Mulyadhi Kartanegara: Integrasi Ilmu Tak Sekadar Menyatukan Ilmu Sekuler dan Agama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Abdullah Suntani

Auditorium, UIN Online – Guru besar filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Prof Dr Mulyadhi Kartanegara mengatakan, integrasi keilmuan antara ilmu pengetahuan barat modern dengan ilmu pengetahuan agama tidak bisa dicapai hanya dengan menyatukan dua kelompok ilmu (sekuler dan agama). Sebab, keduanya memiliki perbedaan basis teori.

Pernyataan itu disampaikan Mulyadhi dalam Seminar Nasional bertema Integrasi Keilmuan di Lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang berlangsung di Auditorium Utama, Rabu (5/5). Acara tersebut merupakan  rangkaian  dari  Milad Fakutas Syariah dan Hukum (FSH) ke-43.

Turut hadir dalan acara itu Dekan FSH Prof Dr Amin Suma, Deputi Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) Bidang Akademik dan Kerjasama Dr Fuad Jabali MA, sejumlah dekan di lingkungan UIN Jakarta diantaranya, Prof Dr M K Tajudin dari Fakultas Ilmu Kesehatan dan Ilmu Kedokteran (FKIK), Prof Dr Abdul Wahib Hasim dari Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), dan Dr Arif Subhan dari Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidkom).

Untuk mengintegrasikan ilmu sekuler dan agama, lanjut Mulyadhi, keduanya harus diangkat ke tingkat epistemologis. Untuk mencapai tingkat ini, integrasi harus berurusan dengan beberapa aspek atau tingkatan: ontologis, epistemologis, dan metodologis.

“Sebagaimana diketahui, ilmu pengetahuan modern Barat melemahkan status ilmiah ilmu pengetahuan agama. Ketika berhadapan dengan benda-benda metafisik, ilmuwan modern mengkritik tidak ilmiah terhadap ilmu agama, karena ilmu dapat dianggap sebagai ilmiah hanya jika objeknya dapat diempiriskan,” katanya.

Tidak hanya itu, Mulyadhi menjelaskan, di dunia Muslim, dikotomi pengetahuan, juga menyebabkan beberapa Muslim menganggap ilmu sekuler sebagai bid’ah (sesat) atau bahkan haram, karena orang-orang tak beragama (kafir) yang menciptakannya.

“Permasalahan  dikotomi inilah yang menciptakan disintegrasi pada tingkat klasifikasi pengetahuan, oleh karena itu, kita harus serius membangun dan menciptakan integrasi holistik dan sistematis agar integrasi antara ilmu-ilmu dapat tercipta,” ujarnya.

Pandangan dikotomi itu, lanjutnya, telah menciptakan penyimpangan pandangan tentang sumber pengetahuan. Para pendukung ilmu-ilmu agama hanya mengakui keabsahan sumber ilahi, seperti kitab dan tradisi Nabi (hadits).
Sebaliknya, para ilmuwan sekuler berlaku hanya mempertimbangkan informasi yang diperoleh dari persepsi akal atau dunia empiris.

Menurut Mulyadhi dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan sekuler itulah yang melahirkan permasalahan, yaitu disintegrasi terhadap klasifikasi pengetahuan. “Karena itu kita harus mengetahui pengetahuan secara luas tidak terbatas pada satu bidang, namun mampu mengetahui terhadap pengetahuan kekinian (modern) tanpa meninggalkan konteks lokal dan nilai ketuhanan,” tambahnya. []

Mulyadhi Kartanegara: Integrasi Ilmu Tak Sekadar Menyatukan Ilmu Sekuler dan Agama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Abdullah Suntani

Auditorium, UIN Online – Guru besar filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Prof Dr Mulyadhi Kartanegara mengatakan, integrasi keilmuan antara ilmu pengetahuan barat modern dengan ilmu pengetahuan agama tidak bisa dicapai hanya dengan menyatukan dua kelompok ilmu (sekuler dan agama). Sebab, keduanya memiliki perbedaan basis teori.

Pernyataan itu disampaikan Mulyadhi dalam Seminar Nasional bertema Integrasi Keilmuan di Lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang berlangsung di Auditorium Utama, Rabu (5/5). Acara tersebut merupakan  rangkaian  dari  Milad Fakutas Syariah dan Hukum (FSH) ke-43.

Turut hadir dalan acara itu Dekan FSH Prof Dr Amin Suma, Deputi Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) Bidang Akademik dan Kerjasama Dr Fuad Jabali MA, sejumlah dekan di lingkungan UIN Jakarta diantaranya, Prof Dr M K Tajudin dari Fakultas Ilmu Kesehatan dan Ilmu Kedokteran (FKIK), Prof Dr Abdul Wahib Hasim dari Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), dan Dr Arif Subhan dari Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidkom).

Untuk mengintegrasikan ilmu sekuler dan agama, lanjut Mulyadhi, keduanya harus diangkat ke tingkat epistemologis. Untuk mencapai tingkat ini, integrasi harus berurusan dengan beberapa aspek atau tingkatan: ontologis, epistemologis, dan metodologis.

“Sebagaimana diketahui, ilmu pengetahuan modern Barat melemahkan status ilmiah ilmu pengetahuan agama. Ketika berhadapan dengan benda-benda metafisik, ilmuwan modern mengkritik tidak ilmiah terhadap ilmu agama, karena ilmu dapat dianggap sebagai ilmiah hanya jika objeknya dapat diempiriskan,” katanya.

Tidak hanya itu, Mulyadhi menjelaskan, di dunia Muslim, dikotomi pengetahuan, juga menyebabkan beberapa Muslim menganggap ilmu sekuler sebagai bid’ah (sesat) atau bahkan haram, karena orang-orang tak beragama (kafir) yang menciptakannya.

“Permasalahan  dikotomi inilah yang menciptakan disintegrasi pada tingkat klasifikasi pengetahuan, oleh karena itu, kita harus serius membangun dan menciptakan integrasi holistik dan sistematis agar integrasi antara ilmu-ilmu dapat tercipta,” ujarnya.

Pandangan dikotomi itu, lanjutnya, telah menciptakan penyimpangan pandangan tentang sumber pengetahuan. Para pendukung ilmu-ilmu agama hanya mengakui keabsahan sumber ilahi, seperti kitab dan tradisi Nabi (hadits).
Sebaliknya, para ilmuwan sekuler berlaku hanya mempertimbangkan informasi yang diperoleh dari persepsi akal atau dunia empiris.

Menurut Mulyadhi dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan sekuler itulah yang melahirkan permasalahan, yaitu disintegrasi terhadap klasifikasi pengetahuan. “Karena itu kita harus mengetahui pengetahuan secara luas tidak terbatas pada satu bidang, namun mampu mengetahui terhadap pengetahuan kekinian (modern) tanpa meninggalkan konteks lokal dan nilai ketuhanan,” tambahnya. []