Olimpiade Beijing

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Bahwa pembukaan Olimpiade Beijing 2008 sangat spektakular, tidak perlu diperdebatkan lagi. Pembukaan Olimpiade bahkan dilakukan pada waktu yang dianggap ‘keramat’ 8-8-8; dan euforia angka-angka ini bahkan tidak hanya terjadi di Cina, bahkan kalangan tertentu di Tanah Air juga memperlakukan angka-angka 8 itu sebagai tanda keberuntungan. Mistik Olimpiade yang mewabah sampai ke Indonesia.

Pemerintah Cina jelas menjadikan Olimpiade sebagai proyek ‘mercusuar’ yang menghabiskan dana tidak kurang dari 42 miliar dolar AS untuk membangun dan memperbaiki berbagai infrastruktur. Daftarnya bisa panjang. Tapi untuk Olimpiade, Beijing membangun enam jalur baru kereta bawah tanah, 43 km jalur light-train, Terminal Tiga Bandara Beijing yang merupakan terminal terbesar di muka bumi, dan 12 km persegi Taman Olimpiade. Selain itu, membangun Stadion ‘Sarang Burung’, gedung CCTV (televisi milik pemerintah), dan gedung Pusat Aquatik Nasional. Inilah beberapa bangunan Olimpiade Beijing yang mulai diklaim sebagai ikon baru bangunan dunia.

Dengan biaya demikian besar, wajar jika Cina tidak hanya ingin berpayah-payah dan beroyal-ria. Bagi Cina, Olimpiade merupakan kesempatan terbaik untuk mewujudkan tekad kuat mengakhiri dominasi Amerika Serikat dalam ajang olahraga terbesar sejagat yang pertama kali diselenggarakan 1896 di Athena, Yunani. Memang, masih perlu ditunggu sepanjang Olimpiade ini, apakah Cina sebagai tuan rumah menggunakan segala cara untuk menang dan menjadi juara, seperti sering terlihat dalam kompetisi olahraga lainnya di mana tuan rumah melakukan cara tidak jujur untuk mengantongi medali terbanyak, khususnya medali emas.

Proyek Olimpiade Beijing yang mercusuar itu mengisyaratkan, Cina tidak lagi bisa diremehkan. Cina kini bukan lagi hanya salah satu kekuatan terbesar ekonomi dunia, tetapi juga kekuatan politik, budaya, dan juga olahraga. Kuatnya postur Cina ini membuatnya tetap tegar menghadapi kritik dan bahkan seruan ‘boikot’ dari kalangan yang mempersoalkan catatan Cina yang belum memuaskan dalam HAM di Tibet dan Xinjiang. Bahkan, Presiden AS George W Bush yang juga mengkritik catatan HAM Cina sebelum sampai ke Beijing, bahkan tampak bicara akrab melalui penerjemah dengan Presiden Cina, Hu Jintao, pada waktu menghadiri acara pembukaan Olimpiade tersebut. Olimpiade Beijing agaknya merupakan Olimpiade yang paling ‘politis’ sepanjang sejarah. Pemerintah Cina tentu saja berkeras, Olimpiade adalah peristiwa olahraga yang tidak ada hubungannya dengan politik.

Banyak kalangan Barat, khususnya AS, agak nervous dengan apa yang mereka anggap sebagai China Awakening. Memang, sejak Cina meluncurkan reformasi ekonominya pada 1979, ekonomi Cina tumbuh rata-rata 9 persen per tahun selama tiga dasawarsa. Setiap delapan tahun ukuran ekonominya berlipat dua; dan kini memegang cadangan mata uang asing terbesar di dunia, sebanyak 1,5 triliun dolar AS, tiga kali lipat dari cadangan seluruh Uni Eropa. Berbagai produk Cina yang murah meriah membanjiri pasar Eropa, Amerika, dan banyak bagian dunia lainnya.

Dengan kekuatan ekonomi seperti itu, Olimpiade Beijing merupakan kesempatan terbaik bagi Cina untuk lebih menegaskan dirinya. Kenapa hal ini masih sangat perlu dan penting bagi Cina? Dalam hal ini menarik sekali argumen Orville Schell dalam artikelnya ‘Inside the Games: China’s Agony of Defeat’ (Newsweek, 4 Agustus 2007), bahwa hampir mustahil memahami arti sangat pentingnya Olimpiade Beijing bagi pemerintah dan rakyat Cina tanpa memahami sejarah tentang penghinaan yang pernah mereka alami.

Cina memang pernah berkali-kali mengalami ‘penghinaan’ di tangan orang-orang asing. History of humiliation itu bermula dengan kekalahan Cina dalam Perang Candu, pertengahan abad ke-19. Berbarengan dengan itu, orang-orang Cina yang berimigrasi ke AS mendapatkan perlakuan yang sangat menghinakan. Pada saat yang sama Jepang berjaya dalam industrialisasinya yang membuat Cina sebagai underdog. Apalagi pada Perang Dunia II, Jepang juga menyerbu dan menduduki wilayah Cina. Sejarah pahit ini merupakan penghinaan yang sangat mempengaruhi psike dan identitas bangsa Cina, yang kemudian ditransformasikan menjadi daya dorong yang sangat kuat untuk bangkit. Ketika Mao Zedong mendirikan Republik Rakyat China (PRC) pada 1949, ia menegaskan: “Negara kita tidak akan pernah lagi menjadi sasaran peremehan dan penghinaan”.

Sebagian bangsa kita, Indonesia, mungkin pernah dan bahkan kian merasakan, juga pernah menjadi sasaran penghinaan kalangan luar; boleh jadi terkait dengan episode tertentu dalam sejarah dan kini dengan TKI kita di luar negeri. Jika kita mau belajar dari Cina, itu menyangkut transformasi kemarahan atas penghinaan menjadi dorongan kuat untuk bangkit dan membuktikan diri. Kemarahan dan komplain belaka tidak akan mengubah keadaan; harkat dan martabat bangsa hanya bisa dibangun kecuali dengan kerja keras dan upaya-upaya imajinatif dan kreatif.

Tulisan ini penah dimuat di Harian Republika, 14 Juli 2008

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Olimpiade Beijing

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Bahwa pembukaan Olimpiade Beijing 2008 sangat spektakular, tidak perlu diperdebatkan lagi. Pembukaan Olimpiade bahkan dilakukan pada waktu yang dianggap ‘keramat’ 8-8-8; dan euforia angka-angka ini bahkan tidak hanya terjadi di Cina, bahkan kalangan tertentu di Tanah Air juga memperlakukan angka-angka 8 itu sebagai tanda keberuntungan. Mistik Olimpiade yang mewabah sampai ke Indonesia.

Pemerintah Cina jelas menjadikan Olimpiade sebagai proyek ‘mercusuar’ yang menghabiskan dana tidak kurang dari 42 miliar dolar AS untuk membangun dan memperbaiki berbagai infrastruktur. Daftarnya bisa panjang. Tapi untuk Olimpiade, Beijing membangun enam jalur baru kereta bawah tanah, 43 km jalur light-train, Terminal Tiga Bandara Beijing yang merupakan terminal terbesar di muka bumi, dan 12 km persegi Taman Olimpiade. Selain itu, membangun Stadion ‘Sarang Burung’, gedung CCTV (televisi milik pemerintah), dan gedung Pusat Aquatik Nasional. Inilah beberapa bangunan Olimpiade Beijing yang mulai diklaim sebagai ikon baru bangunan dunia.

Dengan biaya demikian besar, wajar jika Cina tidak hanya ingin berpayah-payah dan beroyal-ria. Bagi Cina, Olimpiade merupakan kesempatan terbaik untuk mewujudkan tekad kuat mengakhiri dominasi Amerika Serikat dalam ajang olahraga terbesar sejagat yang pertama kali diselenggarakan 1896 di Athena, Yunani. Memang, masih perlu ditunggu sepanjang Olimpiade ini, apakah Cina sebagai tuan rumah menggunakan segala cara untuk menang dan menjadi juara, seperti sering terlihat dalam kompetisi olahraga lainnya di mana tuan rumah melakukan cara tidak jujur untuk mengantongi medali terbanyak, khususnya medali emas.

Proyek Olimpiade Beijing yang mercusuar itu mengisyaratkan, Cina tidak lagi bisa diremehkan. Cina kini bukan lagi hanya salah satu kekuatan terbesar ekonomi dunia, tetapi juga kekuatan politik, budaya, dan juga olahraga. Kuatnya postur Cina ini membuatnya tetap tegar menghadapi kritik dan bahkan seruan ‘boikot’ dari kalangan yang mempersoalkan catatan Cina yang belum memuaskan dalam HAM di Tibet dan Xinjiang. Bahkan, Presiden AS George W Bush yang juga mengkritik catatan HAM Cina sebelum sampai ke Beijing, bahkan tampak bicara akrab melalui penerjemah dengan Presiden Cina, Hu Jintao, pada waktu menghadiri acara pembukaan Olimpiade tersebut. Olimpiade Beijing agaknya merupakan Olimpiade yang paling ‘politis’ sepanjang sejarah. Pemerintah Cina tentu saja berkeras, Olimpiade adalah peristiwa olahraga yang tidak ada hubungannya dengan politik.

Banyak kalangan Barat, khususnya AS, agak nervous dengan apa yang mereka anggap sebagai China Awakening. Memang, sejak Cina meluncurkan reformasi ekonominya pada 1979, ekonomi Cina tumbuh rata-rata 9 persen per tahun selama tiga dasawarsa. Setiap delapan tahun ukuran ekonominya berlipat dua; dan kini memegang cadangan mata uang asing terbesar di dunia, sebanyak 1,5 triliun dolar AS, tiga kali lipat dari cadangan seluruh Uni Eropa. Berbagai produk Cina yang murah meriah membanjiri pasar Eropa, Amerika, dan banyak bagian dunia lainnya.

Dengan kekuatan ekonomi seperti itu, Olimpiade Beijing merupakan kesempatan terbaik bagi Cina untuk lebih menegaskan dirinya. Kenapa hal ini masih sangat perlu dan penting bagi Cina? Dalam hal ini menarik sekali argumen Orville Schell dalam artikelnya ‘Inside the Games: China’s Agony of Defeat’ (Newsweek, 4 Agustus 2007), bahwa hampir mustahil memahami arti sangat pentingnya Olimpiade Beijing bagi pemerintah dan rakyat Cina tanpa memahami sejarah tentang penghinaan yang pernah mereka alami.

Cina memang pernah berkali-kali mengalami ‘penghinaan’ di tangan orang-orang asing. History of humiliation itu bermula dengan kekalahan Cina dalam Perang Candu, pertengahan abad ke-19. Berbarengan dengan itu, orang-orang Cina yang berimigrasi ke AS mendapatkan perlakuan yang sangat menghinakan. Pada saat yang sama Jepang berjaya dalam industrialisasinya yang membuat Cina sebagai underdog. Apalagi pada Perang Dunia II, Jepang juga menyerbu dan menduduki wilayah Cina. Sejarah pahit ini merupakan penghinaan yang sangat mempengaruhi psike dan identitas bangsa Cina, yang kemudian ditransformasikan menjadi daya dorong yang sangat kuat untuk bangkit. Ketika Mao Zedong mendirikan Republik Rakyat China (PRC) pada 1949, ia menegaskan: “Negara kita tidak akan pernah lagi menjadi sasaran peremehan dan penghinaan”.

Sebagian bangsa kita, Indonesia, mungkin pernah dan bahkan kian merasakan, juga pernah menjadi sasaran penghinaan kalangan luar; boleh jadi terkait dengan episode tertentu dalam sejarah dan kini dengan TKI kita di luar negeri. Jika kita mau belajar dari Cina, itu menyangkut transformasi kemarahan atas penghinaan menjadi dorongan kuat untuk bangkit dan membuktikan diri. Kemarahan dan komplain belaka tidak akan mengubah keadaan; harkat dan martabat bangsa hanya bisa dibangun kecuali dengan kerja keras dan upaya-upaya imajinatif dan kreatif.

Tulisan ini penah dimuat di Harian Republika, 14 Juli 2008

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta