Muslim Tatarstan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Azyumardi Azra

Berbarengan dengan meledaknya kekerasan terhadap kaum Muslim Uighur beberapa pekan lalu, saya ditanya beberapa media cetak dan elektronik tentang mengapa kaum Muslim Indonesia bereaksi hanya secara minimal terhadap nestapa Uighur. Saya jawab, sederhananya karena kaum Muslim Indonesia umumnya tidak banyak yang tahu tentang kaum Muslim Uighur, Xinjiang, dan Asia Tengah secara keseluruhan.


Muslim Asia Tengah yang kurang dikenal di Indonesia memang ada yang hidup di wilayah kekuasaan Cina dan juga di bawah Federasi Rusia sekarang. Sebagian kaum Muslim Asia Tengah berhasil membentuk negara merdeka berbarengan dengan pecahnya Uni Soviet: Uzbekistan dan Kyrgyzstan (masing-masing merdeka September 1991), Turkmenistan (Oktober 1991), dan Kazakhstan (Desember 1991). Namun, masih banyak kaum Muslim yang tetap berada di Asia Tengah Federasi Rusia dalam republik-republik otonom berpenduduk mayoritas Muslim, yakni Tatarstan, Chechnya, Dagestan, dan Ingushetia. Jumlah Muslim Federasi Rusia kini, menurut beberapa estimasi, sekitar 25 juta jiwa (dari total 143 juta jiwa penduduk Rusia): di Moskow terdapat kira-kira 2,5 juta–jumlah terbesar jika dibandingkan kota-kota lain di Eropa (kecuali Istanbul), Asia Tengah, dan Asia Timur.


Pada Juni lalu, atas undangan Duta Besar RI di Moskow, Hamid Awaluddin, saya mendapat kesempatan berkunjung ke Republik Tatarstan. Ditemani M Aji Surya, penjab Pensosbud KBRI Moskow, saya mengunjungi Kazan, ibu kota Republik Tatarstan. Kesan pertama, Kazan adalah sebuah ranah Muslim. Ini terlihat dari lanskap perkotaaan yang ditandai banyak masjid dan menara; terdapat lebih 1000-an masjid di Tatarstan dan terbanyak tentu saja di Kazan. Salah satu yang paling megah dan terbaru adalah Masjid Raya Kazan yang juga dikenal sebagai Masjid Qul-Syarif diresmikan pada 24 Juni 2005. Masjid ini disebut-sebut sebagai masjid terbesar di wilayah Rusia dan begitu juga di Eropa.


Kazan disebut-sebut pernah menjadi salah satu pusat keilmuan Islam di Asia Tengah, yang mulai menerima Islam sepanjang abad ke-7-9 M. Kini, Kazan berupaya membangkitkan kembali memori kolektif itu dengan mendirikan Universitas Islam Rusia (al-Jami’ah al-Islamiyah al-Rusiyah). Selain itu, terdapat lima perguruan tinggi Islam yang jauh lebih kecil dan belasan madrasah dengan berbagai tingkatannya.


Mengunjungi Universitas Islam Rusia (UIR) yang didirikan pada 1998 dengan dana IDB dan Pemerintah Tatarstan, saya menemukan universitas Islam yang masih dalam tahap awal perkembangannya. Setiap tahun, UIR menerima 140 mahasiswa S1. Wakil Rektor UIR, Suleiman Garifovich Zaripov, yang berusia 40-an tahun menjelaskan, tujuan universitas ini adalah menyediakan pendidikan tinggi Islam yang bermutu di Kazan sendiri sehingga dapat mengurangi dorongan lulusan madrasah tingkat menengah untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Mereka yang tamat dari UIR dapat diangkat langsung sebagai imam, khatib, dan guru di madrasah pada komunitas Muslim Rusia.


Ketika memberi ceramah tentang dinamika Islam kontemporer, saya merasakan antusiasme audiens yang bukan hanya mahasiswa-mahasiswi, tetapi juga kalangan masyarakat Muslim Tatarstan lainnya. Memang, tema ini kelihatannya sangat menarik bagi kaum Muslim Tatarstan, bahkan sangat boleh jadi bagi Muslimin Rusia umumnya. Hal ini tidak lain karena di tengah kembalinya Islam dalam kehidupan publik usai bubarnya Uni Soviet, berbagai kecenderungan gagasan dan gerakan Islam transnasional berusaha dengan gencar mendapatkan dukungan di Tatarstan dan komunitas-komunitas Muslim lainnya di Asia Tengah, baik yang berada dalam kekuasaan Federasi Rusia maupun Cina. Secara simplistis, rezim berkuasa menyebut gagasan dan gerakan Islam transnasional ini merupakan paham dan gerakan Wahabi, yang mereka kenal dengan sikap puritan dan radikalnya.


Dalam pengamatan, kesan dan pembicaraan saya dengan kalangan Muslim Tatarstan, seperti wakil rektor UIR dan tokoh-tokoh Muslim Tatarstan di kantor mufti Tatarstan, Islam di Tatarstan lebih menampilkan ‘Islam Jalan Tengah’. Ini terlihat jelas, misalnya, di kampus UIR yang merupakan co-ed institution–lembaga pendidikan yang menggabungkan mahasiswa dan mahasiswi. Juga, para mahasiswi dan banyak Muslimah mengenakan hijab yang bentuk dan modenya hampir sama dengan yang dipakai kaum wanita Muslim di Indonesia; hijab yang tidak berlebihan.


Dalam konteks itu, tidak heran kalau para pimpinan dan tokoh Muslim Tatarstan di kantor mufti mengungkapkan keinginan ‘belajar’ dari pengalaman kaum Muslim di Indonesia. Bagi mereka, Islam Indonesia merupakan model yang dapat dikembangkan di Tatarstan dan Rusia secara keseluruhan. Hal ini khususnya menyangkut aktivisme dan peran organisasi-organisasi Islam yang bergerak dalam banyak bidang untuk memajukan kehidupan keislaman dan kebangsaan.


Untuk itu, mereka mengharapkan peran lebih besar Indonesia dalam mendorong penguatan lembaga-lembaga Islam Tatarstan sehingga dapat lebih memberdayakan ‘Islam Jalan Tengah’ yang sedang mereka bangkitkan. Harapan ini jelas merupakan kesempatan baik bagi Indonesia–khususnya organisasi-organisasi Islam di negeri ini–untuk memainkan peran lebih besar dalam kancah dunia Islam.


Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 6 Agustus 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Muslim Tatarstan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Azyumardi Azra

Berbarengan dengan meledaknya kekerasan terhadap kaum Muslim Uighur beberapa pekan lalu, saya ditanya beberapa media cetak dan elektronik tentang mengapa kaum Muslim Indonesia bereaksi hanya secara minimal terhadap nestapa Uighur. Saya jawab, sederhananya karena kaum Muslim Indonesia umumnya tidak banyak yang tahu tentang kaum Muslim Uighur, Xinjiang, dan Asia Tengah secara keseluruhan.


Muslim Asia Tengah yang kurang dikenal di Indonesia memang ada yang hidup di wilayah kekuasaan Cina dan juga di bawah Federasi Rusia sekarang. Sebagian kaum Muslim Asia Tengah berhasil membentuk negara merdeka berbarengan dengan pecahnya Uni Soviet: Uzbekistan dan Kyrgyzstan (masing-masing merdeka September 1991), Turkmenistan (Oktober 1991), dan Kazakhstan (Desember 1991). Namun, masih banyak kaum Muslim yang tetap berada di Asia Tengah Federasi Rusia dalam republik-republik otonom berpenduduk mayoritas Muslim, yakni Tatarstan, Chechnya, Dagestan, dan Ingushetia. Jumlah Muslim Federasi Rusia kini, menurut beberapa estimasi, sekitar 25 juta jiwa (dari total 143 juta jiwa penduduk Rusia): di Moskow terdapat kira-kira 2,5 juta–jumlah terbesar jika dibandingkan kota-kota lain di Eropa (kecuali Istanbul), Asia Tengah, dan Asia Timur.


Pada Juni lalu, atas undangan Duta Besar RI di Moskow, Hamid Awaluddin, saya mendapat kesempatan berkunjung ke Republik Tatarstan. Ditemani M Aji Surya, penjab Pensosbud KBRI Moskow, saya mengunjungi Kazan, ibu kota Republik Tatarstan. Kesan pertama, Kazan adalah sebuah ranah Muslim. Ini terlihat dari lanskap perkotaaan yang ditandai banyak masjid dan menara; terdapat lebih 1000-an masjid di Tatarstan dan terbanyak tentu saja di Kazan. Salah satu yang paling megah dan terbaru adalah Masjid Raya Kazan yang juga dikenal sebagai Masjid Qul-Syarif diresmikan pada 24 Juni 2005. Masjid ini disebut-sebut sebagai masjid terbesar di wilayah Rusia dan begitu juga di Eropa.


Kazan disebut-sebut pernah menjadi salah satu pusat keilmuan Islam di Asia Tengah, yang mulai menerima Islam sepanjang abad ke-7-9 M. Kini, Kazan berupaya membangkitkan kembali memori kolektif itu dengan mendirikan Universitas Islam Rusia (al-Jami’ah al-Islamiyah al-Rusiyah). Selain itu, terdapat lima perguruan tinggi Islam yang jauh lebih kecil dan belasan madrasah dengan berbagai tingkatannya.


Mengunjungi Universitas Islam Rusia (UIR) yang didirikan pada 1998 dengan dana IDB dan Pemerintah Tatarstan, saya menemukan universitas Islam yang masih dalam tahap awal perkembangannya. Setiap tahun, UIR menerima 140 mahasiswa S1. Wakil Rektor UIR, Suleiman Garifovich Zaripov, yang berusia 40-an tahun menjelaskan, tujuan universitas ini adalah menyediakan pendidikan tinggi Islam yang bermutu di Kazan sendiri sehingga dapat mengurangi dorongan lulusan madrasah tingkat menengah untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Mereka yang tamat dari UIR dapat diangkat langsung sebagai imam, khatib, dan guru di madrasah pada komunitas Muslim Rusia.


Ketika memberi ceramah tentang dinamika Islam kontemporer, saya merasakan antusiasme audiens yang bukan hanya mahasiswa-mahasiswi, tetapi juga kalangan masyarakat Muslim Tatarstan lainnya. Memang, tema ini kelihatannya sangat menarik bagi kaum Muslim Tatarstan, bahkan sangat boleh jadi bagi Muslimin Rusia umumnya. Hal ini tidak lain karena di tengah kembalinya Islam dalam kehidupan publik usai bubarnya Uni Soviet, berbagai kecenderungan gagasan dan gerakan Islam transnasional berusaha dengan gencar mendapatkan dukungan di Tatarstan dan komunitas-komunitas Muslim lainnya di Asia Tengah, baik yang berada dalam kekuasaan Federasi Rusia maupun Cina. Secara simplistis, rezim berkuasa menyebut gagasan dan gerakan Islam transnasional ini merupakan paham dan gerakan Wahabi, yang mereka kenal dengan sikap puritan dan radikalnya.


Dalam pengamatan, kesan dan pembicaraan saya dengan kalangan Muslim Tatarstan, seperti wakil rektor UIR dan tokoh-tokoh Muslim Tatarstan di kantor mufti Tatarstan, Islam di Tatarstan lebih menampilkan ‘Islam Jalan Tengah’. Ini terlihat jelas, misalnya, di kampus UIR yang merupakan co-ed institution–lembaga pendidikan yang menggabungkan mahasiswa dan mahasiswi. Juga, para mahasiswi dan banyak Muslimah mengenakan hijab yang bentuk dan modenya hampir sama dengan yang dipakai kaum wanita Muslim di Indonesia; hijab yang tidak berlebihan.


Dalam konteks itu, tidak heran kalau para pimpinan dan tokoh Muslim Tatarstan di kantor mufti mengungkapkan keinginan ‘belajar’ dari pengalaman kaum Muslim di Indonesia. Bagi mereka, Islam Indonesia merupakan model yang dapat dikembangkan di Tatarstan dan Rusia secara keseluruhan. Hal ini khususnya menyangkut aktivisme dan peran organisasi-organisasi Islam yang bergerak dalam banyak bidang untuk memajukan kehidupan keislaman dan kebangsaan.


Untuk itu, mereka mengharapkan peran lebih besar Indonesia dalam mendorong penguatan lembaga-lembaga Islam Tatarstan sehingga dapat lebih memberdayakan ‘Islam Jalan Tengah’ yang sedang mereka bangkitkan. Harapan ini jelas merupakan kesempatan baik bagi Indonesia–khususnya organisasi-organisasi Islam di negeri ini–untuk memainkan peran lebih besar dalam kancah dunia Islam.


Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 6 Agustus 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta