Panglima TNI: Kearifan Lokal dan Budi Pekerti Sebagai Modal Pertahankan NKRI

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan Kuliah Kebangsaan di UIN Jakarta. Acara yang mengangkat tema Menguatkan Kebhinekaan Untuk Indonesia Maju dan Berkeadaban tersebut dilaksanakan di Auditorium Harun Nasution kampus I UIN Jakarta, Selasa (29/11).

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan Kuliah Kebangsaan di UIN Jakarta. Acara yang mengangkat tema Menguatkan Kebhinekaan Untuk Indonesia Maju dan Berkeadaban tersebut dilaksanakan di Auditorium Harun Nasution kampus I UIN Jakarta, Selasa (29/11).

Auditorium, BERITA UIN Online— Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan Kuliah Kebangsaan di UIN Jakarta. Acara yang mengangkat tema Menguatkan Kebhinekaan Untuk Indonesia Maju dan Berkeadaban tersebut dilaksanakan di Auditorium Harun Nasution kampus I UIN Jakarta, Selasa (29/11).

Dalam penyampaiannya, secara umum Gatot mengajak seluruh peserta yang hadir untuk bersama-sama menjaga kedaulatan NKRI dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan bermaksud memecah belah persatuan dan kesatuan Indonesia.

“Mari kembali pada nilai luruh bangsa ini. Mengerti bahwa cinta dan peduli kepentingan bangsa di atas segalanya. Individu yang kaya bukan jaminan menjadikan bangsa ini sejahtera, tetapi negara yang kaya dan dikelola secara arif dan bijaksana akan membuat rakyatnya sejahtera,” ungkap Jenderal kelahiran Tegal, 56 tahun yang lalu itu.

Masih menurut Gatot, saat ini bangsa Indonesia tengah menghadapi Proxy War. Pasalnya, negara ini seolah telah menjadi kepanjangan tangan dari suatu negara yang berupaya mendapatkan kepentingan strategis, namun menghindari keterlibatan secara langsung dalam peperangan tersebut.

“Oleh karena itu, seluruh komponen bangsa harus membekali diri dengan pengetahuan, keterampilan, dan wawasan yang luas ditambah dengan pengalaman yang nyata di lapangan agar terbentuk pribadi yang kuat, berkarakter serta budi pekerti yang baik, sehingga mampu menangkal dan melawan proxy war di negeri tercinta ini,”jelasnya.

Di akhir sambutannya, Jenderal bintang empat tersebut berharap agar lembaga pendidikan tidak hanya membekali anak didiknya dengan teori-teori keilmuan semata. Lebih dari itu, mencetak generasi yang berkarakter, arif dan bijaksana, serta memiliki jiwa patriotisme yang berimplikasi pada nilai-nilai nasionalisme juga dipandang sebagai sebuah kewajiban dan dibutuhkan bangsa ini.

“Mari kita persiapkan diri dan bahu-membahu antar komponen bangsa, untuk melaksanakan dan menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita agar senantiasa menjaga kedaulatan Ibu Pertiwi yang kita cintai ini,” tandas panglima.

Di tempat sama, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA dalam sambutannya mengatakan, UIN Jakarta dengan jumlah sedikitnya 27.000 mahasiswa serta menerima 5.500 mahasiswa  baru setiap tahunnya, telah diakui dunia dengan beberapa program studinya yang mampu bersaing di kancah internasional.

“UIN Jakarta dengan seluruh komponen di dalamnya, senantiasa menciptakan iklim Islam yang moderat, toleran, dan harmonis dalam rangka mengaktualisasikan islam yang sebenarnya yaitu rahmatan lil ‘alamin,” terang Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Jakarta tersebut.

Ditambahkannya, Indonesia sebagai negara yang terdiri dari berbagai agama, budaya, bahasa dan adat-istiadat, disikapi UIN Jakarta sebagai kekayaan bangsa yang perlu senantiasa dijaga kerukunannya.

“UIN Jakarta memberikan kesempatan yang luas untuk semua kalangan yang ingin belajar dan mempelajari tentang Keislaman. Hal ini terbukti, dengan adanya mahasiswa protestan dan dua mahasiswa Konghucu yang belajar Studi Islam di Sekolah Pasca Sarjana,” terangnya.

Sebagai informasi, acara yang diikuti sedikitnya 3000 mahasiswa dan segenap jajaran pimpinan UIN Jakarta tersebut, dimulai pukul 09.15 s.d 13.30 WIB serta berlangsung tertib, aman, dan hangat. (lrf/ikhda)