Murid-Murid: Harun Nasution Sosok Tak Tergantikan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Diskusi Refleksi Pemikiran dan Kontribusi Pemikiran Alm. Prof Dr Harun Nasution di Indonesia, Jum'at (21/08/2015).

Diskusi Refleksi Pemikiran dan Kontribusi Pemikiran Alm. Prof Dr Harun Nasution di Indonesia, Jum’at (21/08/2015).

Rg. Diorama, BERITA UIN Online– Almarhum Prof Dr Harun Nasution menjadi sosok tak tergantikan dalam kapasitasnya sebagai pendidik, pemikir, maupun individu. Komitmen keilmuan dan keislamannya diharap bisa terus dirawat dan dipraktekan civitas academica UIN Jakarta, para murid, maupun pembaca pemikirannya.
Demikian kesimpulan diskusi Refleksi Pemikiran dan Kontribusi Harun Nasution di Indonesia di Ruang Diorama, Jumat (21/08/2015). Diskusi digelar menyusul pemberian Bintang Mahaputera Utama dari Presiden RI Ir H. Joko Widodo kepada Almarhum Prof Harun sebagai tokoh Pengembang Budaya Moderat.
Hadir sebagai narasumber para murid almarhum, yakni Prof Dr H Abdul Gani Abdullah SH, Prof Dr Thib Raya MA, Prof Dr Zainun Kamaluddin Fakih MA, Prof Dr Suwito MA, Prof Dr M Ridwan Lubis MA, Dr Arief Subhan MA, dan Dr Fachry Ali MA. Diskusi dimoderatori Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof Dr Yusron Razak MA.
Menurut Zainun, Harun dengan pemikirannya telah menempatkannya sebagai intelektual dengan pengaruh cukup mendalam. Ia mengubah paradigma pemikiran Islam yang cenderung dogmatik menjadi rasional dan moderat. Salahsatunya yaitu pemaknaan Islam secara luas dan tidak sempit. “Dalam konteks kini, definisinya pluralistik. Ini membuatnya menjadi sosok yang sulit tergantikan,” ungkapnya.
Kuatnya sisi intelektualitas Harun diakui Thib Raya. Sebagai murid yang diajar langsung dalam waktu relatif lama, Harun menunjukkan kapasitas penguasaannya yang luar biasa. Ketika berbicara sejarah, misalnya, Harun muncul sebagai sosok ahli sejarah. Begitu juga saat mengajar tasawuf, ia tampil bak seorang sufi dan ahli tasawuf.
“Pun saat mengajar mata kuliah Pemikiran Islam, Harun faham betul lika-liku sejarah maupun pemikiran dua kelompok besar pemikiran Islam, qadariyah maupun jabariyah,” tandasnya.
Sedangkan dalam analisis Ridwan, kuatnya pengaruh Harun dalam peta keilmuan dan keislaman di Indonesia turut dipengaruhi penyebaran para muridnya yang berkiprah penting pada hampir seluruh perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia.
“(Ia, red.) semasa hayatnya telah memberikan pelajaran berharga kepada hampir semua generasi muda yang berkiprah di lembaga pendidikan tinggi keislaman baik mereka yang menjadi unsur pimpinan, dosen, alumni, maupun mahasiswa,” paparnya.
Diketahui, Presiden RI Ir H Joko Widodo menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama kepada almarhum Prof Dr Harun Nasution sebagai tokoh Pengembang Budaya Moderat. Penghargaan kategori Bintang Mahaputera Utama sesuai Keputusan Presiden RI Nomor 83/TK/Tahun 2015 tanggal 7 Agustus 2015 tentang Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputradiberikan kepada 17 tokoh lain seperti Franz Magnis Suseno dan Buya Syafi’i Ma’arif. (zm)