Negara-negara Arab Apatis terhadap Perdamaian di Palestina

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah Farihin

Aula SC, UIN Online Direktur Voice of Palestina (VOP) Ir Mujtahid Hasyem menyatakan, sikap apatis negara-negara Arab terhadap kebiadaban Israel di Palestina terjadi karena mayoritas mereka secara geopolitik bekas jajahan Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat yang pro Israel.

“Bahkan Mesir yang merupakan tetangga Palestina yang dekat Jalur Gaza membantu Zionis Israel untuk perluasan tanah kekuasaannya di Palestina dengan mendirikan tembok besi yang diperkirakan lebih dari 10 Km dengan kedalamannya 20-30 m di dekat pintu perbatasan Rafah. Hal ini membuktikan Mesir dan Israel ingin membunuh penduduk Gaza secara perlahan-lahan,” kata Hasyem dalam Talk Show bertajuk Viva Palestina Satu Tahun Kemenangan Bangsa Palestina yang digelar BEMJ Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) bekerjasama dengan LSM VOP, dan Piramida Circle, di Student Center, Jumat (22/1).

Seperti diketahui, pada agresinya beberapa waktu lalu, Israel mengalami kemenangan dengan menduduki jalur Gaza yang merupakan bagian dari negara Palestina. Kemenangan itu kian melebarkan daerah kekuasaan negara yang berdiri pada 1946 itu. Israel sangat berhasrat mengusai Palestina kerena negara itu merupakan tempat suci bagi tiga agama besar dunia, Yahudi, Kristen, dan Islam.

Kendati Israel terus berusaha menguasai Palestina, tapi kata Hasyem, tantangan besar dari warga Palestina akan terus dihadapi Isael. Sebab, warga Palestina akan terus menyerukan perlawanan jihad untuk mempertahankan setiap jengkal tanah Palestina dari jajahan Zionis Israel. Mereka percaya, suatu saat Allah Swt pasti akan membantu kemenangan Palestina sehingga menjadi negara yang merdeka dan bebas dari pendudukan impererialisme dan kolonialisme Israel dan sekutunya dalam bentuk apapun.

“Sebagai simbol kemenangan, warga Palestina menggunakan ideologi perlawanannya, dengan mengucapkan lafadz la ilaha illallah yang merupakan perlawanan ideologis yang sangat tajam dengan perlindungan Allah SWT,” katanya.

Di samping menjadi kota suci bagi tiga agama, secara ekonomis Palestina juga sangat strategis. Karena negara Palestina dapat menghubungkan negara-negara yang ada di benua Eropa, Asia, dan Timur tengah untuk dijadikan sebagai pusat kekuatan Zionis Isarel dan mencari kelemahan negara Timur Tengah dalam mengusai energi minyak bumi. []

Negara-negara Arab Apatis terhadap Perdamaian di Palestina

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah Farihin

Aula SC, UIN Online Direktur Voice of Palestina (VOP) Ir Mujtahid Hasyem menyatakan, sikap apatis negara-negara Arab terhadap kebiadaban Israel di Palestina terjadi karena mayoritas mereka secara geopolitik bekas jajahan Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat yang pro Israel.

“Bahkan Mesir yang merupakan tetangga Palestina yang dekat Jalur Gaza membantu Zionis Israel untuk perluasan tanah kekuasaannya di Palestina dengan mendirikan tembok besi yang diperkirakan lebih dari 10 Km dengan kedalamannya 20-30 m di dekat pintu perbatasan Rafah. Hal ini membuktikan Mesir dan Israel ingin membunuh penduduk Gaza secara perlahan-lahan,” kata Hasyem dalam Talk Show bertajuk Viva Palestina Satu Tahun Kemenangan Bangsa Palestina yang digelar BEMJ Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) bekerjasama dengan LSM VOP, dan Piramida Circle, di Student Center, Jumat (22/1).

Seperti diketahui, pada agresinya beberapa waktu lalu, Israel mengalami kemenangan dengan menduduki jalur Gaza yang merupakan bagian dari negara Palestina. Kemenangan itu kian melebarkan daerah kekuasaan negara yang berdiri pada 1946 itu. Israel sangat berhasrat mengusai Palestina kerena negara itu merupakan tempat suci bagi tiga agama besar dunia, Yahudi, Kristen, dan Islam.

Kendati Israel terus berusaha menguasai Palestina, tapi kata Hasyem, tantangan besar dari warga Palestina akan terus dihadapi Isael. Sebab, warga Palestina akan terus menyerukan perlawanan jihad untuk mempertahankan setiap jengkal tanah Palestina dari jajahan Zionis Israel. Mereka percaya, suatu saat Allah Swt pasti akan membantu kemenangan Palestina sehingga menjadi negara yang merdeka dan bebas dari pendudukan impererialisme dan kolonialisme Israel dan sekutunya dalam bentuk apapun.

“Sebagai simbol kemenangan, warga Palestina menggunakan ideologi perlawanannya, dengan mengucapkan lafadz la ilaha illallah yang merupakan perlawanan ideologis yang sangat tajam dengan perlindungan Allah SWT,” katanya.

Di samping menjadi kota suci bagi tiga agama, secara ekonomis Palestina juga sangat strategis. Karena negara Palestina dapat menghubungkan negara-negara yang ada di benua Eropa, Asia, dan Timur tengah untuk dijadikan sebagai pusat kekuatan Zionis Isarel dan mencari kelemahan negara Timur Tengah dalam mengusai energi minyak bumi. []