Bandung, BERITA UIN Online – Kualitas guru besar di perguruan tinggi juga banyak menentukan kualitas sebuah perguruan tinggi. Karena itu, sebagai etalase perguruan tinggi, para guru besar harus memberikan peran fundamental dalam kemajuan pendidikan Islam di Indonesia.

Pernyataan di atas digulirkan Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin MA dalam Rapat Kerja Pimpinan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bertajuk “Prospek dan Arah Perkembangan PTKI”, kemarin.

Kamaruddin ingin mengurai lebih jauh bahwa dengan jumlah guru besar yang banyak di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), PTKI optimis Indonesia akan menjadi destinasi pendidikan Islam dunia. Argumen Kamaruddin berpijak pada satu fakta bahwa Indonesia memiliki modal sosial untuk menjadi kiblat model pendidikan Islam.

“Dengan jumlah guru besar yang banyak, model pendidikan yang distingtif serta sumberdaya manusia yang mendukung, Indonesia ke depan akan menjadi pusat studi Islam dunia,” papar Kamaruddin.

Di tepi lain, alumnus  Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universitat Bonn ini, melihat banyak guru besar yang masuk birokrat tak mampu menciptakan karya monumental sebagai jejak pemikirannya seorang guru besar. Seorang akademikus, seorang guru besar jika masuk dalam birokrasi akan selalu berurusan dengan hal-hal teknis.

“Tapi jika seorang akademikus atau guru besar tak menjadi birokrat dan tak mampu menciptakan karya monumental sebagai produksi ilmu pengetahuan, ini menjadi persoalan,” ungkap Kamaruddin.

Untuk itu bagi Kamaruddin, perlu menghidupkan PTKI yang punya garansi kualitatif dalam mengemban misi besar sebagai PTKI. Dan khususnya UIN Jakarta orientasi harus ditekankan pada mutu bukan pada akses membangun jaringan ke perguruan tinggi luar negeri atau pengakuan dunia luar.

“Universitas Al Azhar tak peduli pengakuan dari dunia. Al Azhar fokus pada model pendidikan distingtif sumber daya manusia. Bagaimana karya-karya dari para guru besar dan para dosen Al Azhar bisa dibaca oleh banyak kalangan di dunia,” tegas Kamaruddin.

Untuk mendukung lahirnya tradisi keilmuan dalam PTKI, satu hal yang harud diperhatikan adalah perpustakaan. Bagi Kamaruddin, tidak ada perguruan tinggi yang besar di dunia ini yang tidak memiliki perpustakaan yang bagus. Perpustakaan adalah jantung perguruan tinggi, infrastruktur yang paling vital yang harus ada dalam sebuah lembaga perguruan tinggi dan harus memiliki sarana prasarana yang baik.

“Jika kita melihat perpustakaan maju di belahan dunia baik itu di Eropa maupun di wilayah Timur Tengah, perpustakaan merupakan pusat perhatian utama yang harus dikembangkan,” tutur pria kelahiran Wajo, 5 Januari 1969 ini. (Farah/zm)