Nasri, Sang Palestina

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Azyumardi Azra

MENJELANG Idul Fitri kemarin, dalam perjalanan pulang dari pertemuan tahunan dan konferensi international IDEA (Institute for Democracy and Electoral Assistance), saya mendapat sepotong ‘berkah’ Ramadhan. Berkah itu berupa takdir atau boleh jadi ‘kebetulan’ belaka yang mempertemukan saya dengan seorang Nasri, sang Palestina, sopir taksi dalam diaspora Stockholm, Swedia.

Berkah itu adalah keterbukaan hati menerima keluh kesah seorang anak manusia dalam diaspora. Sepanjang perjalanan yang lengang ke Bandara Arlanda, saya mengajak sang sopir bercerita. Saya tatap dari jok belakang wajahnya yang telah keriput. Tebersit empati saya melihat orang setua dia yang masih saja harus berada di belakang setir. Saya bayangkan, boleh jadi telah berpuluh tahun dia menjadi sopir. Segera saya tanya namanya. ”Nasri, Muhammad Nasri,” jawabnya.

”Assalamualaikum,” spontan jawab saya. Dari mana asalnya? ”Dari Palestina, tepatnya Nablus, kawasan Tepi Barat,” sambungnya. Dan, saya pun memperkenalkan diri sebagai Muslim dari Indonesia.”Min Indunisi. Alhamdulillah.” Dia lalu menyatakan kesenangannya bertemu orang Indonesia dan juga kebanggaannya dengan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di muka bumi. Mengapa? ”Kami bangsa Palestina tahu bahwa kaum Muslim Indonesia selalu berusaha membantu kami. Meski Indonesia sangat jauh dari Palestina, rakyat Indonesia sangat peduli pada nasib bangsa kami.”

Saya terperangah. Penuturan Nasri membuat saya bukan hanya kian bangga pada Indonesia. Karena, sering juga kalangan Arab di Timur Tengah tidak tahu Indonesia, kecuali mungkin karena TKI-nya. Bahkan, Islam Indonesia mungkin tidak pernah diperhitungkan secara serius. Muslim Indonesia masih saja dianggap baru belajar tentang Islam.

Pelajaran penting lain yang segera bisa saya ambil adalah jangan pernah underestimate kepada orang, bahkan semacam Nasri sekalipun. Ia cukup punya mata, telinga, bahkan hati untuk tahu misalnya tentang kiprah solidaritas Indonesia kepada bangsa Palestina.Nasri, lelaki tua Palestina dalam diaspora Swedia. Ia sudah berusia 64 tahun. ”Tahun depan, insya Allah saya pensiun. Sudah 40-an tahun saya hidup di Swedia dan mencari nafkah untuk keluarga. Empat anak sudah dewasa, selesai kuliah, bekerja, dan berkeluarga. Alhamdulillah, sudah punya dua cucu dan sebentar lagi cucu ketiga bakal lahir.”

Kembali dia bersyukur karena dua anaknya masing-masing sudah bekerja di Erikson dan Nokia. Dan, tak kurang syukurnya, salah satu putranya bakal mengunjungi Indonesia dalam waktu dekat.Tidak ada keinginan pulang ke Nablus setelah pensiun? Dengan tercekat, Nasri menyatakan tidak. Ia sangat mencintai Palestina, tapi takdir belum berpihak kepada bangsa dan tanah airnya sehingga ia memandang tidak memungkinkan baginya kembali ke negeri leluhurnya. ”Tidak ada lagi Nablus. Tidak ada lagi Yerusalem. Semuanya hanya tinggal kenangan pahit tentang air mata, darah, dan marwah yang terluka,” kata Nasri.

Pahit, sungguh sangat pahit. Ketika 40-an tahun lalu, ia memutuskan meninggalkan kampung halamannya Nablus, sampai akhirnya terdampar di Swedia. Bekerja sebagai fotografer di Nablus, ia hampir setiap hari mengalami, menyaksikan, dan merekam langsung derita dan nestapa bangsa Palestina di tengah keganasan Israel. Penderitaan yang nyaris tidak tertanggungkan lagi.

Tapi, bagi Nasri, kenestapaan bangsa Palestina tidak hanya disebabkan keganasan Israel. Tak kurang juga karena negara-negara Arab sendiri. Kegetiran dan kemarahan terdengar jelas dalam nada suara Nasri, ”Negara-negara Arab tidak pernah serius, ikhlas, dan berani membela bangsa Palestina. Mereka adalah teman dan sekutu Amerika, pelindung Israel. Ketika Gaza digempur Israel, negara-negara Arab malah menutup perbatasannya sehingga rakyat kami menjadi sasaran empuk bom-bom Israel. Tanah air Palestina terus-menerus dirampok kaum Zionis Israel.”

Menyimak cerita dan keluh kesah Nasri, saya merasakan Ramadhan di Swedia pada sisa-sisa musim panas semakin panjang. ”Tahun depan, Ramadhan lebih panjang dan lebih panjang lagi pada tahun berikutnya,” ujar Nasri tanpa beban. ”Dan, insya Allah, tahun depan itu saya menunaikan ibadah haji ke Makkah al-Mukarramah. Tidak ada kebahagiaan lebih besar lagi setelah perjuangan begitu berat dengan mengunjungi Baitullah,” lanjut Nasri.

Pengalaman Nasri, hemat saya, memang tidaklah unik, walau di sana sini ada nuansa-nuansa khas Nasri. Bisa dipastikan, hampir seluruh orang Palestina yang hidup dalam diaspora mengalami kepedihan dan kenestapaan meski kehidupan mereka boleh jadi tidaklah susah-susah amat. Tapi, satu hal sudah pasti. Mereka adalah orang yang terpaksa berpencar ke berbagai penjuru dunia. Banyak di antara orang-orang Palestina ini, khususnya generasi kedua, bahkan berhasil mencapai mobilitas pendidikan, sosial, dan ekonomi yang cukup baik. Mereka tidak hanya survive, tapi mencapai kemajuan dan kehidupan yang mengagumkam.

Di tengah berbagai pengalaman dalam diaspora, tidak seorang Palestina, apakah di tanah airnya atau di diaspora, yang bisa memastikan kapan negara Palestina yang telah begitu lama mereka perjuangkan dapat terwujud. Memang, sekarang ini ada tanda-tanda peningkatan usaha perdamaian, tetapi belum cukup ada tanda-tanda yang membuat kita optimis tentang terwujudnya sebuah negara Palestina yang berdaulat sepenuhnya. Dalam konteks itu, Indonesia masih perlu memainkan peran lebih aktifnya.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 24 September 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Nasri, Sang Palestina

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Azyumardi Azra

MENJELANG Idul Fitri kemarin, dalam perjalanan pulang dari pertemuan tahunan dan konferensi international IDEA (Institute for Democracy and Electoral Assistance), saya mendapat sepotong ‘berkah’ Ramadhan. Berkah itu berupa takdir atau boleh jadi ‘kebetulan’ belaka yang mempertemukan saya dengan seorang Nasri, sang Palestina, sopir taksi dalam diaspora Stockholm, Swedia.

Berkah itu adalah keterbukaan hati menerima keluh kesah seorang anak manusia dalam diaspora. Sepanjang perjalanan yang lengang ke Bandara Arlanda, saya mengajak sang sopir bercerita. Saya tatap dari jok belakang wajahnya yang telah keriput. Tebersit empati saya melihat orang setua dia yang masih saja harus berada di belakang setir. Saya bayangkan, boleh jadi telah berpuluh tahun dia menjadi sopir. Segera saya tanya namanya. ”Nasri, Muhammad Nasri,” jawabnya.

”Assalamualaikum,” spontan jawab saya. Dari mana asalnya? ”Dari Palestina, tepatnya Nablus, kawasan Tepi Barat,” sambungnya. Dan, saya pun memperkenalkan diri sebagai Muslim dari Indonesia.”Min Indunisi. Alhamdulillah.” Dia lalu menyatakan kesenangannya bertemu orang Indonesia dan juga kebanggaannya dengan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di muka bumi. Mengapa? ”Kami bangsa Palestina tahu bahwa kaum Muslim Indonesia selalu berusaha membantu kami. Meski Indonesia sangat jauh dari Palestina, rakyat Indonesia sangat peduli pada nasib bangsa kami.”

Saya terperangah. Penuturan Nasri membuat saya bukan hanya kian bangga pada Indonesia. Karena, sering juga kalangan Arab di Timur Tengah tidak tahu Indonesia, kecuali mungkin karena TKI-nya. Bahkan, Islam Indonesia mungkin tidak pernah diperhitungkan secara serius. Muslim Indonesia masih saja dianggap baru belajar tentang Islam.

Pelajaran penting lain yang segera bisa saya ambil adalah jangan pernah underestimate kepada orang, bahkan semacam Nasri sekalipun. Ia cukup punya mata, telinga, bahkan hati untuk tahu misalnya tentang kiprah solidaritas Indonesia kepada bangsa Palestina.Nasri, lelaki tua Palestina dalam diaspora Swedia. Ia sudah berusia 64 tahun. ”Tahun depan, insya Allah saya pensiun. Sudah 40-an tahun saya hidup di Swedia dan mencari nafkah untuk keluarga. Empat anak sudah dewasa, selesai kuliah, bekerja, dan berkeluarga. Alhamdulillah, sudah punya dua cucu dan sebentar lagi cucu ketiga bakal lahir.”

Kembali dia bersyukur karena dua anaknya masing-masing sudah bekerja di Erikson dan Nokia. Dan, tak kurang syukurnya, salah satu putranya bakal mengunjungi Indonesia dalam waktu dekat.Tidak ada keinginan pulang ke Nablus setelah pensiun? Dengan tercekat, Nasri menyatakan tidak. Ia sangat mencintai Palestina, tapi takdir belum berpihak kepada bangsa dan tanah airnya sehingga ia memandang tidak memungkinkan baginya kembali ke negeri leluhurnya. ”Tidak ada lagi Nablus. Tidak ada lagi Yerusalem. Semuanya hanya tinggal kenangan pahit tentang air mata, darah, dan marwah yang terluka,” kata Nasri.

Pahit, sungguh sangat pahit. Ketika 40-an tahun lalu, ia memutuskan meninggalkan kampung halamannya Nablus, sampai akhirnya terdampar di Swedia. Bekerja sebagai fotografer di Nablus, ia hampir setiap hari mengalami, menyaksikan, dan merekam langsung derita dan nestapa bangsa Palestina di tengah keganasan Israel. Penderitaan yang nyaris tidak tertanggungkan lagi.

Tapi, bagi Nasri, kenestapaan bangsa Palestina tidak hanya disebabkan keganasan Israel. Tak kurang juga karena negara-negara Arab sendiri. Kegetiran dan kemarahan terdengar jelas dalam nada suara Nasri, ”Negara-negara Arab tidak pernah serius, ikhlas, dan berani membela bangsa Palestina. Mereka adalah teman dan sekutu Amerika, pelindung Israel. Ketika Gaza digempur Israel, negara-negara Arab malah menutup perbatasannya sehingga rakyat kami menjadi sasaran empuk bom-bom Israel. Tanah air Palestina terus-menerus dirampok kaum Zionis Israel.”

Menyimak cerita dan keluh kesah Nasri, saya merasakan Ramadhan di Swedia pada sisa-sisa musim panas semakin panjang. ”Tahun depan, Ramadhan lebih panjang dan lebih panjang lagi pada tahun berikutnya,” ujar Nasri tanpa beban. ”Dan, insya Allah, tahun depan itu saya menunaikan ibadah haji ke Makkah al-Mukarramah. Tidak ada kebahagiaan lebih besar lagi setelah perjuangan begitu berat dengan mengunjungi Baitullah,” lanjut Nasri.

Pengalaman Nasri, hemat saya, memang tidaklah unik, walau di sana sini ada nuansa-nuansa khas Nasri. Bisa dipastikan, hampir seluruh orang Palestina yang hidup dalam diaspora mengalami kepedihan dan kenestapaan meski kehidupan mereka boleh jadi tidaklah susah-susah amat. Tapi, satu hal sudah pasti. Mereka adalah orang yang terpaksa berpencar ke berbagai penjuru dunia. Banyak di antara orang-orang Palestina ini, khususnya generasi kedua, bahkan berhasil mencapai mobilitas pendidikan, sosial, dan ekonomi yang cukup baik. Mereka tidak hanya survive, tapi mencapai kemajuan dan kehidupan yang mengagumkam.

Di tengah berbagai pengalaman dalam diaspora, tidak seorang Palestina, apakah di tanah airnya atau di diaspora, yang bisa memastikan kapan negara Palestina yang telah begitu lama mereka perjuangkan dapat terwujud. Memang, sekarang ini ada tanda-tanda peningkatan usaha perdamaian, tetapi belum cukup ada tanda-tanda yang membuat kita optimis tentang terwujudnya sebuah negara Palestina yang berdaulat sepenuhnya. Dalam konteks itu, Indonesia masih perlu memainkan peran lebih aktifnya.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 24 September 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta