Mujar: Jadikan Puasa Momentum Perbaikan Akhlak

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Luthfi Destianto


Masjid Al-Jami’ah, UIN Online – Ramadhan merupakan bulan suci yang ditunggu umat Muslim se-dunia. Ramadhan seharusnya dijadikan momentum bagi umat Muslim untuk menjaga diri dari hawa nafsu. Bukan hanya menjaga dari lapar dan dahaga, namun juga menjaga panca indera dan hati agar tetap berpuasa.


“Puasa haruslah dijadikan momentum untuk memperbaiki akhlak dengan membersihkan hati, jiwa dan raga sekaligus” ujar Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Dr Mujar Ibnu Syarif, mewakili Rektor UIN Prof Dr Komarudin Hidayat yang berhalangan hadir dalam ceramah Ramadhan bertema “Puasa Sebagai Introspeksi Diri” yang diadakan di Masjid Al-Jamiah UIN, Senin (24/8).


Dalam ceramahnya, penulis buku “Presiden Non-Muslim di Negara  Muslim: Tinjauan dari Perspektif Politik Islam dan Relevansinya dalam Konteks Indonesia” ini bertanya kepada sejumlah jamaah yang hadir “Seberapa besar umur yang dipakai untuk beribadah kepada Allah SWT dibanding dengan aktivitas diluar ibadah?,” tanyanya.


Mujar, begitu ia akrab disapa mengatakan, meskipun sudah berpuluh tahun berpuasa, kebanyakan orang belum menemukan hakekat puasa. “Jangan disalahartikan. Saat puasa kelihatan begitu taat, namun setelahnya sifat “aslinya” muncul,” ujarnya.


Justru, lanjutnya, beribadah di bulan suci Ramadhan haruslah dijadikan awal untuk melakukan perbaikan akhak pada sebelas bulan berikutnya. “Kita harus introspeksi diri, apakah tahun sebelumnya akhlak kita sudah baik atau mengendur. Setelah puasa ini berakhir, mari kita sama-sama menjadi hamba Allah yang semakin taat,” ajaknya.[]

 

Mujar: Jadikan Puasa Momentum Perbaikan Akhlak

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Luthfi Destianto


Masjid Al-Jami’ah, UIN Online – Ramadhan merupakan bulan suci yang ditunggu umat Muslim se-dunia. Ramadhan seharusnya dijadikan momentum bagi umat Muslim untuk menjaga diri dari hawa nafsu. Bukan hanya menjaga dari lapar dan dahaga, namun juga menjaga panca indera dan hati agar tetap berpuasa.


“Puasa haruslah dijadikan momentum untuk memperbaiki akhlak dengan membersihkan hati, jiwa dan raga sekaligus” ujar Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Dr Mujar Ibnu Syarif, mewakili Rektor UIN Prof Dr Komarudin Hidayat yang berhalangan hadir dalam ceramah Ramadhan bertema “Puasa Sebagai Introspeksi Diri” yang diadakan di Masjid Al-Jamiah UIN, Senin (24/8).


Dalam ceramahnya, penulis buku “Presiden Non-Muslim di Negara  Muslim: Tinjauan dari Perspektif Politik Islam dan Relevansinya dalam Konteks Indonesia” ini bertanya kepada sejumlah jamaah yang hadir “Seberapa besar umur yang dipakai untuk beribadah kepada Allah SWT dibanding dengan aktivitas diluar ibadah?,” tanyanya.


Mujar, begitu ia akrab disapa mengatakan, meskipun sudah berpuluh tahun berpuasa, kebanyakan orang belum menemukan hakekat puasa. “Jangan disalahartikan. Saat puasa kelihatan begitu taat, namun setelahnya sifat “aslinya” muncul,” ujarnya.


Justru, lanjutnya, beribadah di bulan suci Ramadhan haruslah dijadikan awal untuk melakukan perbaikan akhak pada sebelas bulan berikutnya. “Kita harus introspeksi diri, apakah tahun sebelumnya akhlak kita sudah baik atau mengendur. Setelah puasa ini berakhir, mari kita sama-sama menjadi hamba Allah yang semakin taat,” ajaknya.[]