Ngobrol sampai Puasssss…!!!

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
COBA perhatikan bahasa-bahasa iklan yang selalu menghadang mata dan menyergap pikiran ke mana pun Anda pergi, ataupun begitu menghidupkan televisi dan radio serta membuka surat kabar dan majalah.

Bahasa itu menunjukkan karakter bangsa,tetapi bisa juga berperan membentuk karakter bangsa. Untuk membuktikan postulat ini sangat mudah. Setiap anak memiliki bahasa ibu, dan pasti karakternya akan dipengaruhi nilai-nilai dan tradisi yang melekat dan terawetkan dalam bahasa ibunya. Dan, pola ini akan berlangsung turun-temurun.

Beruntunglah kita memiliki bahasa nasional,bahasa Indonesia,yang berkembang sangat cepat dan mengagumkan penyebarannya dari Papua hingga Aceh sehingga menggeser bahasa-bahasa daerah pada tataran nasional. Kemenangan bahasa yang berasal dari Melayu ini bisa saja dipandang negatif karena mengalahkan dan menggusur bahasa serta tradisi daerah.Namun, positifnya jauh lebih banyak ketimbang negatifnya.

Karakter bahasa Melayu yang lebih egaliter sejalan dengan semangat modernitas,dunia bisnis,dan watak bangsa pelaut.Hanya,sejak kultur dan pusat kekuasaan beralih ke wilayah pertanian yang dikomandoi Pak Harto dan kawan-kawan,gaya feodalisme keraton dan petani serta hierarki kemiliteran sangat kental memengaruhi dunia politik dan birokrasi Indonesia, sehingga proses demokratisasi tidak berlangsung mulus.

Bayangkan, andaikan penduduk Indonesia yang multietnis dan multibahasa serta tersebar di ribuan pulau tidak memiliki bahasa nasional, betapa mahal dan lambannya proses komunikasi sosial, perdagangan, keilmuan, dan politik. Mereka akan tinggal dalam pulau-pulau budaya, bahasa,dan agama yang terpisahkan dari yang lain.

Puber Handphone

Lewat tulisan ini, saya ingin mengajak Anda untuk sejenak mengamati dan memaknai bahasa-bahasa iklan yang tersebar di berbagai ruang publik.

Perjalanan bangsa ini mengalami berbagai loncatan budaya sehingga menimbulkan berbagai kekagetan. Bayangkan,berapa lama kita hidup dalam suasana penjajahan yang mendorong serangkaian pergolakan dan pemberontakan di berbagai wilayah Nusantara. Akibatnya, masyarakat kita mengidap karakter suka berontak, marah dan sedikit sekali memiliki kebiasaan membaca,menulis,dan melakukan penelitian ilmiah.

Masyarakat kita belum memiliki tradisi kuat sebagai ”citizen” atau warga negara, tetapi lebih merasa sebagai bagian dari komunitas primordialnya. Keterikatan dan kesetiaan pada kelompoknya lebih menguat ketimbang kesadaran sebagai warga negara. Kecuali itu, tradisi bicara-dengar lebih kuat ketimbang tulis-baca. Parahnya lagi, ketika tradisi tulis-baca belum kuat, tiba-tiba dilanda gelombang budaya baru yang dibawa oleh dunia televisi yang kemudian menciptakan gaya hidup baru di sebagian masyarakat,yaitu menonton dan gosip.

Coba saja lakukan penelitian, berapa jam televisi dihidupkan, acara apa saja yang paling disenangi, lalu pengaruh apa yang dimunculkan, pasti sangat menarik dan manfaat untuk direnungkan. Beberapa hari lalu,Prof Dr Fawzia Aswin Hadis, pakar psikologi,bercerita dan membuat saya terperangah. Pembantu rumah tangganya menghabiskan gaji bulanannya hanya untuk membeli pulsa handphone (HP).

Bahkan, sempat mengutang untuk mengisi pulsa HP-nya yang sudah habis. Biasanya mereka sambil masak atau menonton televisi sambil ngobrol dengan temannya lewat HP. Atau sambil senyum-senyum membaca dan saling berbalasan pesan singkat lewat layanan SMS. Tampaknya, komunitas yang senang ngobrol dan berbicara serta tukar gosip melalui HP semakin meluas, tidak saja di kalangan politisi di Senayan,melainkan sudah merambah sampai ke lingkungan para pembantu rumah tangga.

Bagi para produsen dan pengusaha pulsa serta jasa telekomunikasi, tren ber-HP ria ini tentu merupakan pasar dan tambang emas yang mendatangkan keuntungan luar biasa. Diperkirakan, biaya iklan bisnis ini bisa mencapai Rp5 triliun setahun. Kalau perkiraan ini benar, sungguh merupakan angka yang fantastis! Dan yang membayar iklan sebesar itu, siapa lagi kalau bukan masyarakat pengguna telepon.

Dari pengalaman berkunjung dan mengikuti berbagai pertemuan di luar negeri,kesan saya masyarakat Indonesia paling menonjol dan senang ngobrolatau ber-SMS dengan HP,di mana pun berada. Bahkan,waktu salat atau pertemuan resmi pun sering kali dering HP-nya berbunyi sehingga mengganggu suasana.

Ada lagi yang berbicara dengan keras dan tertawatawa di tengah forum pertemuan sehingga mengganggu yang lain.Lucunya,ini dilakukan mereka yang berpendidikan tinggi. Di antara iklan pulsa berbunyi: Ngobrol sampai puassss….!!!. Iklan ini merupakan kalimat mantra pengusaha pulsa, dan juga mencerminkan budaya kita yang memang lebih senang ngobrol, senang berwacana, ataupun pidato, tetapi kurang produktif dalam berkarya nyata.

Ini juga sejalan dengan jumlah sarjana kita yang didominasi ilmuwan sosial yang lebih senang berdebat dan berteori terus. Penggunaan HP juga masuk pada wilayah politik dan jaringan pekerja demonstrasi. Setiap hari berseliweran pesan SMS campur aduk antara yang benar dan salah, yang fiktif dan realitas,antara nasihat bijak dan fitnah keji. Semua ini tentu tidak bisa dilarang,tetapi fenomena itu merupakan cerminan kualitas masyarakat dan peradaban bangsa kita.

Lama-lama, bunyi iklan itu tidak saja: Ngobrol sampai puasss….!!!, tetapi berkembang menjadi: Demonstrasi terus sampai lelah!, Tiada hari tanpa demonstrasi! dan seterusnya. Di lingkungan pelajar,kualitas berbahasa cukup memprihatinkan. Padahal, berbahasa dan berpikir tidak bisa dipisahkan. Jika bahasa kacau,pikirannya ikut kacau, dan ujungnya tindakannya juga akan kacau karena pikiran merupakan pangkal perbuatan.

Menurut teori pendidikan, dan ini saya alami sendiri, pembentukan watak yang efektif adalah melalui role model yang bisa dilihat maupun melalui role model yang digambarkan dalam novel. Lewat novel, seseorang diajak rekreasi dan berimajinasi ke sebuah dunia makna, tanpa harus pergi jauh dan mahal secara fisik.Novel juga sarana rileksasi setelah penat bekerja.

Namun sangat disayangkan, tradisi membaca novel di kalangan siswa ataupun mahasiswa sangat miskin. Waktu dan perhatian mereka tersita untuk menghafal dan mempersiapkan diri menghadapi ujian yang lebih memerlukan otak kiri.Sementara novel merupakan konsumsi otak kanan, mengajak kita berimajinasi dan mengapresiasi indahnya alam seraya merayakan kehidupan.

Lagi-lagi, yang mudah terdengar adalah keluh kesah, pesimisme, caci maki, dan sejenisnya. Dan salah satu hiburannya, bermain SMS atau nongkrong di depan televisi. Ada acara televisi yang jam tayangnya setiap hari lebih daritigajam,sedangkanpesan edukasinya sangat miskin. Sebagai guru dan orangtua, kita pantas prihatin dan mesti membantu pertumbuhan anak-anak kita.

Mereka semakin tidak paham budaya dan bahasa daerah yang mengandung banyak wisdom, pitutur, dan nilai luhur, sementara muatan bahasa Indonesia yang mereka akrabi tidak menyajikan nilai-nilai luhur yang mendorong imajinasi dan model. Mereka kering dari bacaan bermutu, terutama novelnovel, karena waktunya habis untuk ngobrol atau sibuk mengikuti bimbingan belajar untuk menghadapi UN (ujian nasional) yang dijadikan momok itu.

Saya kadang iri kalau jalan-jalan ke luar negeri, baik pelajar, orangtua, maupun turis,ke mana pun berada selalu menenteng dan membaca buku, termasuk di pesawat terbang.(*)

*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia, Jumat 13 Juni 2008

 

Ngobrol sampai Puasssss…!!!

