Pak Gimin

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

 

Oleh: Azyumardi Azra

 

PAK Gimin. Saya bertemu dengan laki-laki seusia saya ini ketika duduk di sebuah palanta, bangku panjang dari kayu, di pinggir sebuah kota di Jawa Tengah, menjelang pekan terakhir Oktober 2008 lalu, ketika menunggu berlangsungnya sebuah acara. Pak Gimin adalah sopir bus milik pemerintah yang sudah menjadi PNS sejak 1975 setelah wiyata bhakti mengabdi honorer selama tujuh tahun.

 

Pak Gimin punya tiga orang anak: dua laki-laki dan seorang perempuan. Anak perempuannya kini kuliah di akademi kesehatan di kota tempatnya bekerja. Dua anak laki-lakinya yang tamat STM, yang katanya, ”Biarlah mereka berusaha mendapatkan pekerjaan sendiri agar tahu bagaimana sesungguhnya kehidupan. Biar mereka tahu agar tidak hanya bisa mengeluh, tahu bahwa dunia ini lebih daripada sekadar bergantung kepada orang tua. Anak-anak sekarang maunya hanya serbaenak, mengeluh, dan menyalahkan orang lain. Tapi, tak mau bekerja keras seperti bapaknya.”

 

Pak Gimin mengakui, ia tidak bisa terus ”menyusui” kedua anak laki-lakinya itu. Gajinya sebagai sopir PNS, menurut dia, tidak cukup. Tapi, dia bersyukur ada tambahan uang harian jika ditugaskan mengantar tamu pemerintah daerah. Padahal, setiap semester, dia harus mengeluarkan uang Rp 6 juta untuk SPP anaknya di Akademi Kesehatan. Belum lagi untuk  belanja harian putrinya itu, ”Minimal Rp 30 ribu untuk ongkos transportasi dan makan siang.” Tapi, Pak Gimin tak mengeluh dan juga tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Sebaliknya, dia bersyukur bisa hidup cukup baik–meski bersahaja–membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya.

 

Pak Gimin adalah gambaran banyak masyarakat kita. Ia adalah potret kita. Ia adalah potret orang tua yang dengan susah payah mencari nafkah yang halal untuk anak-anaknya dan berdaya upaya bagi pendidikan yang baik bagi mereka. Ia adalah potret keluh kesah banyak orang tua yang melihat anak-anak mereka hanya bisa menuntut, mengeluh, dan menyalahkan tanpa mau sungguh-sungguh belajar dan bekerja keras.

 

Pikiran Pak Gimin mungkin sederhana saja. Ia tidak bisa berkonsep yang macam-macam. Tapi, banyak nada kebenaran dalam pikirannya yang sederhana itu: polos, jujur, dan terus terang, bahkan kepada orang yang baru dia kenal sekalipun, yang kebetulan saja ketemu.

 

Meski sederhana, saya terperangah mendengar penuturan Pak Gimin. Apalagi, sepanjang pertengahan sampai akhir Oktober ini, saya beberapa kali diundang menjadi pembicara tentang generasi muda, tentang remaja, mahasiswa, dan pemuda dalam kaitannya dengan peringatan Sumpah Pemuda 1928 yang tahun ini sudah mencapai usia 80 tahun. Suatu masa yang tidak singkat. Suatu peristiwa yang tampaknya tidak akan lenyap dalam ”ingatan bersama”: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa–Indonesia.

Seperti banyak dikeluhkan dalam forum-forum semacam itu, generasi muda Indonesia hari ini boleh jadi masih hafal Sumpah Pemuda. Tapi, mungkin tidak banyak yang memahami tempat krusial Sumpah Pemuda 1928 dalam perjalanan bangsa dan negara Indonesia ini sampai menjadi Indonesia hari ini. Inilah yang membuat generasi tua–khususnya Angkatan 45 yang semakin berkurang dari hari ke hari–kian khawatir dan cemas. Jika generasi muda hari ini tidak lagi bisa memahami Sumpah Pemuda 1928 dan relevansinya dengan tantangan Indonesia hari ini dan esok, bagaimana bisa optimistis tentang masa depan negara-bangsa Indonesia?

