Pangeran Charles, Islam, dan Lingkungan Hidup

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Subjek lingkungan hidup telah menjadi salah satu tema pokok sejak dasawarsa 1990-an. Dan tema ini kian menemukan momentumnya sejak awal milenium 2000-an dalam kaitannya dengan pemanasan global. Wacana tentang kombinasi antara kerusakan lingkungan hidup yang dipandang turut menjadi penyebab pemanasan global bahkan telah menjadi sebuah ‘ideologi’ baru. Dan sebagai sebuah ‘ideologi’ terdapat kalangan masyarakat, khususnya di Barat, yang bahkan memperjuangkan dengan cara-cara radikal, seperti terlihat dari aksi-aksi kelompok Green Peace, misalnya.

Tetapi, tidak banyak orang yang melihat kerusakan lingkungan dan pemanasan global dalam kaitan dengan agama. Bagaimana pandangan agama terhadap masalah ini, dan apa tawaran yang diberikan agama untuk mengatasinya. Nyaris absennya pembicaraan tentang agama dan lingkungan hidup dan pemanasan global, khususnya di Barat, jelas banyak terkait dengan pandangan dunia masyarakat Barat itu sendiri.

Karena itu, sangat relevan dan tepat waktu ketika Pangeran Charles, ahli waris takhta Kerajaan Inggris pada 9 Juni 2010 lalu berbicara tentang agama, khususnya Islam dan lingkungan hidup. Memberikan orasi dalam peringatan 25 tahun Oxford Centre for Islamic Studies di Oxford University, Pangeran Charles yang beberapa tahun terakhir berada pada barisan terdepan penyelamatan lingkungan hidup dan mengurangi pemanasan global, menegaskan tentang pentingnya keterlibatan umat beragama dalam menanggulangi kerusakan lingkungan hidup dan pemanasan global sebelum segalanya menjadi amat terlambat. 

Menurut Pangeran Charles, agama-agama dunia sama-sama memiliki fokus sangat kuat pada penyelamatan lingkungan hidup yang merupakan ciptaan dan anugerah Tuhan kepada umat manusia. Karena itu, ia mengimbau umat beragama di berbagai penjuru dunia menghubungkan diri kembali dengan ajaran-ajaran agama masing-masing.

Kerusakan lingkungan hidup sekarang ini bukan hanya karena industrialisasi, pengembangan teknologi, dan pengejaran pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebab sikap manusia yang keliru tentang hubungan dengan alam. “Manusia adalah part [bagian] dari alam, bukan apart [terpisah] dari alam. Dan karena itu harus selalu hidup dalam sarana dan batas alam,” ujar Pangeran Charles dalam orasi yang disebut media Inggris sebagai high profile itu.

Lebih jauh, Pangeran Charles yang pernah mengunjungi wilayah hutan di Provinsi Jambi dua tahun lalu dalam kampanye penyelamatan lingkungan hidup dan pengurangan pemanasan global menyatakan, jika manusia sekarang berbicara tentang krisis lingkungan atau bahkan krisis keuangan, sebenarnya mereka menggambarkan konsekuensi zahir dari krisis lebih dalam, yakni krisis batin.

“Itu adalah krisis dalam hubungan kita dengan alam, yang lahir dari kebudayaan Barat, yang dalam 200 tahun terakhir didominasi pendekatan reduksionis dan mekanistik terhadap pemahaman saintifik kita atas dunia di sekitar kita.” Sebab itu, pemecahan masalahnya bukan pada teknologi lebih baik, tetapi dalam penemuan kembali kekayaan batin dalam cara berpikir dan bertindak. Dan, tradisi sakral agama memiliki kapasitas untuk membantu memperbaiki keadaan.

Di sinilah Pangeran Charles melihat bahwa Barat bisa belajar dari Islam tentang bagaimana seharusnya bersikap terhadap alam. Ia menekankan, agama ini mengajarkan tidak adanya pemisahan antara manusia dan alam; persisnya karena tiadanya pemisahan antara Tuhan dan alam semesta. Islam juga melarang perusakan alam. “Dari apa yang saya ketahui tentang Alquran, berulang kali kitab suci ini menekankan bahwa alam semesta ini merupakan karya kekuasaan Tuhan yang Mahakasih.”  

Menurut Pangeran Charles yang selama lebih dari 30 tahun memberikan perhatian khusus pada Islam, Alquran menawarkan perspektif integratif tentang alam semesta di mana agama dan sains, jiwa dan raga merupakan bagian dari kesatuan yang hidup dan sadar. Kita semua adalah makhluk yang terbatas yang tercakup dalam sesuatu yang tidak terbatas; dan setiap kita adalah makro-kosmos dan suatu kesatuan.

Bagi Pangeran Charles, mempertimbangkan perspektif Islam tentang lingkungan hidup, Dunia Muslim adalah penjaga dan perawat salah satu perbendaharaan kebijaksanaan spiritual terbesar yang tersedia bagi umat manusia.    

Penegasan Pangeran Charles jelas sangat membantu dalam memberikan perspektif lebih akurat tentang Islam, khususnya tentang penyelamatan lingkungan hidup dan pemanasan global. Sepatutnya pula Dunia Islam membantu Pangeran Charles lewat aktualisasi ajaran Islam tentang lingkungan hidup, karena seperti kita saksikan kaum Muslimin masih sering melakukan berbagai tindakan kontradiktif bagi penyelamatan lingkungan-yang tentu saja melanggar ajaran Islam.

 

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Republika, Kamis, 15 Juli 2010

Penulis adalah Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pangeran Charles, Islam, dan Lingkungan Hidup

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Subjek lingkungan hidup telah menjadi salah satu tema pokok sejak dasawarsa 1990-an. Dan tema ini kian menemukan momentumnya sejak awal milenium 2000-an dalam kaitannya dengan pemanasan global. Wacana tentang kombinasi antara kerusakan lingkungan hidup yang dipandang turut menjadi penyebab pemanasan global bahkan telah menjadi sebuah ‘ideologi’ baru. Dan sebagai sebuah ‘ideologi’ terdapat kalangan masyarakat, khususnya di Barat, yang bahkan memperjuangkan dengan cara-cara radikal, seperti terlihat dari aksi-aksi kelompok Green Peace, misalnya.

Tetapi, tidak banyak orang yang melihat kerusakan lingkungan dan pemanasan global dalam kaitan dengan agama. Bagaimana pandangan agama terhadap masalah ini, dan apa tawaran yang diberikan agama untuk mengatasinya. Nyaris absennya pembicaraan tentang agama dan lingkungan hidup dan pemanasan global, khususnya di Barat, jelas banyak terkait dengan pandangan dunia masyarakat Barat itu sendiri.

Karena itu, sangat relevan dan tepat waktu ketika Pangeran Charles, ahli waris takhta Kerajaan Inggris pada 9 Juni 2010 lalu berbicara tentang agama, khususnya Islam dan lingkungan hidup. Memberikan orasi dalam peringatan 25 tahun Oxford Centre for Islamic Studies di Oxford University, Pangeran Charles yang beberapa tahun terakhir berada pada barisan terdepan penyelamatan lingkungan hidup dan mengurangi pemanasan global, menegaskan tentang pentingnya keterlibatan umat beragama dalam menanggulangi kerusakan lingkungan hidup dan pemanasan global sebelum segalanya menjadi amat terlambat. 

Menurut Pangeran Charles, agama-agama dunia sama-sama memiliki fokus sangat kuat pada penyelamatan lingkungan hidup yang merupakan ciptaan dan anugerah Tuhan kepada umat manusia. Karena itu, ia mengimbau umat beragama di berbagai penjuru dunia menghubungkan diri kembali dengan ajaran-ajaran agama masing-masing.

Kerusakan lingkungan hidup sekarang ini bukan hanya karena industrialisasi, pengembangan teknologi, dan pengejaran pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebab sikap manusia yang keliru tentang hubungan dengan alam. “Manusia adalah part [bagian] dari alam, bukan apart [terpisah] dari alam. Dan karena itu harus selalu hidup dalam sarana dan batas alam,” ujar Pangeran Charles dalam orasi yang disebut media Inggris sebagai high profile itu.

Lebih jauh, Pangeran Charles yang pernah mengunjungi wilayah hutan di Provinsi Jambi dua tahun lalu dalam kampanye penyelamatan lingkungan hidup dan pengurangan pemanasan global menyatakan, jika manusia sekarang berbicara tentang krisis lingkungan atau bahkan krisis keuangan, sebenarnya mereka menggambarkan konsekuensi zahir dari krisis lebih dalam, yakni krisis batin.

“Itu adalah krisis dalam hubungan kita dengan alam, yang lahir dari kebudayaan Barat, yang dalam 200 tahun terakhir didominasi pendekatan reduksionis dan mekanistik terhadap pemahaman saintifik kita atas dunia di sekitar kita.” Sebab itu, pemecahan masalahnya bukan pada teknologi lebih baik, tetapi dalam penemuan kembali kekayaan batin dalam cara berpikir dan bertindak. Dan, tradisi sakral agama memiliki kapasitas untuk membantu memperbaiki keadaan.

Di sinilah Pangeran Charles melihat bahwa Barat bisa belajar dari Islam tentang bagaimana seharusnya bersikap terhadap alam. Ia menekankan, agama ini mengajarkan tidak adanya pemisahan antara manusia dan alam; persisnya karena tiadanya pemisahan antara Tuhan dan alam semesta. Islam juga melarang perusakan alam. “Dari apa yang saya ketahui tentang Alquran, berulang kali kitab suci ini menekankan bahwa alam semesta ini merupakan karya kekuasaan Tuhan yang Mahakasih.”  

Menurut Pangeran Charles yang selama lebih dari 30 tahun memberikan perhatian khusus pada Islam, Alquran menawarkan perspektif integratif tentang alam semesta di mana agama dan sains, jiwa dan raga merupakan bagian dari kesatuan yang hidup dan sadar. Kita semua adalah makhluk yang terbatas yang tercakup dalam sesuatu yang tidak terbatas; dan setiap kita adalah makro-kosmos dan suatu kesatuan.

Bagi Pangeran Charles, mempertimbangkan perspektif Islam tentang lingkungan hidup, Dunia Muslim adalah penjaga dan perawat salah satu perbendaharaan kebijaksanaan spiritual terbesar yang tersedia bagi umat manusia.    

Penegasan Pangeran Charles jelas sangat membantu dalam memberikan perspektif lebih akurat tentang Islam, khususnya tentang penyelamatan lingkungan hidup dan pemanasan global. Sepatutnya pula Dunia Islam membantu Pangeran Charles lewat aktualisasi ajaran Islam tentang lingkungan hidup, karena seperti kita saksikan kaum Muslimin masih sering melakukan berbagai tindakan kontradiktif bagi penyelamatan lingkungan-yang tentu saja melanggar ajaran Islam.

 

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Republika, Kamis, 15 Juli 2010

Penulis adalah Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta