Nawab: HTI Lebih Fokus pada Pemikiran Daripada Keanggotaan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jamilah

Kampus II, UINJKT Online – Peneliti S Rajaratman School of International Students (RSIS) Nanyang Technological University Mohamed Nawab Mohamed Osman mengatakan, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam pergerakannya lebih fokus pada pemikiran daripada keanggotaannya.

Menurutnya, strategi pengkaderan HTI sangat ketat, karena calon anggota HTI mengkaji kitab-kitabnya terlebih dulu selama dua atau tiga tahun sebelum menjadi anggota. Hal itu disampaikan Nawab dalam diskusi bulanan Center of the Study of Religion and Culture (CSRC) bertajuk “Positioning Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Within the Indonesian Politic Context” di Ruang Sidang CSRC, Kamis (14/5).

“Isu khilafah tidak banyak dikenal orang Indonesia. Menurut mereka, sebelum merubah sistem dalam suatu masyarakat terlebih dulu harus merubah pola pikir, sebagaimana metode yang diajarkan Rasulullah,” kata kandidat doktor bidang sosial politik pada Australian National University itu menjelaskan.

Menurut Nawab, salah satu sebab HTI menjadi besar adalah political optionality-nya yang lebih mengedepankan isu-isu krisis yang terjadi di dunia Islam seperti isu Arab-Israel, Guantamo, dan masalah ekonomi kapitalis.

Dalam diskusi itu, tidak sedikit peserta menanyakan alasan HTI menolak demokrasi dan pengusungan kata khilafah. 

“HTI menolak demokrasi karena kedaulatan bukan ditangan rakyat, tapi ada dalam akal manusia dan pada Allah SWT. Kata khilafah kami usung melalui simbol dipakai untuk menggerakan masyarakat,” kata Pemimpin Redaksi Majalah Al-Wa’ie tersebut.* 

Nawab: HTI Lebih Fokus pada Pemikiran Daripada Keanggotaan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jamilah

Kampus II, UINJKT Online – Peneliti S Rajaratman School of International Students (RSIS) Nanyang Technological University Mohamed Nawab Mohamed Osman mengatakan, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam pergerakannya lebih fokus pada pemikiran daripada keanggotaannya.

Menurutnya, strategi pengkaderan HTI sangat ketat, karena calon anggota HTI mengkaji kitab-kitabnya terlebih dulu selama dua atau tiga tahun sebelum menjadi anggota. Hal itu disampaikan Nawab dalam diskusi bulanan Center of the Study of Religion and Culture (CSRC) bertajuk “Positioning Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Within the Indonesian Politic Context” di Ruang Sidang CSRC, Kamis (14/5).

“Isu khilafah tidak banyak dikenal orang Indonesia. Menurut mereka, sebelum merubah sistem dalam suatu masyarakat terlebih dulu harus merubah pola pikir, sebagaimana metode yang diajarkan Rasulullah,” kata kandidat doktor bidang sosial politik pada Australian National University itu menjelaskan.

Menurut Nawab, salah satu sebab HTI menjadi besar adalah political optionality-nya yang lebih mengedepankan isu-isu krisis yang terjadi di dunia Islam seperti isu Arab-Israel, Guantamo, dan masalah ekonomi kapitalis.

Dalam diskusi itu, tidak sedikit peserta menanyakan alasan HTI menolak demokrasi dan pengusungan kata khilafah. 

“HTI menolak demokrasi karena kedaulatan bukan ditangan rakyat, tapi ada dalam akal manusia dan pada Allah SWT. Kata khilafah kami usung melalui simbol dipakai untuk menggerakan masyarakat,” kata Pemimpin Redaksi Majalah Al-Wa’ie tersebut.*