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
COBA perhatikan bahasa-bahasa iklan yang selalu menghadang mata dan menyergap pikiran ke mana pun Anda pergi, ataupun begitu menghidupkan televisi dan radio serta membuka surat kabar dan majalah.

Bahasa itu menunjukkan karakter bangsa,tetapi bisa juga berperan membentuk karakter bangsa. Untuk membuktikan postulat ini sangat mudah. Setiap anak memiliki bahasa ibu, dan pasti karakternya akan dipengaruhi nilai-nilai dan tradisi yang melekat dan terawetkan dalam bahasa ibunya. Dan, pola ini akan berlangsung turun-temurun.

Beruntunglah kita memiliki bahasa nasional,bahasa Indonesia,yang berkembang sangat cepat dan mengagumkan penyebarannya dari Papua hingga Aceh sehingga menggeser bahasa-bahasa daerah pada tataran nasional. Kemenangan bahasa yang berasal dari Melayu ini bisa saja dipandang negatif karena mengalahkan dan menggusur bahasa serta tradisi daerah.Namun, positifnya jauh lebih banyak ketimbang negatifnya.

Karakter bahasa Melayu yang lebih egaliter sejalan dengan semangat modernitas,dunia bisnis,dan watak bangsa pelaut.Hanya,sejak kultur dan pusat kekuasaan beralih ke wilayah pertanian yang dikomandoi Pak Harto dan kawan-kawan,gaya feodalisme keraton dan petani serta hierarki kemiliteran sangat kental memengaruhi dunia politik dan birokrasi Indonesia, sehingga proses demokratisasi tidak berlangsung mulus.

Bayangkan, andaikan penduduk Indonesia yang multietnis dan multibahasa serta tersebar di ribuan pulau tidak memiliki bahasa nasional, betapa mahal dan lambannya proses komunikasi sosial, perdagangan, keilmuan, dan politik. Mereka akan tinggal dalam pulau-pulau budaya, bahasa,dan agama yang terpisahkan dari yang lain.

Puber Handphone

Lewat tulisan ini, saya ingin mengajak Anda untuk sejenak mengamati dan memaknai bahasa-bahasa iklan yang tersebar di berbagai ruang publik.

Perjalanan bangsa ini mengalami berbagai loncatan budaya sehingga menimbulkan berbagai kekagetan. Bayangkan,berapa lama kita hidup dalam suasana penjajahan yang mendorong serangkaian pergolakan dan pemberontakan di berbagai wilayah Nusantara. Akibatnya, masyarakat kita mengidap karakter suka berontak, marah dan sedikit sekali memiliki kebiasaan membaca,menulis,dan melakukan penelitian ilmiah.

Masyarakat kita belum memiliki tradisi kuat sebagai ”citizen” atau warga negara, tetapi lebih merasa sebagai bagian dari komunitas primordialnya. Keterikatan dan kesetiaan pada kelompoknya lebih menguat ketimbang kesadaran sebagai warga negara. Kecuali itu, tradisi bicara-dengar lebih kuat ketimbang tulis-baca. Parahnya lagi, ketika tradisi tulis-baca belum kuat, tiba-tiba dilanda gelombang budaya baru yang dibawa oleh dunia televisi yang kemudian menciptakan gaya hidup baru di sebagian masyarakat,yaitu menonton dan gosip.

Coba saja lakukan penelitian, berapa jam televisi dihidupkan, acara apa saja yang paling disenangi, lalu pengaruh apa yang dimunculkan, pasti sangat menarik dan manfaat untuk direnungkan. Beberapa hari lalu,Prof Dr Fawzia Aswin Hadis, pakar psikologi,bercerita dan membuat saya terperangah. Pembantu rumah tangganya menghabiskan gaji bulanannya hanya untuk membeli pulsa handphone (HP).

Bahkan, sempat mengutang untuk mengisi pulsa HP-nya yang sudah habis. Biasanya mereka sambil masak atau menonton televisi sambil ngobrol dengan temannya lewat HP. Atau sambil senyum-senyum membaca dan saling berbalasan pesan singkat lewat layanan SMS. Tampaknya, komunitas yang senang ngobrol dan berbicara serta tukar gosip melalui HP semakin meluas, tidak saja di kalangan politisi di Senayan,melainkan sudah merambah sampai ke lingkungan para pembantu rumah tangga.

