“Ngemil”, Cara Baru Membaca Buku

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Gedung Perpustakaan Utama, UINJKT Online – Banyak orang kesulitan mencerna dan mengunyah isi buku saat membaca, terlebih untuk buku yang ditulis dengan bahasa tinggi. Tapi menurut Hernowo, salah satu bos penerbit Mizan, kesulitan itu tidak lagi perlu ada. Caranya bisa dilakukan jika Anda mau membaca secara “camilan” alias “ngemil” alias mencicil.

Metode “ngemil” untuk mencerna isi buku, jelas penemu metode itu, dinilai sangat efektif bagi orang-orang yang sibuk. “Metode “ngemil” ini, selain sangat mendukung konsep “mengikat makna”, juga saya temukan ketika saya menganggap buku sebagai makanan, tegasnya makanan ruhani,” jelas Hernowo, menuturkan pengalamannya saat menjadi pembicara pada “Workshop Layanan Perpustakaan” di Gedung Perpustakaan Utama, Rabu (1/7).

Menurut dia, ada banyak cara untuk dapat “ngemil” saat membaca buku. Pertama-tama, pembaca harus bersedia untuk memilih dan benar-benar menyiapkan sebuah buku yang memang penting dibaca secara mencicil. Buku itu harus dibawa ke mana-mana. Selanjutnya, metode “ngemil” ini berhak dijalankan ketika pembaca menganggur atau memiliki waktu luang.

“Nah, ketika Anda menganggur atau sedang tidak sibuk, saatnya Anda membaca buku yang telah disiapkan dan dibawa ke mana-mana itu,” ujarnya. Namun, pembaca jangan berpikir bahwa nanti dapat mencari bahan bacaan untuk dibaca ketika menganggur tadi. “Karena ada kemungkinan Anda tidak mendapatkan bahan bacaan yang sesuai dengan harapan Anda. Karena tidak sesusai dengan harapan tadi, Anda pasti malas membaca meski memiliki waktu luang,” lanjutnya.

Terakhir, metode “ngemil” mensyaratkan pembaca untuk senantiasa mengakhiri kegiatan membaca yang mungkin singkat itu dengan menulis atau “mengikat”. Jelasnya menulis hal-hal penting dan berarti yang ditemukan dalam kegiatan membaca atau menulis yang menurut pembaca layak untuk ditulis.

“Dengan menulis, Anda membuktikan bahwa kegiatan membaca Anda menghasilkan sesuatu yang konkret, yakni tulisan. Bahkan, dengan menulis Anda berarti menyimpan hasil kegiatan membaca di sebuah wadah yang jelas,” kata Hernowo. Dengan menulis atau  “mengikat” pula, Anda benar-benar tidak sia-sia membaca. (ns)

“Ngemil”, Cara Baru Membaca Buku

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Gedung Perpustakaan Utama, UINJKT Online – Banyak orang kesulitan mencerna dan mengunyah isi buku saat membaca, terlebih untuk buku yang ditulis dengan bahasa tinggi. Tapi menurut Hernowo, salah satu bos penerbit Mizan, kesulitan itu tidak lagi perlu ada. Caranya bisa dilakukan jika Anda mau membaca secara “camilan” alias “ngemil” alias mencicil.

Metode “ngemil” untuk mencerna isi buku, jelas penemu metode itu, dinilai sangat efektif bagi orang-orang yang sibuk. “Metode “ngemil” ini, selain sangat mendukung konsep “mengikat makna”, juga saya temukan ketika saya menganggap buku sebagai makanan, tegasnya makanan ruhani,” jelas Hernowo, menuturkan pengalamannya saat menjadi pembicara pada “Workshop Layanan Perpustakaan” di Gedung Perpustakaan Utama, Rabu (1/7).

Menurut dia, ada banyak cara untuk dapat “ngemil” saat membaca buku. Pertama-tama, pembaca harus bersedia untuk memilih dan benar-benar menyiapkan sebuah buku yang memang penting dibaca secara mencicil. Buku itu harus dibawa ke mana-mana. Selanjutnya, metode “ngemil” ini berhak dijalankan ketika pembaca menganggur atau memiliki waktu luang.

“Nah, ketika Anda menganggur atau sedang tidak sibuk, saatnya Anda membaca buku yang telah disiapkan dan dibawa ke mana-mana itu,” ujarnya. Namun, pembaca jangan berpikir bahwa nanti dapat mencari bahan bacaan untuk dibaca ketika menganggur tadi. “Karena ada kemungkinan Anda tidak mendapatkan bahan bacaan yang sesuai dengan harapan Anda. Karena tidak sesusai dengan harapan tadi, Anda pasti malas membaca meski memiliki waktu luang,” lanjutnya.

Terakhir, metode “ngemil” mensyaratkan pembaca untuk senantiasa mengakhiri kegiatan membaca yang mungkin singkat itu dengan menulis atau “mengikat”. Jelasnya menulis hal-hal penting dan berarti yang ditemukan dalam kegiatan membaca atau menulis yang menurut pembaca layak untuk ditulis.

“Dengan menulis, Anda membuktikan bahwa kegiatan membaca Anda menghasilkan sesuatu yang konkret, yakni tulisan. Bahkan, dengan menulis Anda berarti menyimpan hasil kegiatan membaca di sebuah wadah yang jelas,” kata Hernowo. Dengan menulis atau  “mengikat” pula, Anda benar-benar tidak sia-sia membaca. (ns)