkungan yang memampukan dan memanfaatkan pembiayaan sektor swasta, mengakselerasi penyebaran teknologi ramah lingkungan baru, dan meningkatkan penelitian, kebijakan, dan pembangunan kapasitas” imbuhnya. (Nif/Ed)