Pelajaran Wikileaks

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Pemuatan berita kabel-kabel diplomatik rahasia Kedutaan Besar AS yang disadap Wikileaks oleh dua koran terkemuka Australia The Age dan The Sydney Morning Herald pekan lalu (11/3/11) jelas menggegerkan. Ada kesan, The Age berusaha ‘menurunkan’ kadar kebenaran bocoran yang dimuat sebagai berita utama pada halaman satu dengan meletakkan tanda kutip dalam judul beritanya yang berbunyi: Yudhoyono ‘abused power’-menyalahgunakan kekuasaan. Begitu juga judul pada The Sydney Morning Herald yang terbaca: Corruption allegations against Yudhoyono-tuduhan-tuduhan korupsi terhadap Yudhoyono. Dengan judul-judul seperti itu, kedua koran ini seolah bersikap ‘netral’.

Meski mengesankan diri untuk ‘netral’ dan sebaliknya mengalihkan soal kebenaran atau ketidakbenaran isi bocoran itu kepada pihak lain semacam Kedubes AS, yang pasti bocoran Wikileaks itu telah mengguncang Presiden SBY dan istrinya Kristiani Yudhyono yang disebut-sebut sebagai telah menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan politik sendiri. Pemuatan bocoran itu, seperti dikemukakan Presiden SBY sendiri merupakan pembunuhan karakter  (character assasination) yang sangat merugikan integritas dan kredibilitasnya.

Kedua koran arus utama Australia ini-bukan ‘tabloid kuning’-tersebut terlihat berusaha menghormati hak jawab Presiden SBY dengan menurunkan berita bantahan-bantahan dari berbagai pejabat tinggi Indonesia sehari kemudian. The Age menurunkan berita berjudul: ‘President Rejects Corruption Claim’ (Presiden Menolak Klaim Korupsi), sedangkan The Sydney Morning Herald memuat bantahan bernada sama yang dimuat pada halaman 16.

Maka, pelajaran pertama dari kasus ini adalah tampilnya sikap tipikal ‘hak jawab’ yang diberikan media umumnya kepada orang-orang yang dirugikan pemuatan berita tertentu oleh media. Bantahan itu lazimnya hanya dimuat dalam ukuran dan tempat lebih kecil, yang sering terlewatkan para pembaca. Sedangkan berita pertama yang menggegerkan dimuat pada kolom berita utama halaman satu.

Hasilnya, pemuatan hak jawab itu sering tidak menolong figur-figur yang telah tercemar dalam pemberitaan pertama. Dengan kata lain; kerusakan terhadap figur-figur yang disebutkan tadi telah terjadi (damage has been done), yang sangat boleh jadi amat sulit dipulihkan kembali, meski ada bantahan-bantahan. Integritas dan kredibilitas orang-orang yang disebut-sebut telah melakukan berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan telah tercemar baik di dalam maupun luar negeri.

Pelajaran kedua adalah bahwa ‘kabar angin’, rumor atau gunjingan dan bisik-bisik di kalangan masyarakat dapat menjadi sesuatu yang sangat serius ketika jatuh ke tangan kalangan kedutaan asing, yang kemudian mencatat dan mencoba ‘mengonfirmasikannya’ lewat sumber-sumber yang sering tidak jelas. Kalaupun ada ‘informan’ yang disebutkan, semacam TB Silalahi yang merupakan lingkaran satu Presiden SBY, ia membantah habis-habisan sebagai salah satu sumber ‘informasi’ yang disebutkan dalam bocoran Wikileaks yang sering disebut sebagai ‘sampah’ itu.

Harus diakui, dunia Indonesia sejak masa Orde Baru sampai sekarang adalah dunia yang penuh rumor, kabar burung, dan desas desus, yang sulit ditemukan fakta yang membenarkan atau menolaknya-sangat sering seolah-olah terasakan, tetapi terbuktikan tidak. Situasi semacam ini tampaknya kian meningkat belakangan ini ketika trust yang merupakan salah satu modal sosial yang urgen kian menipis di kalangan masyarakat kita.

Karena ‘nasi sudah jadi bubur’, dan ketika rumor dan kabar burung itu sudah menjadi ‘kabar’ publik, tidak ada alternatif lain yang bisa dilakukan mereka yang disebut-sebut dalam pemberitaan bocoran itu kecuali memberikan data dan fakta yang membuktikan ketidakbenarannya. Jalan hukum bisa ditempuh, seperti pernah dilakukan almarhum Presiden Soeharto yang menggugat majalah Time yang memberitakan tentang kekayaannya yang menurut berita itu diperoleh melalui penyalahgunaan kekuasaan.

Karena itu, pelajaran terakhir yang bisa diambil dari kasus bocoran Wikileaks  ini adalah agar setiap pemimpin dalam lembaga apa pun-khususnya dalam posisi-posisi puncak untuk berhati-hati dalam setiap kebijakan dan langkahnya; memastikan agar setiap langkahnya tidak menimbulkan spekulasi dan rumor di kalangan masyarakat. Kini kebijakan dan langkah seolah tidak lagi bisa terlindungi, dan tersembunyi rapat dalam dokumen rahasia pihak tertentu. Jika dokumen diplomatik rahasia AS yang konon begitu ketat pengamanannya bisa bocor ke Wikileaks, apalagi kira-kira yang bisa disebut rahasia di jagat raya ini?

Kasus Wikileaks sekali lagi menunjukkan, kemajuan teknologi komunikasi instan selain membawa berkah kemudahan bagi umat manusia untuk berjaringan sosial satu sama lain, juga menimbulkan banyak dampak negatif. Yang terakhir ini adalah pengungkapan informasi rahasia-terlepas apakah itu rumor atau tidak-yang bisa mengguncangkan jagat politik di negara tertentu, termasuk di Indonesia. Di sinilah-sekali lagi-setiap orang, khususnya para pejabat, agar berpikir ulang sebelum melakukan sesuatu yang dapat saja menimbulkan rumor dan gunjingan yang kemudian menjadi ‘berita besar’ oleh media.

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tulisan ini dimuat pada Harian Republika, Kamis, 17 Maret 2011