Gedung FITK, Berita UIN Online— Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), FITK, UIN Jakarta menggelar seminar Menghargai Perbedaan; Pendidikan Toleransi untuk Anak dan diskusi buku Indonesia Zamrud Katulistiwa di Ruang Teater FITK, Kamis (23/3/2017). Seminar menghadirkan tiga narasumber, Wakil Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama Dr Syafiq Hasyim MA, Dosen  UIN Jakarta Ala’i Nadjib MA, dan Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Paramadina dan Senior Advisor to Indonesian Human Rights Committee for Social Justice/IHCS Hendry Simarmata.

Dalam sambutannya, Ketua Jurusan PBSI Dr Makyun Subuki M.Si mengatakan, penyelenggaraan seminar dan bedah buku dengan tema utama toleransi diharapkan menjadi bagian penguatan semangat penghargaan atas realitas keberbedaan di tanah air. Akhir-akhir ini, katanya, semangat penghargaan demikian acapkali terganggu dengan banyaknya konflik kepentingan yang mengorbankan sikap saling toleransi.

“Kita amat mengharapkan, diskusi kali ini bisa menumbuhkan kesadaran sivitas akademik tentang adanya realitas yang berbeda. Bahwa kita hidup bersama-sama dalam kondisi keragaman, suku banga, agama, pilihan politik dan lainnya,” katanya.

Dalam paparannya, Hendry mengungkapkan, Indonesia merupakan model negara dengan kekayaan latar belakang kultural. Selain bahasa, suka bangsa, pilihan politik, keragaman juga ditampilkan dengan beragamnya keyakinan agama masyarakatnya. “Keragaman ini menuntut pengelolaan luar biasa dari pengambil kebijakan di satu sisi dan penumbuhan kesadaran warga negara untuk saling menghargai dan menerima keberbedaan di sisi lain,” kata dia.

Sementara Ala’i mengatakan, semangat penghargaaan di antara masyarakat seringkali tercederai oleh adanya pihak-pihak yang kurang bisa menghargai keragaman. Dominasi mayoritas atas minoritas seringkali menjadi logika komunikasi masyarakat. “Penumbuhan kesadaran di kalangan mahasiswa menjadi salah satu jalan pengurangan resiko tersebut,” katanya.

Adapun Syafiq mengatakan, dari sudut pandang keagamaan, Islam telah mengajarkan konsep tasamuh bagi umatnya. Tasamuh yang secara logika bahasa Arab menunjukkan makna ‘saling’ mengajarkan pentingnya masyarakat untuk saling menghargai perbedaan di sekitar mereka. “Implementasinya, sikap tasamuh mengharuskan kita juga berempati, menempatkan diri pada realitas keragaman, dan tidak menggunakan standar kita dalam mengukur yang lain,” tandasnya. (Farah NH/-yuni nurkamaliah/zuhrotul uyun/zm)

Share This