Muhbib: Hadapi Penyakit dengan Sabar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah Farihin

 

Student Center, UINJKT Online – Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Dr Muhbib Abdul Wahab mengatakan, penyakit merupakan alat yang diciptakan Allah Swt untuk menguji kesabaran manusia. Seseorang yang diberikan penyakit berarti mendapatkan kasih saying Allah Swt, karena itu semestinya manusia bersabar dalam menghadapi penyakit yang dideritanya.

 

Hal itu ditegaskan Muhbib dalam Bedah Buku Risalah Bala karangan Bediuzzaman Said Nursi, dengan tema Health Service With Spiritual Method In Globalization Age yang digelar BEM Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) bekerjasama dengan Yayasan Nur Semesta Ciputat Tangerang.

 

Menurut Muhbib, sebenarnya setiap penyakit sudah ada resep obat spiritualnya yang telah diramu dari ayat al-Quran,  hadits Nabi, pengalaman spiritual para Nabi dan orang-orang shalih, hanya manusia harus mencarinya dan berdoa.

 

Bila manusia sudah bersabar, namun belum diberikan kesembuhan, maka manusia harus meningkatkan ihtiar baik dengan bantuan dokter atau ulama maupun berdoa pada Allah Swt agar diberikan kesembuhan. Sebab, semua penyakit datangnya dari Allah dan yang menyembuhkan juga hanya Allah.

 

“Dokter, para ulama tabib, obat-obatan dan media lainnya hanyalah media namun yang menyembuhkan tetap hanya Allah semata,” katanya. Manusia juga di saat diberikannya penyakit diupayakan menjadikannya modal hidup untuk berintrospeksi diri, menjernihkan pikiran, dan memperoleh ketenangan jiwa. Karena datangnya penyakit merupakan teguran dari Allah agar lebih mendekatkan diri padaNya dan juga sebagai cobaan hidup apakah bisa bersabar atau tidak, karena pemberian penyakit merupakan siksaan dunia agar berkurang saat penyiksaan di akhirat kelak.

 

“Kita semua adalah milik Allah. Ketika diuji sakit, maka serahkanlah dirimu kepada Allah dengan tidak mengeluh dan berkecil hati. Berzikir dan berdoalah kepada Allah selalu, karena dapat menenangkan hati,”tuturnya.

 

Pahamilah bahwa derita sakit yang dialami sebagian manusia merupakan kemurahan, hadiah, anugerah Allah. Karena itu, hadapilah rasa sakit dengan berbaik sangka kepada Allah, dan yakinlah bahwa jika Allah menghendaki kebaikan pada seseseorang, nicaya Allah akan memberinya cobaan.

 

“Melalui derita sakit Said Nursi mengajak untuk meninggalkan sifat sombong, mengetahui sifat kelemahan diri kita dan mengenali pemilik diri kita,” ucapnya.

 

Hadir dalam kesempatan bedah buku ini dosen FKIK Tien Gartinah MN. Ia memberikan wacana dari sisi keperawatan. Menurutnya keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan yang berbentuk pelayanan biopsikososio spiritual yang komprehensif, ditujukan pada manusia.

 

“Cara pelayanan keperawatan bisa berupa bantuan, yang diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan dan kurangnya kemauan menuju kepada kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri,” paparnya. [Nif/Ed]

Muhbib: Hadapi Penyakit dengan Sabar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah Farihin

 

Student Center, UINJKT Online – Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Dr Muhbib Abdul Wahab mengatakan, penyakit merupakan alat yang diciptakan Allah Swt untuk menguji kesabaran manusia. Seseorang yang diberikan penyakit berarti mendapatkan kasih saying Allah Swt, karena itu semestinya manusia bersabar dalam menghadapi penyakit yang dideritanya.

 

Hal itu ditegaskan Muhbib dalam Bedah Buku Risalah Bala karangan Bediuzzaman Said Nursi, dengan tema Health Service With Spiritual Method In Globalization Age yang digelar BEM Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) bekerjasama dengan Yayasan Nur Semesta Ciputat Tangerang.

 

Menurut Muhbib, sebenarnya setiap penyakit sudah ada resep obat spiritualnya yang telah diramu dari ayat al-Quran,  hadits Nabi, pengalaman spiritual para Nabi dan orang-orang shalih, hanya manusia harus mencarinya dan berdoa.

 

Bila manusia sudah bersabar, namun belum diberikan kesembuhan, maka manusia harus meningkatkan ihtiar baik dengan bantuan dokter atau ulama maupun berdoa pada Allah Swt agar diberikan kesembuhan. Sebab, semua penyakit datangnya dari Allah dan yang menyembuhkan juga hanya Allah.

 

“Dokter, para ulama tabib, obat-obatan dan media lainnya hanyalah media namun yang menyembuhkan tetap hanya Allah semata,” katanya. Manusia juga di saat diberikannya penyakit diupayakan menjadikannya modal hidup untuk berintrospeksi diri, menjernihkan pikiran, dan memperoleh ketenangan jiwa. Karena datangnya penyakit merupakan teguran dari Allah agar lebih mendekatkan diri padaNya dan juga sebagai cobaan hidup apakah bisa bersabar atau tidak, karena pemberian penyakit merupakan siksaan dunia agar berkurang saat penyiksaan di akhirat kelak.

 

“Kita semua adalah milik Allah. Ketika diuji sakit, maka serahkanlah dirimu kepada Allah dengan tidak mengeluh dan berkecil hati. Berzikir dan berdoalah kepada Allah selalu, karena dapat menenangkan hati,”tuturnya.

 

Pahamilah bahwa derita sakit yang dialami sebagian manusia merupakan kemurahan, hadiah, anugerah Allah. Karena itu, hadapilah rasa sakit dengan berbaik sangka kepada Allah, dan yakinlah bahwa jika Allah menghendaki kebaikan pada seseseorang, nicaya Allah akan memberinya cobaan.

 

“Melalui derita sakit Said Nursi mengajak untuk meninggalkan sifat sombong, mengetahui sifat kelemahan diri kita dan mengenali pemilik diri kita,” ucapnya.

 

Hadir dalam kesempatan bedah buku ini dosen FKIK Tien Gartinah MN. Ia memberikan wacana dari sisi keperawatan. Menurutnya keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan yang berbentuk pelayanan biopsikososio spiritual yang komprehensif, ditujukan pada manusia.

 

“Cara pelayanan keperawatan bisa berupa bantuan, yang diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan dan kurangnya kemauan menuju kepada kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri,” paparnya. [Nif/Ed]