Najib al-Afghani: Islam Austria

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Najib al-Afghani, pastilah mengingatkan orang pada tokoh pembaru Islam, Jamaluddin al-Afghani, yang mencapai puncak kariernya pada akhir abad ke-19. Tapi, Najib bukanlah Jamaluddin. Najib hanyalah seorang pengungsi Afghanistan yang kebetulan saja bertemu saya di sebuah halte bus-bahn di Wina, Austria, pada pekan pertama Juni 2011 lalu.

Ketika saya sedang duduk-duduk di halte itu, Najib datang dan bertanya kepada saya dalam bahasa Jerman tentang bus kota yang dapat dia naiki menuju alamat yang dicarinya. Tapi, saya tidak begitu paham bahasa Jerman, dan segera percakapan berlangsung dalam bahasa Inggris yang dia ucapkan patah-patah.

Ketika saya katakan bahwa saya berasal dari Indonesia, dengan segera ia menyatakan kekagumannya. Najib yang guru SMP di negerinya, tahu sedikit tentang Indonesia: Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbanyak di seluruh dunia; dan Indonesia juga dilintasi banyak pengungsi Afghanistan.

Najib menjadi pengungsi karena keadaan negerinya yang tidak menentu. Ketika saya sebut Presiden Hamid Karzai, dia segera menyatakan ‘no good’. Hal yang sama juga dia kemukakan ketika saya menyebut Taliban. Baginya, kedua pihak ini gagal menciptakan keadaan lebih baik bagi tanah airnya. Dia tidak menyukai Taliban yang mengekang kebebasan dan memaksakan Islam versi mereka. Dia juga tidak suka pada Presiden Karzai yang tidak mampu mengatasi Taliban sehingga Afghanistan tetap menjadi negara gagal.

Bagaimana kehidupannya kini di Wina? Najib bercerita tentang kesulitannya mempelajari bahasa Jerman— bahasa resmi Austria. Tapi, selebihnya ia merasa nyaman. Dia dapat menemukan pekerjaan sebagai petugas kebersihan di sebuah kantor perusahaan, dan merasa tidak mengalami kesulitan berintegrasi berkat bantuan Habibi, sebuah lembaga yang membantu kaum migran berintegrasi ke dalam masyarakat Austria.

Dia juga tidak mengalami kesulitan sebagai Muslim untuk menjalankan ibadah di berbagai masjid, khususnya Masjid Islamic Centre Wina, satu-satunya masjid dengan arsitektur masjid seutuhnya, yang diresmikan pada 20 November 1979 bertepatan dengan 1 Muharram 1400 H.

Cerita Najib tidak berlebihan. Islam kini termasuk dari 14 agama yang diakui negara Austria yang tidak memiliki agama resmi, meski Katolik merupakan agama mayoritas penduduk yang setelah penurunan dalam beberapa tahun terakhir, dari 86 persen kini tinggal 64 persen. Sedangkan, penganut Islam menurut perkiraan pada 2010 adalah enam persen, berkisar antara 500 ribu sampai 600 ribu jiwa. Dengan jumlah seperti itu, Islam menjadi agama terbesar kedua di Austria. Kelompok etnis Muslim terbesar adalah Turki (sekitar 110 ribu), Bosnia (85 ribu), Afghan (31 ribu), Kurdi (27 ribu), Albania (21 ribu), Iran (12.500), Pakistan (8.500), dan Serbia (3.000).

Dengan pengakuan negara pada agama, termasuk Islam, Austria unik di antara negara-negara Eropa lain. Lebih unik lagi, Pemerintah Austria memberikan izin dan subsidi kepada Islamische Glaubensgemeinschaft (Organisasi Komunitas Muslim) untuk memberikan pelajaran agama Islam di sekolah negeri. Juga untuk mengumpulkan church tax (pajak agama), yang tidak lain adalah zakat, infak, dan sedekah (ZIS).

Dengan kebijakan pemerintah yang akomodatif itu, tidak heran kalau kaum Muslim Austria umumnya mendukung integrasi. Dalam percakapan dengan Fariz Hafez, dosen pada Islamic College yang mempersiapkan kader imam, dengan pengakuan pada Islam, Islam dan Muslim tidak lagi dianggap asing dan sekaligus mendapat perlindungan negara Austria. Islam juga tidak direduksi menjadi urusan pribadi, tetapi juga urusan negara.

Bagaimanapun, di kalangan Muslim sendiri tetap saja ada nada konfrontatif. Ketika menjalankan ibadah Jumat di Masjid Islamic Centre Wina, saya menyimak khutbah dari khatib asal Arab Saudi yang berbicara berapi-api dalam bahasa Arab tentang Salafisme dan jihad.   Bahwa Islam yang sempurna adalah Islam kaum salaf, yakni para sahabatnya, yang bersih daripada bid’ah dan khurafat; dan setiap Muslim mestilah berjihad memerangi bid’ah yang semuanya dhalalah (sesat) karena bakal membawa Muslim ke dalam neraka. Sangat boleh jadi, pesan-pesan konfrontatif dan agitatif itu tidak sampai kepada jamaah Muslim multinasional yang umumnya tidak paham bahasa Arab.

Saya kira, pemerintah dan aparat keamanan Austria bukan tidak tahu tentang khutbah semacam itu. Agaknya, mereka menganggap khutbah semacam itu bukanlah representasi Islam dan Muslim sesungguhnya. Representasi itu adalah Organisasi Komunitas Muslim yang moderat, dialogis, dan selalu mau bekerja sama dengan pemerintah—yang terbukti mendatangkan banyak manfaat bagi kaum Muslim dan institusi Islam di Austria.

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tulisan dimuat pada Harian Republika, Kamis (23/6).