Obama dan Politik AS

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

Azyumardi Azra

MENURUT berbagai survei, seandainya warga internasional boleh ikut memberikan suara dalam Pemilu Amerika Serikat sekarang ini, mayoritas terbesar mereka akan memberikan suara kepada kandidat Partai Demokrat, Barack Obama. Dunia mungkin tidak lagi peduli dengan politik Amerika yang masih saja berbau WASP–White, Anglo Saxon, dan Protestan. Memang, hanya pernah ada satu presiden beragama Katolik, dia adalah JF Kennedy yang Anglo-Saxon. Obama jelas bukan Anglo Saxon. Meski ibunya kulit putih (the white), ia tidak lagi murni kulit putih; ia lebih kelihatan sebagai orang hitam (the black) walau sebagian orang hitam sendiri mempersoalkannya bahwa dia tidak cukup black. Jelas, ia adalah penganut Protestan.

Tapi, di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, Obama juga bakal menang mutlak seandainya warga Indonesia boleh ikut memilih. Ini bukan hanya karena visi dan misinya, tapi juga karena ia pernah tinggal dan sekolah di Jakarta selama lebih dari tiga tahun; ia meninggalkan semacam ikatan emosional di sini. Apalagi, seperti diceritakan Obama sendiri dalam Dreams from My Father (1995, 2004: 154), ”In Indonesia, I had spent two years at a Muslim school, two years at a Catholic school. In the Muslim school, the teacher wrote to tell my mother that I made faces during Koranic studies. My mother wasn’t overly concerned. ‘Be respectful’, she’d said. In the Catholic school, when it came to pray, I would pretend to close my eyes, then peek around the room.”

Obama juga bisa dipastikan menang di New York. Dalam percakapan dengan sejumlah warga Amerika ketika saya berada di New York pertengahan September 2008 lalu, saya juga menemukan dukungan luar biasa kepada Obama; bukan hanya karena ia pernah mendapatkan pendidikan di Columbia University, New York, tetapi juga karena visi dan misinya yang bagi masyarakat kosmopolitan New York City sangat kontekstual. New York sering disebut sebagai ”ibu kota dunia” yang kosmopolitan dan multikultural. Karena itu, New York berbeda banyak dengan kota-kota kecil Amerika yang warganya cenderung monokultural sehingga memiliki pandangan provinsialistik yang sempit dan lebih senang inward looking dan tidak peduli dan masyarakat di luar lingkungan mereka.

Obama, tidak ragu lagi, lebih kosmopolit dibandingkan McCain pesaingnya. Memiliki ibu kulit putih Amerika dan ayah kandung asal Kenya dan ayah tiri asal Indonesia, Obama jelas sudah terbiasa hidup dalam ”The World Beyond Our Borders”, dunia di luar tapal batas kita, seperti yang dia tulis dalam The Audacity of Hope (2006). Obama pun mengkritik sejawatnya warga Amerika yang provinsialistik, seperti yang ditulisnya, Most Americans can’t locate Indonesia on a map. Kebanyakan orang-orang Amerika tidak tahu lokasi Indonesia dalam sebuah peta. Jangankan Indonesia yang begitu jauh dari Amerika, saya juga menemukan banyak warga Amerika tidak tahu lokasi Meksiko yang merupakan salah satu negara tetangga langsung AS. Itulah sikap provinsialistik masyarakat Amerika.

Tapi, Obama menawarkan perspektif baru bagi masyarakat Amerika untuk melihat dunia dan berhubungan dengan masyarakat internasional. Bagi dia, banyak kebijakan luar negeri AS sudah ketinggalan zaman. Karena itu, perlu berbagai perubahan dan pendekatan baru (The Change We Can Believe in: Barack Obama’s Plan to Renew America’s Promise, 2008).
Di tengah peningkatan terorisme yang secara langsung telah menghantam Amerika pada peristiwa 11 September 2001, AS bisa memenangkan pertarungan dengan kembali tampil sebagai contoh dalam penghormatan atas nilai-nilai universal dan kebebasan. Reputasi dan otoritas Amerika penting dalam membalikkan arus perlawanan terhadap terorisme. Karena itu, Obama, jika terpilih, akan menghentikan kebijakan dan tindakan yang menghancurkan otoritas moral Amerika, seperti penggunaan kekerasan terhadap mereka yang dicurigai terlibat terorisme, penahanan tanpa batas, pengadilan di Guantanamo Bay, penerapan Patriot Act yang semena-mena, dan seterusnya.

Dalam konteks itu, Obama yang menentang perang AS di Irak sejak 2002 menawarkan penarikan pasukan Amerika dari Irak secara hati-hati dan bertahap sehingga Irak tidak tergelincir ke dalam kekerasan baru. Bagi Obama, kebijakan Presiden Bush menyerbu Irak merupakan respons yang sudah ketinggalan zaman dalam menghadapi terorisme. Seperti pernah diingatkan Obama jauh-jauh hari, invasi Amerika terhadap Irak hanya mengipas lidah api ekstremisme di Timur Tengah.

Amerika di bawah Presiden Bush memang terlalu mudah menggunakan kekuatan militer untuk melawan apa yang dia sebut sebagai ancaman terhadap kepentingan nasional Amerika. Tidak pernah jelas apa sesungguhnya kepentingan nasional tersebut. Karena itu, Pemerintahan Amerika selanjutnya–Obama jika terpilih–mestilah memandang dunia secara lebih arif dan tidak menempatkan Amerika sebagai negara yang paling berkuasa dan bisa menghitamputihkan dunia. Dunia bisa lebih damai jika pemerintahan Amerika lebih menggunakan soft-power dalam menghadapi dunia di sekelilingnya. Dan, Obama tampaknya memberikan harapan ke arah sana.*

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 9 Oktober 2008

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Obama dan Politik AS

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

Azyumardi Azra

MENURUT berbagai survei, seandainya warga internasional boleh ikut memberikan suara dalam Pemilu Amerika Serikat sekarang ini, mayoritas terbesar mereka akan memberikan suara kepada kandidat Partai Demokrat, Barack Obama. Dunia mungkin tidak lagi peduli dengan politik Amerika yang masih saja berbau WASP–White, Anglo Saxon, dan Protestan. Memang, hanya pernah ada satu presiden beragama Katolik, dia adalah JF Kennedy yang Anglo-Saxon. Obama jelas bukan Anglo Saxon. Meski ibunya kulit putih (the white), ia tidak lagi murni kulit putih; ia lebih kelihatan sebagai orang hitam (the black) walau sebagian orang hitam sendiri mempersoalkannya bahwa dia tidak cukup black. Jelas, ia adalah penganut Protestan.

Tapi, di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, Obama juga bakal menang mutlak seandainya warga Indonesia boleh ikut memilih. Ini bukan hanya karena visi dan misinya, tapi juga karena ia pernah tinggal dan sekolah di Jakarta selama lebih dari tiga tahun; ia meninggalkan semacam ikatan emosional di sini. Apalagi, seperti diceritakan Obama sendiri dalam Dreams from My Father (1995, 2004: 154), ”In Indonesia, I had spent two years at a Muslim school, two years at a Catholic school. In the Muslim school, the teacher wrote to tell my mother that I made faces during Koranic studies. My mother wasn’t overly concerned. ‘Be respectful’, she’d said. In the Catholic school, when it came to pray, I would pretend to close my eyes, then peek around the room.”

Obama juga bisa dipastikan menang di New York. Dalam percakapan dengan sejumlah warga Amerika ketika saya berada di New York pertengahan September 2008 lalu, saya juga menemukan dukungan luar biasa kepada Obama; bukan hanya karena ia pernah mendapatkan pendidikan di Columbia University, New York, tetapi juga karena visi dan misinya yang bagi masyarakat kosmopolitan New York City sangat kontekstual. New York sering disebut sebagai ”ibu kota dunia” yang kosmopolitan dan multikultural. Karena itu, New York berbeda banyak dengan kota-kota kecil Amerika yang warganya cenderung monokultural sehingga memiliki pandangan provinsialistik yang sempit dan lebih senang inward looking dan tidak peduli dan masyarakat di luar lingkungan mereka.

Obama, tidak ragu lagi, lebih kosmopolit dibandingkan McCain pesaingnya. Memiliki ibu kulit putih Amerika dan ayah kandung asal Kenya dan ayah tiri asal Indonesia, Obama jelas sudah terbiasa hidup dalam ”The World Beyond Our Borders”, dunia di luar tapal batas kita, seperti yang dia tulis dalam The Audacity of Hope (2006). Obama pun mengkritik sejawatnya warga Amerika yang provinsialistik, seperti yang ditulisnya, Most Americans can’t locate Indonesia on a map. Kebanyakan orang-orang Amerika tidak tahu lokasi Indonesia dalam sebuah peta. Jangankan Indonesia yang begitu jauh dari Amerika, saya juga menemukan banyak warga Amerika tidak tahu lokasi Meksiko yang merupakan salah satu negara tetangga langsung AS. Itulah sikap provinsialistik masyarakat Amerika.

Tapi, Obama menawarkan perspektif baru bagi masyarakat Amerika untuk melihat dunia dan berhubungan dengan masyarakat internasional. Bagi dia, banyak kebijakan luar negeri AS sudah ketinggalan zaman. Karena itu, perlu berbagai perubahan dan pendekatan baru (The Change We Can Believe in: Barack Obama’s Plan to Renew America’s Promise, 2008).
Di tengah peningkatan terorisme yang secara langsung telah menghantam Amerika pada peristiwa 11 September 2001, AS bisa memenangkan pertarungan dengan kembali tampil sebagai contoh dalam penghormatan atas nilai-nilai universal dan kebebasan. Reputasi dan otoritas Amerika penting dalam membalikkan arus perlawanan terhadap terorisme. Karena itu, Obama, jika terpilih, akan menghentikan kebijakan dan tindakan yang menghancurkan otoritas moral Amerika, seperti penggunaan kekerasan terhadap mereka yang dicurigai terlibat terorisme, penahanan tanpa batas, pengadilan di Guantanamo Bay, penerapan Patriot Act yang semena-mena, dan seterusnya.

Dalam konteks itu, Obama yang menentang perang AS di Irak sejak 2002 menawarkan penarikan pasukan Amerika dari Irak secara hati-hati dan bertahap sehingga Irak tidak tergelincir ke dalam kekerasan baru. Bagi Obama, kebijakan Presiden Bush menyerbu Irak merupakan respons yang sudah ketinggalan zaman dalam menghadapi terorisme. Seperti pernah diingatkan Obama jauh-jauh hari, invasi Amerika terhadap Irak hanya mengipas lidah api ekstremisme di Timur Tengah.

Amerika di bawah Presiden Bush memang terlalu mudah menggunakan kekuatan militer untuk melawan apa yang dia sebut sebagai ancaman terhadap kepentingan nasional Amerika. Tidak pernah jelas apa sesungguhnya kepentingan nasional tersebut. Karena itu, Pemerintahan Amerika selanjutnya–Obama jika terpilih–mestilah memandang dunia secara lebih arif dan tidak menempatkan Amerika sebagai negara yang paling berkuasa dan bisa menghitamputihkan dunia. Dunia bisa lebih damai jika pemerintahan Amerika lebih menggunakan soft-power dalam menghadapi dunia di sekelilingnya. Dan, Obama tampaknya memberikan harapan ke arah sana.*

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 9 Oktober 2008

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta