Muslim Thailand Studi Banding ke UIN Jakarta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Rektorat, BERITA UIN Online- Masyarakat muslim Yala dan Pattani, Thailand,  berharap agar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat membantu meningkatkan pendidikan Islam di kawasan tersebut. Hal tersebut dinilai penting dan perlu, karena UIN Jakarta telah memberikan kontribusi nyata bagi warga Thailand yang belajar di Indonesia.

“Kita tahu tokoh-tokoh muslim di Indonesia yang tidak asing lagi bagi kami. Ada Buya Hamka, Hamzah Fansuri, dan lainnya. Kita ingin agar UIN Jakarta memberikan cara-cara bagaimana pendidikan Islam di tempat kami maju serupa di Indonesia,” ujar Wakil Ketua Mu’assasah al-Tsaqafah al-Islamiyah, Haji Muhammad Shalih Wading dalam sambutannya di depan civitas akademika UIN Jakarta di Ruang Sidang Utama, Jum’at (15/4).

Menurut Shalih, kedatangannya bersama  rombongan adalah rangka studi banding dan mendapatkan informasi-informasi penting mengenai peningkatakan kualitas pendidikan Islam.

Dijelaskannya, saat ini pihaknya sedangkan mengembangkan Mu’assasah al-Tsaqafah al-Islamiyah. Lembaga tersebut terdiri atas Ma’had al-Bi’tsat al-Islamiyah, Ma’had al-Irsyad li al-Banat, dan Jami’ah al-Syaikh Dawud al-Qathani.

Sebagai warga minoritas di negari Pagoda, sambung dia, tentunya perlu belajar dengan Indonesia yang masyarakatnya mayoritas muslim dan mempunyai perguruan tinggi Islam yang diakui dunia.

Dalam kesempatan itu pula, mereka berharap UIN Jakarta memberikan metode-metode pengajaran bahasa Arab, pengembangan kurikulum, dan pembukaan program studi-program studi baru.

Atas permintaan tersebut, Pembantu Rektor Bidang Pengembangan Kerjsama dan Kelembagaan, Dr Jamhari, menjelaskan,  pada dasarnya UIN Jakarta siap membantu dan melakukan kerjasama dengan masyarakat muslim di Thailand. “Kita welcome saja terhadap Bapak dan Ibu. Silahkan anak-anaknya belajar disini. Kita akan membantunya, “ ujarnya.

Jamhari mengungkapkan, sebelum Thailand mengalami kisruh politik, dirinya pernag diundang Perdana Menteri Thaksin Shinawatra ke istananya. Doktor antropologi itu diundang untuk memberikan masukan tentang apa yang harus dilakukan pemerintah Thailand agar umat Islam di wilayah selatan tidak merasa dianaktirikan.

“Saya sampaikan ke Perdana Menteri Sinawatra, agar pendidikan Islam di Thailand disejajarkan dengan pendidikan pada umumnya di sana. Pemerintah harus mengakui pendidikan Isalam. Tetapi, tidak lama kemudian ia dikudeta. Kalau tidak ada kisruh politik, mungkin kondisis lain,” paparnya. (saifudin)