Museum Tsunami Aceh, Pentingkah?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Normal 0 false false false EN-US X-NONE AR-SA MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Penulis: Elly Afriani

 

Gedung PBB, UINJKT Online — Museum Tsunami yang dibangun di Aceh, pada awalnya bertujuan untuk mengenang tragedi tsunami Desember 2004. Namun, banyak penolakan dari warga Aceh sendiri. Ini disebabkan banyaknya dana yang dihabiskan hanya untuk membuat sebuah museum.

 

“Rakyat Aceh lebih membutuhkan bantuan berupa lembaga pendidikan, pembangunan fasilitas umum, program pemberdayaan masyarakat. Ini terbukti dengan demonstrasi yang dilakukan masyarakat,” ungkap Antropolog dan Pakar Museum Jonathan Zilberg PhD dalam diskusi dengan topik, ”Memorials, state domination and inclusion versus exclusion in the case of the tsunami museum in banda aceh: toward a re-assessment in light of the BRR community participation document”, di Gedung Pusat Bahasa dan Budaya (PBB) UIN Jakarta, Kamis (18/6).

 

Lebih lanjut Jonathan mengungkapkan, dana $7,5 juta jumlah yang sangat besar, tapi kenyataan museum tidak beroperasi dengan baik dan tak didukung masyarakat merupakan sesuatu yang menyedihkan.

 

Museum merupakan gedung fenomenal yang harus dijaga dan dirawat karena dapat mengingat sejarah yang telah lewat.

 

“Harus ada manajemen, operasional, SDM, program dan partisipasi agar museum dapat berjalan sesuai fungsinya. Jangan sampai hanya meriah saat dibuka tapi keesokannya tak ada pengunjung karena tidak ada isinya dan tidak menarik,” kritik Jonathan. []

Museum Tsunami Aceh, Pentingkah?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Normal 0 false false false EN-US X-NONE AR-SA MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Penulis: Elly Afriani

 

Gedung PBB, UINJKT Online — Museum Tsunami yang dibangun di Aceh, pada awalnya bertujuan untuk mengenang tragedi tsunami Desember 2004. Namun, banyak penolakan dari warga Aceh sendiri. Ini disebabkan banyaknya dana yang dihabiskan hanya untuk membuat sebuah museum.

 

“Rakyat Aceh lebih membutuhkan bantuan berupa lembaga pendidikan, pembangunan fasilitas umum, program pemberdayaan masyarakat. Ini terbukti dengan demonstrasi yang dilakukan masyarakat,” ungkap Antropolog dan Pakar Museum Jonathan Zilberg PhD dalam diskusi dengan topik, ”Memorials, state domination and inclusion versus exclusion in the case of the tsunami museum in banda aceh: toward a re-assessment in light of the BRR community participation document”, di Gedung Pusat Bahasa dan Budaya (PBB) UIN Jakarta, Kamis (18/6).

 

Lebih lanjut Jonathan mengungkapkan, dana $7,5 juta jumlah yang sangat besar, tapi kenyataan museum tidak beroperasi dengan baik dan tak didukung masyarakat merupakan sesuatu yang menyedihkan.

 

Museum merupakan gedung fenomenal yang harus dijaga dan dirawat karena dapat mengingat sejarah yang telah lewat.

 

“Harus ada manajemen, operasional, SDM, program dan partisipasi agar museum dapat berjalan sesuai fungsinya. Jangan sampai hanya meriah saat dibuka tapi keesokannya tak ada pengunjung karena tidak ada isinya dan tidak menarik,” kritik Jonathan. []