 

Pada pihak lain, dalam forum-forum semacam ini, kita juga sudah terlalu sering mendengar keluhan generasi muda. Mereka merasakan tidak mendapatkan kesempatan untuk berkiprah dalam kehidupan bangsa, khususnya dalam kepemimpinan politik negeri ini. Kepemimpinan politik masih didominasi dan dihegemoni kaum tua. Padahal, kata mereka, sejak zaman pergerakan sampai masa kemerdekaan dan pascamerdeka, Indonesia dipimpin orang-orang yang masih termasuk pemuda: sejak Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, bahkan sampai Soeharto.

 

Wacana dan perdebatan seperti ini–yang dimulai Pak Gimin–sangat boleh jadi mencerminkan adanya ”generation gap”, ketimpangan antargenerasi, dalam kehidupan bangsa dewasa ini. Generasi tua atau setengah tua hari ini, yang pernah mengalami masa-masa sulit, baik dalam kehidupan perseorangan, masyarakat, maupun kebangsaan, cenderung melihat generasi muda sekarang hanya bisa mengeluh, menuntut, bahkan sebagai spoiled, manja. Dan, sebaliknya, generasi muda kini dengan realitas dan pengalaman yang berbeda menghasilkan visi, karakter, dan sikap yang berbeda pula dengan pandangan generasi lebih tua.

 

Kesenjangan generasi mestilah diatasi bersama jika kepemimpinan dan masa depan negara-bangsa ini dapat kian terus membaik di masa depan. Dialog dan pertukaran pikiran serta pengalaman antargenerasi menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak untuk menjadi agenda bangsa. Hanya dengan cara seperti itu, dapat tercipta saling pengertian antargenerasi sekaligus terbina kesinambungan kepemimpinan di tengah berbagai perubahan yang tidak bisa dielakkan dalam berbagai aspek kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.*

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 6 Nopember 2008

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta

Pak Gimin

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

 

Oleh: Azyumardi Azra

 

PAK Gimin. Saya bertemu dengan laki-laki seusia saya ini ketika duduk di sebuah palanta, bangku panjang dari kayu, di pinggir sebuah kota di Jawa Tengah, menjelang pekan terakhir Oktober 2008 lalu, ketika menunggu berlangsungnya sebuah acara. Pak Gimin adalah sopir bus milik pemerintah yang sudah menjadi PNS sejak 1975 setelah wiyata bhakti mengabdi honorer selama tujuh tahun.

 

Pak Gimin punya tiga orang anak: dua laki-laki dan seorang perempuan. Anak perempuannya kini kuliah di akademi kesehatan di kota tempatnya bekerja. Dua anak laki-lakinya yang tamat STM, yang katanya, ”Biarlah mereka berusaha mendapatkan pekerjaan sendiri agar tahu bagaimana sesungguhnya kehidupan. Biar mereka tahu agar tidak hanya bisa mengeluh, tahu bahwa dunia ini lebih daripada sekadar bergantung kepada orang tua. Anak-anak sekarang maunya hanya serbaenak, mengeluh, dan menyalahkan orang lain. Tapi, tak mau bekerja keras seperti bapaknya.”

 

Pak Gimin mengakui, ia tidak bisa terus ”menyusui” kedua anak laki-lakinya itu. Gajinya sebagai sopir PNS, menurut dia, tidak cukup. Tapi, dia bersyukur ada tambahan uang harian jika ditugaskan mengantar tamu pemerintah daerah. Padahal, setiap semester, dia harus mengeluarkan uang Rp 6 juta untuk SPP anaknya di Akademi Kesehatan. Belum lagi untuk  belanja harian putrinya itu, ”Minimal Rp 30 ribu untuk ongkos transportasi dan makan siang.” Tapi, Pak Gimin tak mengeluh dan juga tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Sebaliknya, dia bersyukur bisa hidup cukup baik–meski bersahaja–membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya.

