Nilai US Dollar Cenderung Menurun

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah Farihin

FEB, UIN Online – Praktisi ekonomi internasional Turki Prof Vildan Serin mengatakan, sejak akhir 1980-an hingga kini, nilai mata uang dolar Amerika Serikat (US Dollar) cenderung menurun. Menurunnya nilai mata uang ini dipicu penggunaan mata uang lain dalam perdagangan minyak bumi negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).

 

“Tak seperti pada tahun-tahun keemasannya yaitu 1960 sampai awal 1980-an, di mana negara-negara pengekspor minyak dunia diwajibkan Amerika Serikat dalam jual beli minyak buminya menggunakan mata uang US Dollar,” kata Serin dalam seminar bertajuk The Loss Of Relative Weight of The US Dollar as a Currency Reserve “Regional Currency Unit In Asia”, yang digelar BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di Ruang Teater, Kamis (5/11).

 

Disamping itu, menurut peserta dari Fourth International Conferency of The Asian Philosophical Association ini, menurunnya nilai mata uang US Dollar juga disebabkan perekonomian Amerika Serikat sangat kapitalis. Di mana antara sektor rill dan sektor keuangannya tidak lagi seimbang. Tragedi 11 September yang meruntuhkan gedung World Trade Center (WTC) dan krisis global akibat kredit perumahan macet (Subprime mortgage) juga memiliki andil melemahkan US Dollar.

 

“Ketika negara lain Eropa dan Asia bertahan dari krisis global, nilai mata uang US Dollar malah terus merosot. Bahkan menurut ramalan, tahun 2040 negara-negara di Asia terutama China, India, dan Jepang akan menjadi negara yang super power dan akan ditakuti dunia,” katanya. []

 

Nilai US Dollar Cenderung Menurun

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah Farihin

FEB, UIN Online – Praktisi ekonomi internasional Turki Prof Vildan Serin mengatakan, sejak akhir 1980-an hingga kini, nilai mata uang dolar Amerika Serikat (US Dollar) cenderung menurun. Menurunnya nilai mata uang ini dipicu penggunaan mata uang lain dalam perdagangan minyak bumi negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).

 

“Tak seperti pada tahun-tahun keemasannya yaitu 1960 sampai awal 1980-an, di mana negara-negara pengekspor minyak dunia diwajibkan Amerika Serikat dalam jual beli minyak buminya menggunakan mata uang US Dollar,” kata Serin dalam seminar bertajuk The Loss Of Relative Weight of The US Dollar as a Currency Reserve “Regional Currency Unit In Asia”, yang digelar BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di Ruang Teater, Kamis (5/11).

 

Disamping itu, menurut peserta dari Fourth International Conferency of The Asian Philosophical Association ini, menurunnya nilai mata uang US Dollar juga disebabkan perekonomian Amerika Serikat sangat kapitalis. Di mana antara sektor rill dan sektor keuangannya tidak lagi seimbang. Tragedi 11 September yang meruntuhkan gedung World Trade Center (WTC) dan krisis global akibat kredit perumahan macet (Subprime mortgage) juga memiliki andil melemahkan US Dollar.

 

“Ketika negara lain Eropa dan Asia bertahan dari krisis global, nilai mata uang US Dollar malah terus merosot. Bahkan menurut ramalan, tahun 2040 negara-negara di Asia terutama China, India, dan Jepang akan menjadi negara yang super power dan akan ditakuti dunia,” katanya. []