Bagi para produsen dan pengusaha pulsa serta jasa telekomunikasi, tren ber-HP ria ini tentu merupakan pasar dan tambang emas yang mendatangkan keuntungan luar biasa. Diperkirakan, biaya iklan bisnis ini bisa mencapai Rp5 triliun setahun. Kalau perkiraan ini benar, sungguh merupakan angka yang fantastis! Dan yang membayar iklan sebesar itu, siapa lagi kalau bukan masyarakat pengguna telepon.

Dari pengalaman berkunjung dan mengikuti berbagai pertemuan di luar negeri,kesan saya masyarakat Indonesia paling menonjol dan senang ngobrolatau ber-SMS dengan HP,di mana pun berada. Bahkan,waktu salat atau pertemuan resmi pun sering kali dering HP-nya berbunyi sehingga mengganggu suasana.

Ada lagi yang berbicara dengan keras dan tertawatawa di tengah forum pertemuan sehingga mengganggu yang lain.Lucunya,ini dilakukan mereka yang berpendidikan tinggi. Di antara iklan pulsa berbunyi: Ngobrol sampai puassss….!!!. Iklan ini merupakan kalimat mantra pengusaha pulsa, dan juga mencerminkan budaya kita yang memang lebih senang ngobrol, senang berwacana, ataupun pidato, tetapi kurang produktif dalam berkarya nyata.

Ini juga sejalan dengan jumlah sarjana kita yang didominasi ilmuwan sosial yang lebih senang berdebat dan berteori terus. Penggunaan HP juga masuk pada wilayah politik dan jaringan pekerja demonstrasi. Setiap hari berseliweran pesan SMS campur aduk antara yang benar dan salah, yang fiktif dan realitas,antara nasihat bijak dan fitnah keji. Semua ini tentu tidak bisa dilarang,tetapi fenomena itu merupakan cerminan kualitas masyarakat dan peradaban bangsa kita.

Lama-lama, bunyi iklan itu tidak saja: Ngobrol sampai puasss….!!!, tetapi berkembang menjadi: Demonstrasi terus sampai lelah!, Tiada hari tanpa demonstrasi! dan seterusnya. Di lingkungan pelajar,kualitas berbahasa cukup memprihatinkan. Padahal, berbahasa dan berpikir tidak bisa dipisahkan. Jika bahasa kacau,pikirannya ikut kacau, dan ujungnya tindakannya juga akan kacau karena pikiran merupakan pangkal perbuatan.

Menurut teori pendidikan, dan ini saya alami sendiri, pembentukan watak yang efektif adalah melalui role model yang bisa dilihat maupun melalui role model yang digambarkan dalam novel. Lewat novel, seseorang diajak rekreasi dan berimajinasi ke sebuah dunia makna, tanpa harus pergi jauh dan mahal secara fisik.Novel juga sarana rileksasi setelah penat bekerja.

Namun sangat disayangkan, tradisi membaca novel di kalangan siswa ataupun mahasiswa sangat miskin. Waktu dan perhatian mereka tersita untuk menghafal dan mempersiapkan diri menghadapi ujian yang lebih memerlukan otak kiri.Sementara novel merupakan konsumsi otak kanan, mengajak kita berimajinasi dan mengapresiasi indahnya alam seraya merayakan kehidupan.

Lagi-lagi, yang mudah terdengar adalah keluh kesah, pesimisme, caci maki, dan sejenisnya. Dan salah satu hiburannya, bermain SMS atau nongkrong di depan televisi. Ada acara televisi yang jam tayangnya setiap hari lebih daritigajam,sedangkanpesan edukasinya sangat miskin. Sebagai guru dan orangtua, kita pantas prihatin dan mesti membantu pertumbuhan anak-anak kita.

Mereka semakin tidak paham budaya dan bahasa daerah yang mengandung banyak wisdom, pitutur, dan nilai luhur, sementara muatan bahasa Indonesia yang mereka akrabi tidak menyajikan nilai-nilai luhur yang mendorong imajinasi dan model. Mereka kering dari bacaan bermutu, terutama novelnovel, karena waktunya habis untuk ngobrol atau sibuk mengikuti bimbingan belajar untuk menghadapi UN (ujian nasional) yang dijadikan momok itu.

Saya kadang iri kalau jalan-jalan ke luar negeri, baik pelajar, orangtua, maupun turis,ke mana pun berada selalu menenteng dan membaca buku, termasuk di pesawat terbang.(*)

*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia, Jumat 13 Juni 2008