 

Pak Gimin adalah gambaran banyak masyarakat kita. Ia adalah potret kita. Ia adalah potret orang tua yang dengan susah payah mencari nafkah yang halal untuk anak-anaknya dan berdaya upaya bagi pendidikan yang baik bagi mereka. Ia adalah potret keluh kesah banyak orang tua yang melihat anak-anak mereka hanya bisa menuntut, mengeluh, dan menyalahkan tanpa mau sungguh-sungguh belajar dan bekerja keras.

 

Pikiran Pak Gimin mungkin sederhana saja. Ia tidak bisa berkonsep yang macam-macam. Tapi, banyak nada kebenaran dalam pikirannya yang sederhana itu: polos, jujur, dan terus terang, bahkan kepada orang yang baru dia kenal sekalipun, yang kebetulan saja ketemu.

 

Meski sederhana, saya terperangah mendengar penuturan Pak Gimin. Apalagi, sepanjang pertengahan sampai akhir Oktober ini, saya beberapa kali diundang menjadi pembicara tentang generasi muda, tentang remaja, mahasiswa, dan pemuda dalam kaitannya dengan peringatan Sumpah Pemuda 1928 yang tahun ini sudah mencapai usia 80 tahun. Suatu masa yang tidak singkat. Suatu peristiwa yang tampaknya tidak akan lenyap dalam ”ingatan bersama”: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa–Indonesia.

Seperti banyak dikeluhkan dalam forum-forum semacam itu, generasi muda Indonesia hari ini boleh jadi masih hafal Sumpah Pemuda. Tapi, mungkin tidak banyak yang memahami tempat krusial Sumpah Pemuda 1928 dalam perjalanan bangsa dan negara Indonesia ini sampai menjadi Indonesia hari ini. Inilah yang membuat generasi tua–khususnya Angkatan 45 yang semakin berkurang dari hari ke hari–kian khawatir dan cemas. Jika generasi muda hari ini tidak lagi bisa memahami Sumpah Pemuda 1928 dan relevansinya dengan tantangan Indonesia hari ini dan esok, bagaimana bisa optimistis tentang masa depan negara-bangsa Indonesia?

 

Pada pihak lain, dalam forum-forum semacam ini, kita juga sudah terlalu sering mendengar keluhan generasi muda. Mereka merasakan tidak mendapatkan kesempatan untuk berkiprah dalam kehidupan bangsa, khususnya dalam kepemimpinan politik negeri ini. Kepemimpinan politik masih didominasi dan dihegemoni kaum tua. Padahal, kata mereka, sejak zaman pergerakan sampai masa kemerdekaan dan pascamerdeka, Indonesia dipimpin orang-orang yang masih termasuk pemuda: sejak Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, bahkan sampai Soeharto.

 

Wacana dan perdebatan seperti ini–yang dimulai Pak Gimin–sangat boleh jadi mencerminkan adanya ”generation gap”, ketimpangan antargenerasi, dalam kehidupan bangsa dewasa ini. Generasi tua atau setengah tua hari ini, yang pernah mengalami masa-masa sulit, baik dalam kehidupan perseorangan, masyarakat, maupun kebangsaan, cenderung melihat generasi muda sekarang hanya bisa mengeluh, menuntut, bahkan sebagai spoiled, manja. Dan, sebaliknya, generasi muda kini dengan realitas dan pengalaman yang berbeda menghasilkan visi, karakter, dan sikap yang berbeda pula dengan pandangan generasi lebih tua.

 

Kesenjangan generasi mestilah diatasi bersama jika kepemimpinan dan masa depan negara-bangsa ini dapat kian terus membaik di masa depan. Dialog dan pertukaran pikiran serta pengalaman antargenerasi menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak untuk menjadi agenda bangsa. Hanya dengan cara seperti itu, dapat tercipta saling pengertian antargenerasi sekaligus terbina kesinambungan kepemimpinan di tengah berbagai perubahan yang tidak bisa dielakkan dalam berbagai aspek kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.*

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 6 Nopember 2008

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta